SKRIPSI | Makna dan Nilai Nuba Nara Dalam Budaya Orang Lewoloba Di Flores Timur


	 SKRIPSI | Makna dan Nilai Nuba Nara Dalam Budaya Orang Lewoloba Di Flores Timur

MAKNA DAN NILAI NUBA NARA DALAM BUDAYA ORANG

LEWOLOBA DI FLORES TIMUR

 SKRIPSI



Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah


OLEH
OKTAVIANUS PETRUS BOLI ASSAN
NIM: 1301092052



 


JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2017
 


BAB I
PENDAHULUAN
Bagian Pendahuluan ini terdiri atas beberapa sub bab antara lain latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, dan metode penelitian. Pada bagian latar belakang akan dipaparkan konsep ideal yang dihadapkan pada realita yang berkembang sebagai landasan penulis dalam memilih judul tulisan tersebut. Persoalan-persoalan yang diuraikan pada latar belakang, kemudian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan pada sub bab rumusan masalah. Tujuan penelitian merupakan uraian deskriptif atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan. Berkaitan dengan kegunaan penelitian, akan dipaparkan sejumlah manfaat dari penelitian tersebut. Pada sub bab tinjauan pustaka, diuraikan pelbagai teori-teori dasar yang memiliki korelasi dengan bidang kajian dalam tulisan tersebut. Dalam sub bab terakhir, yaitu sub bab metode penelitian, berisi penjelasan mengenai metode yang dipakai penulis dalam melakukan penelitian tersebut.

A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang dikenal akan keanekaragaman budayanya. Keanekaragaman budaya tersebut terlihat hampir pada semua daerah yang ada di Indonesia. Perbedaan kebudayaan tersebut dilatar belakangi oleh adanya perbedaan kondisi alam, baik letak geografis, dan astronomis masing-masing daerah. Hal ini ditunjang juga karena Indonesia terdiri atas pulau-pulau yang sangat banyak. Di dalamnya terdapat berbagai suku bangsa, adat istiadat, dan budaya yang selalu menyertai perkembangan manusia. segala cipta manusia sesungguhnya hanyalah hasil usaha untuk mengubah dan memberi bentuk susunan baru sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Kehidupan manusia di dunia ini tidak terlepas dari kebudayan dan jika kehidupan manusia lenyap maka dengan sendirinya kebudayaan juga akan lenyap. Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh nenek moyang. Pada masyarakat NTT khususnya masih sangat nampak budaya-budaya dan kebiasaan-kebiasaan lama yang masih terjaga dan dapat disaksikan sampai saat ini. Meskipun dengan arus globalisasi yang semakin deras masuk, namun di beberapa daerah masih terlihat kearifan lokal yang telah menjadi pedoman hidup bagi masyarakat tersebut.
Mempelajari kebudayaan berarti memahami kenyataan hidup suatu masyarakat dimana kebudayaan masyarakat merupakan hasil berpikir, bertindak, dan hasil karya dalam kehidupan masyarakat adalah pencipta dan pendukung kebudayaan tersebut. Kebudayaan juga merupakan sebuah pewarisan dari nenek moyang sejak dahulu kala kepada generasi secara turun-temurun dari masa ke masa untuk dilestarikan dan dikembangkan. Selain itu kebudayaan juga merupakan suatu pandangan hidup masyarakat. Kebudayaan suatu daerah tentu tidak terlepas dari asal mula kebudayaan itu pada masa lampau. Semua tradisi dan unsur budaya yang mampu melawan jaman akan berkembang mengiringi waktu. Hal ini dipertahankan sebagai salah satu norma kehidupan yang berperan mengarahkan, merubah kebiasaan, dan menentukan keberadaan dalam lingkungannya.
Lewoloba merupakan salah satu desa yang letaknya di daratan Flores, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari segi kultural, Lewoloba menjadi bagian dari etnis Lamaholot yang meliputi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Masyarakat memiliki adat dan budaya yang beragam dan berbeda dari daerah lainnya yang perlu diwariskan khususnya hubungan secara vertikal antara masyarakat Desa Lewoloba, Leluhur (kwokot) dan lera wulan tana ekan (wujud tertinggi).
Nuba Nara dalam kepercayaan asli masyarakat suku bangsa Lamaholot terkhususnya orang Lewoloba, dianggap sebagai simbol dari Wujud Tertinggi yang akrab disapa dengan Lera Wulan Tana Ekan. Nuba Nara diyakini sebagai tempat istirahat Lera Wulan Tana Ekan maka berbagai ritus adat dilaksanakan di Nuba Nara. Nuba Nara bukan hanya sebuah tiang batu yang tertancap keatas langit, tetapi ia melampaui benda-benda mati yang artinya memiliki suatu kekuatan magis, Nuba Nara adalah Lera Wulan Tana Ekan (wujud tertinggi), Nuba Nara adalah Koda (Sabda) dan Nuba Nara adalah Roh yang diam dan hidup dalam dunia masyarakat Lamaholot khususnya orang Lewoloba di Flores Timur.
Nuba Nara dianggap sebagai tempat yang sacral dalam budaya masyarakat suku bangsa Lamaholot yang Letaknya berada di luar rumah adat Korke (Koke Bale), dalam hal ini pemujaan yang dilakukan di Nuba Nara memiliki suatu nilai dan makna terhadap kehidupan orang Lewoloba di Flores Timur. Nuba Nara berasal dari kata tubak dan tarak, tubak artinya jatuh  dari atas, dan tarak artinya tertikam mengarah dari tempat datangnya  atau dari arah datangnya kejatuhan. Di sini dapat dimengerti bahwa arah datang atau kejatuhannya adalah langit atau surga, sedangkan tempat jatuhnya adalah bumi atau dunia. Nuba adalah surga yang menjatuhkan diri turun ke  dunia dan nara adalah surga yang tinggal tertanam dalam dunia dan menjadi satu dengan dunia: Nuba Lera Wulan dan Nara Tana Ekan. Nuba Nara juga mengungkapkan ketakterpisahkan antara surga dan bumi yang merupakan kepercayaan dan landasan atau dasar kehidupan dari orang Lewoloba di Flores Timur. Dalam kebudayaan orang Lewoloba Nuba Nara diartikan sebagai batu keramat, batu mezba atau sebuah batu yang memiliki kekuatan magic dimana fungsinya sebagai pelindung dan sumber kekuatan dalam mensejahterakan orang Lewoloba di Flores Timur. Selain itu nuba nara juga merupakan penghubung antara surga dan bumi serta sebagai tempat persembahan kepada Lera Wulan Tana Ekan dan para leluhur (Kwokot). Hubungan ini bersifat kekal atau sebuah hubungan yang tak mungkin terpisahkan dalam kehidupan orang Lewoloba di Flores Timur, karena itu semua permohonan dan harapan masyarakat disampaikan lewat perantara sebuah batu nuba nara.
Dengan demikian  karena Nuba Nara sendiri memiliki arti serta makna dan nilai yang sebagai pedoman bagi perkembangan kebudayaan di masa yang akan datang. Apalagi jika dilihat pada masa yang sekarang orang Lewoloba tentunya sebagai generasi penerus dalam kehidupan selanjutnya banyak yang kurang memahami tentang arti dan makna yang terkandung dalam Nuba Nara  di tengah arus globalisasi budaya. Dengan melihat persoalan tersebut, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian sebagai upaya untuk mempertahankan dan melestarikan warisan budaya dengan judul, Makna dan Nilai Nuba Nara Dalam Budaya Orang Lewoloba Di Flores Timur.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimanakah asal-usul nuba nara  yang ada di Desa Lewoloba?
2.      Apa makna dan nilai nuba nara dalam budaya Orang Lewoloba di Flores Timur?
3.      Bagaimana Hubungan antara Nuba Nara, leluhur (kwokot) dan Lera Wulan Tanah Ekan dalam budaya orang Lewoloba?
C.    Tujuan dan Kegunaan
Pada bagian ini diuraikan tujuan dan kegunaan  yang terkait dengan rumusan masalah antara lain:
1.      Tujuan
Berdasarkan uraian  latar belakang di atas maka, yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
a.       Untuk mengetahui asal-usul nuba nara di Desa Lewoloba.
b.      Untuk mengetahui makna dan nilai nuba nara dalam budaya orang Lewoloba di Flores Timur.
c.       Untuk mengetahui Hubungan antara Nuba Nara, leluhur (kwokot) dan Lera Wulan Tanah Ekan dalam budaya orang Lewoloba
2.      Kegunaan
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dipaparkan di atas maka kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Sebagai bahan informasi sejarah dan budaya bagi masyarakat setempat khususnya masyarakat Desa Lewoloba dan bagi masyarakat luas di Indonesia pada umumnya.
b.      Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang akan meneliti tentang nuba nara.
c.       Untuk mengangkat pengetahuan berkaitan dengan nuba nara dalam budaya orang Lewoloba sebagai pengetahuan budaya lokal yang perlu diketahui dan dipelajari.
d.      Sebagai bahan penunjang pembelajaran muatan lokal di sekolah berkaitan dengan nuba nara.
D.    Tinjauan Pustaka
Pada bagian tinjauan pustaka ini dijelaskan beberapa konsep yang terkait dengan masalah penelitian yaitu: kebudayaan, Lamaholot, makna, nilai, upacara,  masyarakat.
1.        Kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat (2009:146), kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, buddayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan berarti hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal atau gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya.
Menurut Soekmono (1973) kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang memiliki akal untuk menciptakan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani maupun rohani. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1990:9) kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar dari hasil budi dan karya itu. Selanjutnya, Koentjaraningrat (2009:164) berpendapat bahwa ada tujuh unsur kebudayaan di dunia. Unsur-unsur universal tersebut adalah sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan orgnisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian serta teknologi dan peralatan. Kebudaayan universal ini mencakup seluruh kebudayaan serta isi dan konsepnya. Dengan adanya unsur-unsur di atas maka pengembangan budaya akan lebih mudah dilaksanakan oleh masyarakat dan masyarakat dapat mempertahankan budaya yang mereka miliki.
Berbicara tentang suatu kebudayaan daerah maka tidak terlepas dari perkembangan budaya masa lalu. Sebab semua unsur budaya yang tumbuh dan berkembang pada masa sekarang melewati suatu proses sejarah yang cukup panjang yang berlaku pada suatu tatanan kehidupan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Secara umum Provinsi NTT memiliki begitu banyak keragaman budaya sebagai akibat dari keanekaragaman masyarakat pendukungnya.
Gazalba (1981:147) menyatakan bahwa karena kehidupan kebudayaan berlangsung dalam waktu, maka ia mempertahankan diri melalui tradisi atau kebiasaan yaitu dengan mewariskan unsur-unsutnya dari generasi ke generasi baik dalam bentuk yang asli maupun dalam bentuk yang sudah berubah karena terjadi proses perkembangan.
Taylor E.B. dan Kuswanto (1989: 41) mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, dan adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat dan kebudayaan ini mengisyaratkan bahwa adat merupakan unsur budaya yang bermanfaat mengikat bagi manusia dalam kebudayaan sosial.
Harjono (1979 : 50) menegaskan bahwa untuk memahami kebudayaan yang sedalam-dalamnya, maka kita harus mengetahui dengan seksama seluk beluk masyarakat. Sebaliknya untuk memahami dan mendapatkan wawasan yang luas tentang masyarakat, maka harus memahami kebutuhan manusia tetapi juga merupakan proses humanisasi. Tiap masyarakat konsekuensi adanya keragaman kebudayaan namun ada juga kesamaan. 
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan suatu ide atau gagasan yan terdapat dalam pikiran manusia yang mencerminkan peradabannya dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat abstrak. Perwujudan kebudayaan itu sendiri berupa benda-benda yang dihasilkan serta berupa pola perilaku yang bersifat nyata yang ditunjukkan untuk membantu melangsungkan kehidupan manusia dalam berbudaya. Sehingga dalam melestarikan kebudayaan itu dapat dilakukan secara turun-temurun.
2.        Makna
             Manusia sebagai makhluk yang mengenal simbol, menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan siapa dirinya. Simbol-simbol tersebut tidak memadai dalam mengungkapkan makna yang ingin disampaikan, hal itu karena mereka merupakan bagian dari dinamis, ciri yang merubah dan hidup dari kesadaran manusia. Simbol-simbol tersebut bukan hanya bentuk luar yang menyembunyikan realitas religious yang lebih nyata melainkan sungguh-sungguh merupakan kekuatan nyata lewat makna manusia menjumpai yang suci (Dhavamony, 1995:165).
Makna sebagai pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman presepsi atau perilaku dalam arti kesepadanan dan ketidaksepadanan anatara bahasa dan luar bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya (Kridalaksana, 2008:148).
Makna adalah kerangka sikap antologis manusia yang menghasilkan pengetahuan yaitu manusia yang merenungkan objek, peristiwa, perasaan dalam masyarakat yang diwariskan melalui benda, rupa, gerak, isyarat dan perilaku (Peursen, 1988: 143). Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa makna adalah suatu objek dalam berbagai peristiwa yang mempunyai tempat tersendiri melalui simbol-simbol yang berisikan hal-hal yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
3.        Nilai                                                                                      
Koentjaraningrat (1985:39) mengatakan nilai merupakan sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kwalitas dan berguna bagi manusia. Sesuatu yang bermutu berarti sesuatu yang berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Suatu nilai terdiri dari konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagai warga masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap bernilai dalam kehidupan. Oleh karena itu suatu sistem nilai budaya  biasanya berfungsi sebagai pedoman bagi masyarakat. Sistem nilai atau tata kelakuan manusia lebih konkrit sebagai aturan-aturan khusus hukum adat dan norma-norma yang sudah berpedoman pada budaya tersebut. Jadi untuk menentukan sesuatu yang dapat dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. Tak heran apabila anatara masyarakat yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan tata nilai. Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsep-konsep budaya yang berkaitan dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap bernilai dalam kehidupan. Oleh karena itu suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi kelakuan manusia dan yang lebih konkrit seperti aturan-aturan khusus hukum adat dan norma yang semuanya berpedoman kepada sistem budaya tersebut.
Koentjaraningrat (1982:34,35) mengatakan bahwa nilai budaya yang perlu dimilki manusia ada 3 yaitu (1) Nilai budaya yang berorientasi ke masa depannya dengan lebih seksama dan teliti, (2) Nilai budaya yang berhasrat untuk mengeksplorasi lingkungan alam dan kekuatan-kekuatan alam, (3) Nilai-nilai budaya yang menilai tinggi usaha orang yang dapat mencapai hasil sedapat mungkin atas usahanya sendiri. Nilai merupakan sifat-sifat (hal-hal) yang penting dan berguna bagi manusia,serta menyangkut cipta, rasa dan karsa manusia. Dalam masyarakat yang berpendidikan nilai-nilai dipelajari dari pendidikan sedangkan masyarakat yang tidak berpendidikan mereka memperoleh nilai-nilai budaya dari upacara tradisional.
Koentjaraningrat (1990:144) berpendapat bahwa pembangunan kebudayaan nasional perlu berorientasi ke zaman kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah lampau tetapi juga ke zaman sekarang karena kebudayaan yang memberi kemampuan kepada bangsa Indonesia untuk menghadapi perubahan dunia masa kini. Sebagai salah satu karya manusia dan merupakan perwujudan cara berpikir masyarakat.  Di samping itu juga dapat menunjukkan corak dan nilai budaya yang dimiliki masyarakat lampau sehingga kebudayaan tersebut dapat menopang kehidupan masyarakat sepanjang manusia masih hidup dan membutuhkannya. Dalam masyarakat yang sudah maju norma-norma dan nilai-nilai kehidupan itu dipelajari melalui jalur pendidikan baik secara formal maupun secara nonformal. Sedangkan masyarakat tradisional nilai itu dipelajari melalui berbagai hal.
E.     Metode Penelitian
Metode penelitian boleh dikatakan suatu pencarian terhadap kebenaran dengan pertimbangan yang logis dan melalui proses yang teratur serta sistematik. Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan informasi dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.  Ada juga yang mengatakan metode dalam penelitian sebagai alat dalam melakukan penelitian yaitu dari pengumpulan data, penganalisisan data sampai dengan menarik kesimpulan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Triswanto, 2010:15). Pada prinsipnya, pelaksanaan penelitian harus menggunakan metode penelitian dalam rangka pemecahan suatu masalah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi adalah studi tentang cara memahami dan mengungkap fenomena atau gejala –gejala yang muncul atas kesadaran masing-masing manusia  yang ada dalam konteks kehidupan masyarakat.  Pemahaman dilakukan dengan menggunakan  panca indra, untuk memahami apa yang ada di balik gejala yang tampak itu ( Fatchan, 2013:89).
1.        Lokasi Penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lewoloba, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, dengan dasar pertimbangan bahwa di desa ini masih memiliki tradisi serta adat-istiadat  yang memiliki keyakinan terhadap  Nuba Nara

2.        Penentuan Informan
Moleong (2004:90) dalam penelitian ini peneliti memilih dan menentukan informan dengan cara snowball sampling yaitu peneliti menentukan beberapa informan untuk diwawancarai sehingga dapat diperoleh data yang akurat, kemudian informan memberikan jalan kepada peneliti untuk memperdalam data dengan informan lain yang berpotensi bila data belum lengkap.
Spradley  (2006: 53) menyatakan penempatan satu atau beberapa informan kunci dan melakukan interview kepada mereka secara bertahap atau berproses. Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti menetapkan satu atau beberapa orang informan kunci dan mengadakan interview terhadap mereka kemudian diminta arahan, saran dan petunjuk sebaiknya yang menjadi informan berikutnya yang menurut mereka memiliki pemgetahuan, pengalaman dan informasi yang dicari. Selanjutnya penentuan informan berikutnya dilakukan dengan teknik yang sama sehingga  dalam penelitian akan diperoleh jumlah informan yang semakin lama semakin besar yang dapat memberikan data yang lengkap.
Dalam hal ini peneliti menentukan informan berdasarkan penguasaan dan pemahaman seseorang terhadap adat istiadat khususnya dalam kaitan dengan nuba nara dalam tatanan adat budaya masyarakat di Desa Lewoloba. Tokoh yang ditentukan sebagai informan kunci adalah tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat yang paham tentang konteks dan mampu memberi perspektif tentang nuba nara dalam tatanan adat budaya masyarakat di Desa Lewoloba.
3.        Sumber Data
Dalam memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, dibutuhkan sumber-sumber data guna mendapatkan data untuk mendukung keberhasilan penelitian ini. Sehingga yang menjadi sumber data dalam penelitian ini terdiri atas dua yakni:
a.    Sumber Data Primer
Margono (1996: 20) mengatakan bahwa data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari pribadi yang menyaksikan dengan sendiri dan mengetahui tentang objek dan masalah penelitian. Iskandar (2008) mengatakan bahwa sumber data primer adalah data berupa teks wawancara dengan informan. Jadi sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari informan.
Jadi data primer dalam penelitian ini diperoleh dari tetua adat atau tokoh masyarakat yang mengetahui secara baik tentang nuba nara dalam tatanan adat budaya masyarakat di Desa Lewoloba.
b.   Sumber Data Sekunder
Sugiyono (2015:193) menyatakan bahwa sumber sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. Iskandar (2008:119) mengatakan bahwa data sekunder berupa data yang sudah tersedia dan dapat diperoleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau mendengarkan. Data yang dimaksud adalah buku-buku, literatur, laporan dan sebagainya yang memiliki hubungan dengan masalah penelitian tentang nuba nara dalam tatanan adat budaya masyarakat di Desa Lewoloba.
4.        Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


a.    Wawancara
Moleong (2009:186) menyatakan wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Dalam penelitian ini peneliti mengadakan wawancara secara langsung pada informan tentang nuba nara dalam tatanan adat budaya masyarakat Desa Lewoloba. Di mana peneliti memberikan pernyataan  yang  telah disediakan  dengan tujuan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan masalah penelitian. Untuk memudahkan penelitian  dalam proses wawancara maka disiapkan alat bantu berupa buku cacatan, tape recorder.
b.    Observasi
Syahodi (2006: 105) mengatakan bahwa observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi langsung oleh peneliti sehingga terlibat langsung secara efektif dalam penelitian untuk mencari tahu tentang nuba nara dalam budaya etnis Lamaholot di Desa Lewoloba.
5.      Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis  data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain ( Sugiyono 2015:334). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif.
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Miles dan Huberman (1984) mengemukakan langkah-langkah analisis data kualitatif sebagai berikut:
a.    Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
b.    Penyajian data
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Melalui penyajian data tersebut maka data terorganisasikan. Tersusun dalam pola hubungan sehingga akan mudah dipahami.
c.     Conclusion Drawing ( Verifikasi)
Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan yang diperoleh akan valid bila didukung oleh bukti-bukti yang kuat sekaligus kesimpulan tersebut menjawab rumusan masalah yang diteliti.




BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Pada bagian ini dibahas mengenai gambaran umum di Desa Lewoloba jika di telusuri dari segi keadaan geografis, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan sosial budaya. Maka dapat diuraikan sebagai berikut:
A.    Keadaan Geografis
Desa lewoloba memiliki luas wilayah 680,4 km2. Secara astronomi letak Desa Lewoloba adalah 8° 3’ 36” LS- 8° 38’ 24” LS dan 122° 39; 0” BT. Secara geografis  Desa Lewoloba bagian utara berbatasan dengan Gunung Ile Mandiri, bagian selatan berbatasan dengan teluk oka, bagian timur berbatasan dengan Desa Lamawalang dan kecamatan Larantuka, bagian barat berbatasan dengan Desa Wailolong. Secara administrasi Desa Lewoloba bagian dari Kecamatan Ile Mandiri yang terbagi atas 4 Dusun yang memiliki 8 RT dari setiap Dusun.
1.      Sejarah Singkat  Desa Lewoloba
Sejarah Desa Lewoloba dapat ditelusuri dengan mengetahui keturunan Bapa Lia Nurat dan Ema Hadung Boleng. Keduanya adalah sepasang suami isteri yang melahirkan keturunan-keturunan yang menghuni wilayah adat Baipito. Mereka memiliki 7 orang anak, yakni 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan yaitu:
1.      Belawak Burak : mendiami wilayah Lewoloba.
2.      Kweluk : mendiami wilayah Wailolong.
3.      Kwaka  : mendiami wilayah Lewohala.
4.      Bang Powa : mendiami wilayah Mudakeputu.
5.      Mado Liko Wutun : mendiami wilayah Watowiti.
6.      Beliti Hingi : mendiami wilayah Bui Baja Wua.
7.       Ehen Peni : mendiami wilayah Ebak.
Belawa Burak merupakan cikal bakal turunan orang-orang Lewoloba. Dari turunan Bapa Belawa Burak dan Ema Nini Daja, sampai dengan Bapa Kebu Doa dan Ema Buku Niron (turunan ke-7) menurunkan 3 orang anak, yakni:
1.      Toka Nara: Melahurint.
2.      Wolo Sina: Amakelen.
3.      Sina Puri  : Amakoten
Dari ke-3 anak laki-laki ini, lahirlah 3 suku asli yang berada di Kampung Lemuda. Turunan dari ke-3 Bapak ini kemudian dipimpin oleh Suban Regi Ama dibantu oleh Ua Bala Ama dan Biti Loso Ama membangun dan membentuk Kampung Suban Tupi Wato Dowo Deka Homo dan menjadi Kepala Kampung, Kepala Adat dan Tuan Tanah. Di Kampung Suban Tupi Wato Dowo Deka Homo ini, bergabunglah dua suku dengan ketiga suku yang telah ada. Kedua suku yang bergabung tersebut adalah Suku Doren dan Suku Nuhan. Dari Kampung Suban Tupi Wato Dowo Deka Homo, mereka berpindah ke Desa Lewoloba lama. Desa Lewoloba lama biasa disebut dengan Lewo Wulu Heri Tanah Bala Gopak. Penggunaan nama “Lewoloba” dimulai ketika para tokoh adat berkumpul untuk melaksanakan seremoni adat penentuan nama kampung. Pelaksanaan seremoni adat ini harus disertai dengan penyuguhan sirih pinang. Setelah para pemuka adat ini memakan sirih pinang, badan mereka menjadi lemas (ngilu), khususnya pada persendian tangan dan kaki mereka. Saat itu juga para pemuka adat sepakat memberikan nama loba (dalam bahasa daerah berarti “lemas/ ngilu”) dan lewo (dalam bahasa daerah berarti “kampung”). Setelah Lewoloba disepakati sebagai nama Desa, para pemuka adat kemudian menyampaikannya kepada Pemerintah Belanda sebagai pemerintah yang sah pada saat itu. Pemerintah Belanda pun akhirnya menyetujui pemberian nama tersebut. Dengan adanya persetujuan dari pemerintah Belanda, maka sejak saat itu  Lewoloba dijadikan sebagai nama resmi dan terus digunakan hingga saat ini. Alkisah Belawa Burak pernah menjadi panglima dalam sebuah perang di Adonara dan meninggal dalam peperangan tersebut. Dia terbunuh ketika dirinya ditikam dengan sebilah bambu yang tajam. Dengan cara yang magis, jasad Belawa Burak kemudian "menyatu" dengan alam. Darahnya menjadi sumber mata air. Tubuhnya menjadi batu dan pasir. Bambu yang dipakai untuk menikamnya kemudian bertumbuh lebat di daerah tersebut. Pada tahun 2010, dibawah kepemimpinan Kepala  Desa Yohanes Lewa Doren, jasad Belawa Burak yang telah berbentuk material alam ini dibawa ke Lewoloba dan disemayamkan dalam sebuah korke (Rumah Adat Lamaholot) melalui suatu acara adat yang meriah. Pada tahun 1979, sebuah bencana besar melanda Larantuka. Lewoloba pun terkena dampak dari banjir ini. Banjir ini menelan sangat banyak korban jiwa dan harta benda. Penduduk Desa Lewoloba akhirnya mencari pemukiman yang baru. Sebagian besarnya berpindah ke bekas kebunnya, dan membangun sebuah pemukiman baru yang saat ini bernama Desa Lewoloba. Sejumlah penduduk Desa Lewoloba berpindah ke Desa Bokang, yang sekarang ini berada di wilayah Kecamatan Lato. Sejumlah kecil penduduk Desa Lewoloba kemudian berpindah ke Desa Balela, Desa Lohayong, Desa Weri, dan beberapa daerah lain di Larantuka.

2.      Letak, Luas dan Batas Wilayah
Letak geografis yaitu letak suatu wilayah atau tempat di permukaan bumi yang berkenaan dengan faktor alam dan budaya di sekitarnya. Faktor alam suatu wilayah sangat penting karena merupakan unsur pokok dalam melakukan berbagai bidang termasuk dalam bidang sosial budaya. Wilayah Desa Lewoloba memiliki luas wilayah sekitar 680,4 Ha. Administrasinya adalah sebagai berikut:
a.       Sebelah utara berbatasan dengan Gunung Mandiri,
b.      Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Oka,
c.       Sebelah timur berbatasan dengan Desa Lamawalang, Kecamatan Larantuka dan
d.      Sebelah barat berbatasan dengan Desa Wailolong, Kecamatan Ile Mandiri.
3.      Keadaan Topografi
Dari segi topografi dapat dikatakan bahwa wilayah Desa Lewoloba ini masih menggunakan peralatan yang sederhana untuk menunjang usaha-usaha peningkatan produktivitas di bagian sektor pertanian sebagai kebutuhan perekonomian daerah. Keadaan alam Desa Lewoloba  terdiri atas dataran rendah, bukit, lereng Gunung dan tepi pantai/pesisir  yang memiliki kondisi tanah lempung, dengan ketinggian 100 m dari permukaan laut. Pada daerah yang berdataran rendah dan pesisir pantai dijadikan sebagai lahan pertanian dan lahan perumahan bagi warga, sedangkan pada daerah bukit juga dijadikan lahan perkebunan.
 4.      Keadaan Iklim
Iklim merupakan keadaan cuaca rata-rata pada suatu daerah dalam waktu yang relatif lama. Iklim sangat penting bagi kehidupan manusia oleh karna itu perlu dianalisis secara cermat. Secara umum di Desa Lewoloba musim panas berlangsung pada bulan April hingga November dan musim hujan dari bulan November hingga bulan Maret dengan curah hujan rata-rata 60 mm/pertahun dengan rata-rata 155 hari hujan, sehingga dapat disimpulkan bahwa bulan basah hanya berlangsung selama 5 bulan, sedangkan bulan keringnya 7 bulan. Iklim suatu tempat atau daerah dapat ditentukan berdasarkan perbandingan antara jumlah curah hujan dalam bulan kering dengan jumlah curah hujan dalam jangka waktu tertentu. Dari pernyataan tersebut maka tipe iklim Desa Lewoloba adalah iklim tropis
5.      Flora dan Fauna
Pada daerah Desa Lewoloba juga memiliki berbagai jenis flora dan fauna yang dapat membantu dalam sektor perekonomian masyarakat sebagai berikut:
a.       Flora.
Jenis flora yang ada di wilayah Desa Lewoloba terdiri dari tumbuh-tumbuhan seperti pohon kayu putih (Tectona grandis L), jambu mente (Anarcadium occidentale L), mangga (Mangifera indica), lontar (Borassus flabellifer) dan tumbuhan lainnya. Kawasan hutan di Desa Lewoloba hanya sebagian kecil saja yang terdapat di kaki gunung Mandiri. Oleh karna itu hutan yang dimiliki hanya sedikit saja.
 b.      Fauna.
Jenis fauna yang hidup di Desa Lewoloba terdiri dari ikan, kambing (Capra aegagrus hicrus), babi (artanius leucorynchus), ayam (gallus gallus), sapi (bos sondaicus), anjing (canis lupus familiaris) dan berbagai jenis burung, seperti: tekukur, nuri, elang dan lain-lain. Hewan yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Desa Lewoloba adalah ikan, babi, sapi, ayam, anjing, kambing. Babi ayam dan kambing biasanya digunakan sebagai materi korban dalam setiap upacara adat dan kegiatan lainnya.
B.     Keadaan Sosial Ekonomi
        Mata pencaharian sebagai sumber ekonomi masyarakat merupakan suatu profesi seseorang yang harus dijalankan setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mensejahterakan keluarga.
Pada umumnya masyarakat di Desa Lewoloba bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Lewoloba lebih memilih bercocok tanam karena keadaan alam yang mendukung serta cocok untuk membuka lahan bercocok tanam. Selain itu juga karena pengaruh kurangnya pendidikan masyarakat yang dapat menyebabkan masyarakat tidak bisa mencari pekerjaan yang lain. Oleh karen itu secara keseluruhan mata pencaharian masyarakat Desa Lewoloba dapat diuraikan secara terperinci sebagai berikut ini:
1.      Pertanian
Masyarakat Desa Lewoloba pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Dalam hal ini nelayan bukan merupakan sumber mata pencaharian yang tetap karena dalam proses kehidupan tergantung pada musim dalam menangkap ikan. Sedangkan dalam sektor pertanian merupakan hal pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pertanian yang digeluti adalah pertanian lahan basah dan kering. Pertanian Desa Lewoloba mempunyai luas 433 ha yang sudah dikelola baik dan yang belum dikelola dengan baik 0.75 ha dengan perkiraan hasil dapat dilihat di bawah ini:
Tabel 1
Data hasil pertanian masyarakat Lewoloba tahun 2015
No
Nama Hasil
Jumlah (Ton)
Presentase
1
Padi
37,5 ton
52,63℅
2
Jagung
18,75 ton
26,32℅
3
Ubi-ubian
15 ton
21,05℅
Jumlah
71,25
100
Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
Jika dianalisa dengan cermat, maka disimpulkan bahwa jika seluruh potensi lahan difungsikan maka akan dapat menghasilkan produksi tanaman pangan lahan basah maupun produksi lahan kering meningkat. Hal ini diharapkan agar dapat mengurangi defisit pangan yang dialami masyarakat Desa Lewoloba pada tahun-tahun mendatang
2.      Perkebunan
Luas areal potensial tanaman 294 ha dan baru dimanfaatkan sampai dengan tahun-tahun mendatang. Untuk komoditi tanaman perkebunan seperti jambu mente (anarcardium occidentele) dan biji coklat (theobroma cacao) dengan tingkat produksi sebesar 30  sampai 40 ton. Di antara komoditi perkebunan coklat dan jambu mente merupakan komuditi unggulan. Selain tanaman tersebut ada pula tanaman yang dikembangkan seperti, pisang, nanas, pepaya, kapuk dan kemiri yang menjadi tanaman andalan yang dapat menambah pendapatan perkapita.
3.      Peternakan
Selain bertani ada juga pekerjaan berternak yang merupakan salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat Desa Lewoloba. Hewan ternak yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Lewoloba adalah jenis hewan besar dan kecil. Jenis ternak yang dihasilkan dapat dirincikan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2.
Jumlah ternak di Desa Lewoloba tahun 2015
No
Jenis Ternak
Jumlah
Presentase
1
Sapi
23 ekor
4,47℅
2
Kambing
74 ekor
14,40℅
3
Babi
283 ekor
55,06℅
4
Ayam
134 ekor
26,07℅
Jumlah
514 ekor
100
Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
Lahan peternakan yang semakin sempit akibat alih fungsi sebagai lahan pertanian akan mengancam keberadaan ternak. Oleh karna itu, perlu penanganan yang serius dari masyarakat dan pemerintah supaya menyediakan suatu lahan untuk peternakan.
4.      Kehutanan
Kepemilikan tanaman kehutanan khususnya lahan kehutanan sebesar 2,5 ha namun kehutanan masyarakat Desa Lewoloba sebagian besar kurang lebih 75% dikuasai oleh pemilik tanah ulayat (hutan adat) sedangkan 25% dimuliki oleh penggarap. Ada juga jenis tanaman kehutanan yang dimiliki oleh masyarakat secara perorangan dan secara kelompok (adat), seperti bambu, akasia hutan, koli (siwalan) dan lain-lainnya.
5.      Perikanan
Masyarakat Desa Lewoloba menyadari bahwa, hidup ini hanya bertani sudah cukup, akan tetapi melaut juga merupakan mata pencaharian tambahan untuk menambah pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kurangnlebih 15% masyarakat Desa Lewoloba yang bermata pencaharian sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang sederhana yaitu sampan dayung atau jukung. Jenis ikan yang dihasilkan seperti, ikan tongkol, ikan kerapu, ikan tembang, ikan cakalang, ikan pari dan lain sebagainya. Hasil ikan yang diperoleh sekitar 80% langsung dipasarkan atau dijual ke konsumen, sedangkan 20% nya untuk dikonsumsi sendiri.
6.      Kerajinan tangan
Bidang kerajinan tangan yang digeluti oleh masyarakat Desa Lewoloba adalah tenun ikat dan alat-alat rumah tangga serta kesenian dari bambu. Kerajinan tangan ini sudah digeluti sejak dahulu hingga sekarang. Hasil tenun ikat digunakan masyarakat Desa Lewoloba untuk berpakaian dalam kehidupan sehari-hari dan juga digunakan dalam acara-acara adat, orang meninggal, penyambutan tamu, sebagai mas kawin dan bahkan diperdagangkan. Sedangkan hasil dari bambu berupa kursi serta dinding rumah.
7.      Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
Pengembangan sektor koperasi, usaha kecil dan menengah sampai tahun 2015 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.
Pengenbangan sektor koperasi, usaha kecil dan menengah Desa Lewoloba tahun 2015
No
Nama usaha
Unit
Junlah orang
Presentase
1
Usaha bersama simpan pinjam
3 unit
153 orang
23,68
2
Simpan pinjam perempuan
7 unit
140 orang
21,68
3
Kelompok arisan
13 unit
200 orang
39,96
4
Koperasi perkotaan
2 unit
153 orang
23,68
Jumlah
25 unit
646 orang
100
Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
dari tabel 3 di atas dapat dilihat dalam pengembangan sektor koperasi, usaha kecil dan menengah adanya peningkatan pada kelompok arisan dengan presentase 30,96%. Hal ini akan memacu masyarakat untuk tetap mempertahankan usaha-usaha dalam meningkatkan ekonomi kehidupan di masa yang akan datang.
C.    Keadaan Sosial Budaya
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Desa Lewoloba selalu hidup bergotong-royong, karena merupakan suatu tradisi yang sudah dimiliki sejak dahulu kala. Dengan adanya kemajuan yang terjadi dalam kehidupan manusia maka lapisan sosial masyarakat tidak ditentukan berdasarkan lapisan bangsawan, namun berdasarkan pengetahuan dan pendidikan  serta pengalaman yang dicapai. Namun masyarakat juga tetap memegang teguh dan tunduk pada adat-istiadat sebagai pegangan hidup yang akan dijadikan sebagai norma dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu secara keseluruhan dapat diuraikan secara terperinci sebagai berikut ini:


1.      Penduduk
Penduduk merupakan semua orang yang pada waktu diadakan sensus penduduk telah bertempat tinggal pada suatu wilayah. Atau sejumlah orang yang menempati suatu wilayah dan berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan data yang diperoleh dari likasi penelitian, jumlah penduduk Desa Lewoloba pada tahun 2015 adalah 1430.
Tabel 4.
Komposisi penduduk menurut struktur umur tahun 2015

No
Usia Penduduk (Tahun)
Jumlah Jiwa
Ket
1
0-5
70

2
6-8
52

3
9-14
124

4
15-44
480

5
45-60
495

6
60 ke atas
209

Total Jumlah
1430

Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
Dari tabel 4 di atas dapat dilihat dikatakan bahwa usia produktif berada antara umur 9-14 tahun dengan jumlah 124 masih berada dalam taraf pendidikan. Sedangkan jumlah angkatan kerja berada pada usia 15-44 tahun dengan jumlah 480 dikatakan bahwa pada usia ini baik kaum laki-laki maupun wanita masih memiliki fisik yang mendukung untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu yang berguna untuk kehidupan.
2.      Mata pencaharian
Pada umumnya masyarakat Desa Lewoloba bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Akan tetapi masyarakat Desa Lewoloba lebih menggeluti pada sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut:
Tabel 5.
Masyarakat Desa Lewoloba Dilihat Berdasarkan Pekerjaan tahun 2015
No
Jenis pekerjaan
Jenis kelamin
L+P
Ket
L
P
1
Petani
420
144
564

2
PNS/POLRI/TNI
40
16
56

3
Nelayan
2
-
2

4
Peternak
12
3
15

5
Pengusaha kios
3
8
12

6
Guru swasta
3
10
13

7
Dukun kampung terlatih
-
2
2

8
Pensiunan PNS/POLRI/TNI
20
3
23

9
Pengusaha jasa transportasi
10
-
110

10
Dokter
-
1
1

11
BIDAN
-
7
7

12
Perawat
-
3
3

13
Wiraswasta
10
5
15

14
Pekerjaan tidak tetap
87
38
125

15
Belum bekerja
239
343
582

Total jumlah


1430









Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
Dilihat dari tabel 5 di atas penduduk Desa Lewoloba belum mendapatkan pekerjaan perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak yang terkait dengan permasalahan ini. Dan yang bekerja sebagai petani berjumlah 564 orang dapat diambil kesimpulan bahwa penduduk berusia kerja pada lapangan pekerjaan pertanian sangat tinggi dan pada umumnya masyarakat Desa Lewoloba yang bukan petani juga memiliki lahan pertanian sebagai peerjaan sampingan.
3.      Agama
Agama merupakan sarana dalam kehidupan sosial manusia. Hal ini berarti bahwa semua orang mempunyai pola pikir dan berperilaku terhadap yang diyakini. Dalam agama terdapat simbol, kepercayaan, dan nilai khusus bagi manusia sehingga dapat diinterpretasikan sesuai dengan keberadaan masyarakat. Mengenai persebaran penduduk berdasarkan agama dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6
Sebaran Penduduk Desa Lewoloba Menurut Agama tahun 2015
No
Agama
Jumlah pemeluk
Ket
1
Islam
3

2
Katolik
1419

3
Protestan
8

4
Hindu
-

5
Buddha 
-

6
Konghuchu
-

Jumlah total
1430

Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
Berdasarkan tabel 6 di atas dapat disimpulkan bahwa penduduk Desa Lewoloba yang menganut agama Islam 3 orang dan Protestan 8 orang, 1419 orang menganut agama Katolik dan yang menganut agama Buddha dan Konghochu tidak ada. Hal ini dapat dikatakan bahwa penduduk Desa Lewoloba mayoritasnya mempunyai kepercayaan pada agama Katolik.
4.      Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu proses dari kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi manusia secara pribadi atau kelompok ke arah positif, yakni kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan lingkungan sekitarnya yang dilaksanakan secara sistematis, terencana dan dinilai serta dikembangkan secara terus- menerus.atau dengan kata lain pendidikan merupakan usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (sdm) sehingga diharapkan dapat mengembangkan suatu kepribadian yang mandiri karena mempunyai kemampuan, baik kemampuan di sekolah maupun ketika berada di luar sekolah atau masyarakat. Pada tabel 7 dijelaskan mengenai komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan.
Tabel 7
Komposisi Penduduk Desa Lewoloba Menurut Tingkat Pendidikan tahun 2015
No
Tamatan sekolah
Jumlah jiwa
1
Sd / Sederajat
457
2
SLTP / Sederajat
320
3
SLTA / Sederajat
530
4
D I
8
5
D II
2
6
D III
10
7
D IV
1
8
S 1
139
9
S 2
2
Total jumlah
1430




Sumber data: Rpjm Desa Lewoloba tahun 2015-2019
Dari tabel 7 di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan yang ada di Desa Lewoloba rata-rata yang berpendidikan Sd 457 orang, Smp 320 orang, Sma 530 orang dan S1 139 orang. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Desa Lewoloba sudah mengalami kemajuan. Oleh karna itu perlu juga  usaha pemerintah dan pihak lain dalam usaha lebih meningkatkan tingkat pendidikan pada masa yang akan mendatang.
5.      Adat-Istiadat
Masyarakat Desa Lewoloba percaya bahwa akan adanya Tuhan (lera wulan tana ekan) yang mempunyai sifat-sifat sangat tinggi, sakral dan jauh dari jangkauan manusia dimana matahari dan bukan sebagai pusat. Ungkapan-ungkapan ini merupakan kunci dimana selalu dituangkan dalam setiap upacara adat. Di samping kepercayaan tersebut, masyarakat Desa Lewoloba juga percaya akan kesakralan para leluhur, dimana leluhur dipercayai sebagai perantara doa. Simpul adat-istiadat masyarakat Desa Lewoloba selalu dituangkan melalui ritus adat dimana semua siklus kehidupan dan aktivitas keseharian selalu ditandai dengan upacara adat, seperti upacara atap rumah, upacara panen hasil pertanian dan berbagai upacara adat lainnya.
6.      Bahasa
Bahasa merupakan suatu sarana penghubung dalam berkomunikasi dengan sesama manusia yang dipakai dalam keseharian hidup bersosialisasi. Bahasa yang dipakai dalam berkomunikasi sehari-hari oleh asyarakat Desa Lewoloba adalah bahasa persatuan  Lamaholot.
7.      Budaya
Globalisasi kebudayaan seiring dengan pola yang sama dengan globalisasi ekonomi. Globalisasi kebudayaan yang sedang terjadi dapat menggeser nilai-nilai budaya lokal yang selama ini dijaga dan dipelihara. Masalah ini merupakan hal yang kritis dengan pengembangan masyarakat. Kebudayaan lokal memberikan identitas tersendiri. Tradisi budaya lokal Desa Lewoloba menjadi pengikat kehidupan bermasyarakat dan sikap saling tolong-menolong untuk menyediakan rasa identitas diri orang Desa Lewoloba khususnya dan masyarakat Kecamatan Ilemandiri pada umumnya.
 8.      Kesehatan
Kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk melayani masyarakat. Di Desa Lewoloba pemerintah mendirikan satu unit puskesmas pembantu dengan pelayanan obat setiap harinya, selain itu terdapat satu unit posyandu dengan pelayanan sebulan sekali. Selain tenaga medis, terdapat juga beberapa dukun kampung terlatih yang dapat membantu proses persalinan secara tradisonal. Hal ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Desa Lewoloba untuk proses pelayanan kesehatan.
9.      Struktur Pemerintahan
Kondisi kehidupan demokrasi masyarakat Desa Lewoloba mengalami perkembangan ke arah yang semakin sehat. Hal ini ditandai dengan semakin berperan dan berfungsinya kelembagaan partai politik di tingkat desa. Dalam hal ini yang perlu mendapat perhatian dalam penyelenggaraan demokrasi politik adalah menyangkut penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan publik. Dalam kurun waku lima tahun terakhir ini, elemen masyarakat kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan publik, sehingga proses pendidikan politik tidak berjalan secara baik. Berikut dibawah ini merupakan tabel struktur pemerintahan di Desa Lewoloba:
 BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini akan dijelaskan hasil penelitian dan pembahasan yang di kaji sesuai masalah yang diteliti antara lain asal-usul nubanara yang ada di Desa Lewoloba, makna dan nilai dalam tatanan adat budaya orang Lewoloba, dan hubungan antara nubanara, leluhur (kwokot) dan Lera Wulan Tana Ekan dalam kehidupa orang Lewoloba. Dalam hasil penelitian dan pembahasan ini dikaji berdasarkan hasil wawancara dari beberapa narasumber kemudian dibahas secara keseluruhan dengan berpatok pada beberapa teori serta sumber-sumber yang terkait masalah pada penelitian ini. Maka akan di jelaska sebagai berikut:
A.    Asal-usul Nuba Nara yang Ada di Desa Lewoloba
Nubanara dalam tatanan adat kepercayaan orang Lewoloba diyakini sebagai penghubung antara surga dan bumi, dimana terjadi hubungan secara vertikal antara masyarakat orang Lewoloba, Leluhur (kwokot) dan Ama Lera Wulan Ina Tana Ekan (wujud tertinggi) sehingga terbentukah suatu aktivitas adat yang berlangsung secara turun-temurun, selain itu juga nuba nara juga sebagai sumber kekuatan orang Lewoloba. Nuba nara hidup di tengah orang Lewoloba dalam bahasa adat dikatakan Nuba tawa gere–bela gere haka yang artinya tumbuhnya nuba nara dalam bentuk loh batu, dalam artian nuba nara muncul dan tumbuh sendiri dan berdiri tegak keatas langit. Dibalik kedahsyatan nuba nara orang Lewoloba meyakini bahwa, nuba nara mempunyai suatu kekuatan yang magis atau kekuatan yang luar biasa. Ketika sebuah kampung atau Desa terbentuk maka nuba nara akan muncul dengan sendirinya di tempat rumah suku atau rumah adat (korke), nuba nara merupakan sumber kekuatan yang mengsejahterakan kehidupan orang Lewoloba. Pada awalnya nuba nara yang ada dalam tradisi budaya orang Lewoloba berada di puncak gunung Mandiri yakni letaknya di tengah kawah (legong) yang Kemudian muncul  nuba nara kecil (Mer’ah)  pada ke 5 suku yang ada di Desa Lewoloba (kellen 2004:15)
 Berdasarkan hasil wawaancaara dengan bapak Stefanus Raja Koten (54) 23 juni 2017, dinyatakan bahwa pada puncak gunung Mandiri awalnya muncul suatu peradaban kecil yang dibangun oleh leluhur asli masyarakat Desa Lewoloba. Bapak Lia Nurat atau dalam sapaan masyarakat Desa Lewoloba Ama Nurat, Ama yang merupakan keturunan asli masyarakat Desa Lewoloba membangun sebuah kampung kecil yang letaknya di puncak gunung Mandiri. Lia Nurat tinggal bersama saudari perempuannya yang bernama Ata wato utan wato wele. Menurut cerita,  Lia Nurat dan Wato Wele terlahir dari sebuah batu yang pecah atau dalam bahasa Lamaholot wato pesa parak pook, kemudian keduanya mendirikan kampung di puncak Ile Mandiri yang diberi nama lewo (kampung) “Likat lama Botu tana awo lama bunu”. Di atas kampung tersebut tertancap batu nuba nara milik Lia Nurat yang di beri nama Nuba Pati Gokok Wela Beda Gorek. Nuba Nara Pati Gokok Wela Beda Gorek ini muncul sendiri dari dalam tanah atau dalam bahasa adat Lewoloba  nuba tawa gere”. Sebuah kampung tidak akan bertahan lama jika nuba tidak muncul pada daerah tersebut tentunya masyarakat pada daerah tersebut tidak akan betah tinggal di kampung tersebut, karena mereka berkeyakinan bahwa nuba nara itu merupakan sumber kekuatan mereka. Dimana di saat mereka diserang oleh orang asing di sekitar daerah lainnya (orang paji) maka mereka akan meminta kekuatan dari nuba nara. Dan terbukti ketika keluarga Lia Nurat melakukan penyerangan terhadap kaum Paji, mereka mampu mengalahkan musuh dengan memohon kekuatan dari nuba nara.
Berdasarkan wawancara denga bapak Fransiskus Roy Hurint (37) 23 juni 2017 dijelaskan bahwa, Pada nuba nara inilah tempat mempersembahkan bahan  kurban dan memuja sang Ratu Lera Wulan – Ema Nini Daja Tana Ekan (Tuhan Yang Maha Esa). Ketika saudarinya Wato Wele beranjak dewasa Lia Nurat menghantar saudarinya untuk tinggal di sebuah bukit yang diberi nama “Woto Wela Duli”, yang kemudian menikah dengan Raja Pati Golo Arakian, raja dari Kerajaan Larantuka. Bapa Lia Nurat Ama Nurat Nama, kemudian turun dari puncak Ile Mandiri dan kembali mendirikan perkampungan perkampungan baru di sekitar area gunung ile Mandiri yang kemudian kampung itu diberi nama “ Lewo Likat Tana Botu –tana lama bunuk”. Di tempat ini juga tumbuhlah nuba nara sebgai bukti bahwa tempat itu merupakan Kampung Lia Nurat. Yang sampai sekarang masih terdapat nuba nara tersebut yang diberi nama “nuba laka mean-bela sabok buran. Di tempat inilah Lia Nurat berkenalan dengan seorang gadis bernama Ema Hadu Boleng-Ina Teniba Duli yang berasal dari Kampung Kukun lewo pulo tan anile ribu yang sekarang kampung di pesisir pantai Waimana.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Thomas Tallu Koten (94) 22 juni 2017, dinyatakan bahwa, nubanara milik Lia Nurat memiliki kekuatan dasyat, dimana dia memperoleh kekuatan secara magis. Nuba pati gokok yang dimilikinya dijaga seekor ular naga yang kepalanya bersinar bintang dimana diceritakan oleh narasumber dalam bahasa adat Lewoloba yaitu:
  Ema Hadu Boleng tobo me’te Pute mute, tutu naan marin ama “Suba Wela Hawa” a...pati  a ...beda ape sulo teka pia kenito tukan – rerapaha pia hana wanan. Dei me’la biho tupat eket pito, sadik bau wai tora lema. Gute lein lodo pana pile liman soga gawe ni tukan rae nato lagan bawa lolon gere. Kewoho hore angi – ile angi Hada kola, wai lodi huba dopa lolon nodi hora pole tiro lewo peti likat lama botu tana peti awo lama bunu.  Bapak Suba Wela Hawa matan noi ape nutong no likat rura. Bapak Lia Nurat Nura ama, nae nai peso nitu tao tale  geli gono heka lera, neket ruha wela,wawe,ote hewa  munak. Lia Nurat balik lewo likat lama botu sai tana awo lama bulung. Rera rae gere tebu lola nua rae di hoto taburua. Alek lali belu malu wewak teti duto mara, dei nata gehe pata sadik nula gewet bai. Kknehe naen khulo rera gere, knewet naen Kwanga niang sina. Nae gehe-gehe di ape hemo haka hala nae gewet-gewet di hidi gere kura. Bito nuhu gere tutu ala ra haka mari ; a...pati a....bedan ahik nala ape goen lea nala nera ape goen hemo lakan, bala rata goen hidi goe hura, Lodo hau ruat teka gole ukut, ruat hama lobo tel’e. Goe lodo lau deo moe, Goe soot ula bele pe moe tobo we, moe gute boa ula yang pe nobu moe tobo we. Tao elun baja nuan reron gaen nua gaen goe dai ruat goe puli puna tait gere lewo. Puri gere lewo guti lei ka tado pana. Kowa di rogo rere-rere ura di kulu ken’e ken’e kowa di sewai weki hala ura di goka mola hala. Nae pi’in ata “Ile jadi – ama pi’in woka dewa apa diken naen”, opo ura digoka mola hala kowa di sewai wekin kura.  Waen loa buno rae lolon ata mari sega pelali duli tukan – duli pelali “kepadak lama dike pae lali beta lolon loa (daerah disekitar desa Lewohala). Suba Wela Hawa waen gere lewo lolon noli tawi tana, sega peti kuku lewo pulo sai tana bala nole ribu.Raja Ratu Dale Tua Lia Somo, nae bito nuhun gere tutu naa’n ra’n haka mari ; eka mio luat wata lau mai eka mio baku wato , eka mio toba rubu, doka nua suda nere, eka mio polan munak rae du’a, opo ura goka mola hala kowa sewai weking kurang. Goe Suba Wela Hawa pana hau gere lewo k’ete rae ata “Ile Jadi” bapak Lia Nurat – Ama Nurat Nama. Moe Lia Nurat – Nurat Nama, moe ata Ile jadi apa diken – moe ma’a ura mola kowa sewai weking kur’a. Lia Nurat – Nurat Nama b’u ura kowa, ura mola kowa sewai wekin kur’a. Raja Ratu Dale Tua Lia Somo nae bito nuhun gere tutu mari puri pana pede gawe gere lewo tobo rae koko bale pae rae nuba nara. Moe Ile jadi apa diken naen tobo rae don tukan pae rae bahak lolon. Lewo lein lau tana werang rae nigun teti wana lali sega pi namang tukang sai pi ledu lolon, pati mu’ka kuma sura nura hili, taku no bine tonu Hadu Boleng Teniba Duli, taku later no kopong ata Lia Nurat ata Nurat Nama, reka gike ukut renu lobo te’le. Reka ra’a du wukut renu hora raru ka. Bauk lutu  Pati Beta menara Beda.
Jika diterjemahkan secara harafiah maka artinya yaitu:
ketika itu Hadu Boleng sedang memintal benang untuk menenun sarung. Dengan kekuatan yang dimiliki Lia Nurat, dikirimkannya cahaya sinar tepat mengenai dahi dan dada bagian kanan. Hadu Boleng kaget dan melaporkan peristiwa itu kepada saudaranya Suba Wela Hawa, Cahaya apakah ini yang terpancar kena tepat pada dahi dan dada kanan saya dari atas gunung?. Mendengar laporan itu saudaranya menyuruh Hadu Boleng untuk menyiapkan bekal ketupat tujuh pasang dan isi air minum pada lima ruas bambu. Suba Wela Hawa melakukan perjalanan mendaki gunung Mandiri sesuai dengan arah datangnya sumber cahaya. Sampailah Suba Wela Hawa di Kampung Lia Nurat Likat Tana Botu Tana Lama Bunuk, dilihatnya tungku api dan puntung kayu. Suba Wela Hawa naik ke atas puncak pohon pahlawan (pohon putih). Saat itu Lia Nurat sedang berburu dan memasang jerat hewan hutan. Lia Nurat merasa lapar,ia pulang ke kampungnya dengan membawa hasil buruannya berupa; rusa,babi,biawak,kera,dan berbagai jenis ular. Dengan mengesek potongan kayu khulo (bamboo) dan kwanga (tulang dari daun lontar) untuk menghasilkan api. Tapi hari itu berulang – ulang digesenya kayu tersebut tapi tidak muncul lidah api. Lia Nurat melihat ada bayangan manusia dari atas pohon, dia mengundang manusia yang di atas pohon turun dan bakar hewan buruannya untuk dimakan bersama. Sebelum Suba Wela Hawa turun,ia meminta kepada Lia Nurat agar buanglah semua jenis ular yang ia tangkap. Semua ular dibuangnya ke jurang,tinggal seekor ular naga yang menjadi alas tempat duduknya. Ular naga itu di kepalanya terdapat bintang yang bercahaya. Suba Wela Hawa sekali lagi memohon agar ular naga itupun dibuang, namun Lia Nurat beralasan bahwa ular ini merupakan tempat duduknya, karena didesak terus oleh Suba Wela Hawa akhirnya Lia Nurat membawa ular itu dan meletakkan di sebuah bukit batu, ular naga itupun merayap menuju ke puncak gunung mandiri dan mendiami puncak gunung mandiri di dekat nuba nara Nuba Pati Gokok Bela Beda Gorek”. Akhirnya Suba Wela Hawa bersama Lia Nurat mengolah hasil buruan menjadi makanan santapan  bersama. Suba Wela Hawa menyampaikan maksud kedatangannya bahwa ada sinar cahaya dari tempat ini yang terpancar mengenai dahi dan dada kanan saudarinya Hadu Boleng Teniba Duli di kampung Kukun Lewo Pulo tana bala nole ribu, Keduanya bersepakat untuk mengunjungi Ema Hadu Boleng. Tiba saatnya Lia Nurat bersama Suba Wela Hawa mengunjungi Hadu Boleng. Selama perjalanan hujan turun dan kabut menyelimuti  mereka. Ketika akan memasuki Kampung Kukun Lewo Pulo, Lia Nurat beristirahat di padak lama dike pae lali beta lolon (daerah sekitar Desa Lewohala sekarang)  Suba Wela Hawa sendirian melanjutkan perjalanan menuju kampungnya. Hujan terus saja turun dan kabut awan tetap menutupi kampung Kukun Lewo Pulo, Raja Ratu Dale Tua Lia Somo memberikan pengumuman kepada warganya bahwa ; bila di antara warga yang telah melakukan kesalahan di wilayah pantai atau di wilayah pegunungan maka segeralah melaporkan kepada raja untuk dilakukan pemulihan. Mendengar pengumuman raja tersebut, Suba Wele Hawa menemui sang Raja dan menyampaikan bahwa ia dari gunung Mandiri dan membawa serta Orang Ile Jadi,dia masih ada di pinggir desa. Raja menyuruh Suba Wela Hawa untuk memanggil Lia Nurat masuk kampung Kukun Lewo Pulo. Sesampai di kampung Kukun Lewo Pulo Tana Bala Nole Ribu,Lia Nurat diminta oleh Raja Ratu Dale Tua Lia Somo untuk menghentikan hujan dan menghalau kabut awan yang telah berhari-hari menutupi kampung ini. Lia Nurat memenuhi permintaan Raja, dia menengadah dan meniup ke langit,seketika itu juga hujanpun redah dan kabutpun lenyap, Kampung Kukun Lewo Pulo nampak cerah. Raja Ratu Dale Tua Lia Somo mengundang dan mempersilakan Lia Nurat duduk bertahta bersama Raja di rumah adat Kokebale. Semua warga Kampung Kukun Lewo Pulo menghadiri acara syukuran sekaligus acara pernikahan Lia Nurat dan Hadu Boleng.
Dari perkawinan Lia Nurat dan Ema Hadu Boleng dikaruniai tujuh orang anak salah satunya anak sulung yaitu Belawaburak – Burak Ama yang merupakan cikal bakal turunan orang-orang Lewoloba. Dari turunan Bapa Belawa Burak dan Ema Nini Daja, sampai dengan Bapa Kebu Doa dan Ema Buku Niron (turunan ke-7) menurunkan 3 orang anak, yang kemudian melahirkan suku-suku di Lewoloba yakni: suku Hurint, suku ama Kelen, suku ama Koten selanjutnya suku Doren dan suku Nuhan. Ke 5 suku ini masing-masingnya memiliki peranan dalam tatanan adat di Desa Lewoloba, ke lima suku ini memiliki nuba nara tersendiri yang memiliki fungsi mensejahterakan masyarakat Desa Lewoloba dan melindungi masyarakat Desa Lewoloba dari ancaman bahaya di masa yang mendatang. Ke lima suku ini memiliki nuba nara kecil (mer’ah) yang diyakini mempunyai kekuatan tersendiri, diantaranya; suku Koten mempunyai nuba nara kecil (mer’ah) disuban tupi wato yang sampai saat ini masih ada, suku Doren mempunyai nuba nara kecil (mer’ah) yang mempunyai kekuatan menghasilkan sumber api yang biasa digunakan dalam upacara buka kebun atau lahan luas, kemudian suku Hurint memiliki nuba nara kecil (mer’ah) yang disebut sawo niwa atau dalam bahasa Indonesia artinya jangkar. Pada Sawo Niwa dipercaya ada penghuninya dalam bentuk buaya, selain itu juga suku Kellen dan Nuhan mempunyai kekuatan tersendiri. Selain itu setiap tahunnya ke lima suku ini melakukan seremonial adat “bela buno pau gotak” atau pujian syukur dan permohonan warga yang disampaikan kepada  Lera Wulan Tana Ekan yang bertempat di nuba nara. Tepatnya setiap bulan Juli masyarakat Desa Lewoloba ikut serta dalam upacara pada nuba nara mulai dari puncak gunung Nuba Pati Gokok Wela Beda Gorek sampai dengan nuba nara Ehe Peni beda waha burak yang ada di Desa Lewoloba.
B.     Makna dan Nilai Nuba Nara Dalam Tatanan Adat orang Lewoloba
Suatu kebudayaan yang telah dihasilkan oleh manusia selalu memiliki makna dan nilai yang menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat pendukungnya sehari-hari. Begitupun dengan adanya nubanara dalam kehidupan orang Lewoloba maka masyarakat menganggap bahwa kebudayaan ini memiliki suatu makna dan nilai yang sangat berpengaruh pada masyarakat orang Lewoloba di Flores Timur.
1.      Makna yang terkandung dalam nuba nara
Manusia sebagai makhluk yang kehidupannya dinamis dalam mengenal simbol untuk mengungkapkan siapa dirinya. Sehingga Simbol-simbol tersebut tidak memadai dalam mengungkapkan makna yang ingin disampaikan. Simbol-simbol tersebut bukan hanya bentuk luar yang menyembunyikan realitas religious yang lebih nyata melainkan sungguh merupakan kekuatan nyata lewat makna manusia menjumpai sesuatu yang dianggap suci atau sakral (Dhavamony, 1995:165).
Dalam hal ini pada setiap aktivitas orang-orang Lamaholot pada umumnya dan orang Lewoloba di Flores Timur khususnya tentunya  memiliki hubungan atau ikatan yang kuat antara masyarakat Desa Lewoloba, Lera Wulan Tana Ekan  dan leluhur (kwokot). Oleh karna itu orang Lewoloba memaknai nuba nara sebagai wujud yang memiliki simbol atau lambang dalam  kebudayaan mereka. Untuk itu orang Lewoloba memaknai nuba nara sebagai:
a)      Ehan tou ( hanya satu)
            Orang Lewoloba memahami Lera Wulan Tana Ekan sebagai Maha pencipta satu-satunya (tunggal). Dia yang Maha Esa telah menciptakan alam semesta termasuk manusia. Manusia diciptakan oleh Dia yang Maha Esa dan diutus oleh-Nya untuk memanfaatkan dan merawat alam semesta. Oleh karena itu, sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada yang Maha Esa itu, manusia tidak diperkenankan menyembah yang lain selain kepada yang Maha Esa itu. Hanya Dialah yang patut disembah oleh karena  kebesaran dan keagunganNya (kaka belen ama yoga atau kaka belen ama blolon). Hanya kepada Dia yang patut dimuliakan (Lera Wulan narane poton pana, Tana Ekan makene sogan gawe). Manusia harus menjunjung tinggi kebesaranNya dan merendahkan diri di hadapanNya. hunge baat-tonga blolo koon Lera Wulan Tana Ekan. Lugu rere-maan onem sare-moon Lera Wulan Tana Ekan yang artinya: angkat muka memuji  Lera Wulan Tana Ekan. tunduk rendah menyembah kaki Lera Wulan Tana Ekan.
b)     One Naen Waibanu Matik Naen Selan Tapo (didalam hatinya lembut teduh seperti air danau)
            Orang Lewoloba sadar dan tahu bahwa Tuhan telah menyerahkan seluruh alam ciptaan-Nya, bumi dan segala isinya, kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia. Betapa besar belas kasih Tuhan kepada manusia.
Atas dasar sifat Maha Kasih itu,  manusia selalu mengadakan hubungan dengan Lera Wulan Tana Ekan untuk memohon keselamatan, kesejukan dan kedamaian. Permohonan ini patut dialamatkan kepada-Nya sebab Lera Wulan Tana Ekan adalah sumber kesejukan, keselamatan dan kedamaian (gelete, gluor-gelete pelumut-gelete owa). Dialah tempat manusia memperoleh kesehatan yang baik, hasil kerja yang baik, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Lera Wulan Tana Ekan menjadi tempat manusia mencari perlindungan (liko lapak) karena Dialah satu-satunya pelindung agung bagi manusia dan seluruh alam (bliko ina, blapak ama). Pada Dialah manusia mengharapkan agar segala bencana dan malapetaka, baik berasal dari alam maupun karena ulah manusia dan tipu daya setan dapat di jauhkan Lera Wulan-Tana Ekan juga menjadi tempat manusia menyampaikan keluh kesahnya (prudut proin). Segala suka dan duka serta semua kebutuhan hidup manusia di sampaikan kepadaNya agar Ia menurunkan pertolongan. Dalam Dia dan bersama Dia, segala kesulitan bisa diatasi.
c)      Hube Naen, Galat Kae ( firmannya sudah dituliskan)
            Hidup dan mati manusia berada di tangan Tuhan. Kapan, di mana dan bagaimana kematian mendatangi seseorang, hanya Tuhanlah yang tahu dan hanya Dialah yang mengaturnya. Dia menjadi awal dan akhir dari kehidupan seorang manusia. Atas dasar kepercayaan bahwa karena Tuhan yang memberi hidup, maka ketika seseorang meninggal, orang-orang Lewoloba mengatakan Lera Wulan guti apan atau Lera Wulan mayaro (Tuhan mengambilnya kembali atau Tuhan memanggilnya kembali). Lewat nuba nara orang Lewoloba juga menyeruhkan dan memuja nama Lera wulan Tana Ekan sebagai maha kuasa, dengan bahasa adatnya “Moe bapa pana hau gere berkat aja slamat dene horo geta kame soga ala laran nuhan gait kame ikit bapa maken blola blola amen” yang artinya: Engkau bapa datang memberi berkat atau pekerjaan kami dan juga mohon berkat untuk kebahagian demi memuji tuhan.amin
d)     Noon Tilun Noon Matan (punya telinga dan mata)
            Dalam adat orang Lewoloba meyakini Lera Wulan Tana Ekan (Tuhan) mengetahui pikiran, perkataan dan perbuatan . dalam bahasa adat Lewoloba mengatakan “Tilun bain mata hoi wekin dile” yang diartikan tuhan mengetahui segalahnya yang terjadi di dunia. Ada dua konsekuensi dari kemahatahuan Tuhan ini; pertama, Dia akan memberikan ganjaran atau pembalasan atas perbuatan baik manusia. Manusia yang berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan akan memperoleh rahmat dariNya. Kedua, atas perbuatan tidak baik, Tuhan akan memberikan hukuman atau kutukan yang langsung dialami manusia dalam hidupnya dan di akhirat nanti.
Rahmat atau anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang baik hidupnya nampak dalam hal memperoleh penghasilan yang baik-murah rezeki, kesehatan yang baik, umur yang panjang, keturunan yang berhasil, dan lain sebagainya. Sedangkan hukuman atau kutukan dari Tuhan nampak dalam hal-hal seperti; tidak memperoleh penghasilan yang baik, sakit, tidak dikaruniakan keturunan, ditimpa bencana alam, serangan hama, kematian yang tidak wajar, dan lain sebagainya.
2.      Nilai-nilai yang terkandung dalam Nuba Nara
            Nuba nara mempunyai kandungan nilai yang berharga atau penting bagi kehidupan masyarakat pendukungnya kerena dianggap sebagai suatu nilai budaya yang dapat membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Sesuatu yang bermutu berarti sesuatu yang berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Suatu nilai terdiri dari konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagai warga masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap bernilai dalam kehidupan (Koentjaraningrat 1985:39). Nilai-nilai yang terkandung dalam nuba nara adalah:
a)      Nilai Religius
Zaman dahulu masyarakat Desa Lewoloba sudah meyakini dan percaya akan adanya Allah, tetapi mereka tidak sanggup mengungkapkan adanya Allah itu. Mereka menyebut nama wujud tertinggi itu dengan simbol Lera Wulan Tana Ekan. Tanda kehadiran Wujud Tertinggi itu mereka imani lewat nuba nara. Lera Wulan adalah benda langit (matahari dan bulan) yang berada jauh di tempat tinggi, dan tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Sesungguhnya, hal ini mengandung makna bahwa Tuhan itu berada di tempat yang tinggi, tidak dapat dijangkau oleh akal manusia dan mesti diberi tempat tertinggi di atas segala sesuatu yang lain. Dalam percakapan sehari-hari, bila orang menyebut Lera Wulan, orang selalu menunjukkan jarinya ke atas langit.Penunjukan jari ini melambangkan bahwa Tuhan itu berada di atas atau berada di tempat yang tinggi.
Lera Wulan juga merupakan sumber terang dan Dia adalah terang itu sendiri. Ia menerangi Bumi dan alam semesta. Tanpa terang yang dipancarkan oleh matahari pada siang hari dan bulan pada malam hari, kehidupan di bumi tak dapat berjalan dengan baik. Dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa Tuhan itu adalah sumber kehidupan. Dari langit, turunlah berkat bagi kehidupan di dunia. Berkat itu hadir dalam bentuk hujan, angin, embun, pergantian musim, dan lain sebagainya. Kedudukan Tuhan yang tinggi ini, mengandung makna bahwa Tuhan adalah pemberi hidup sekaligus menjadi penyelenggara kehidupan di Bumi. Dialah penguasa langit dan Bumi, penguasa alam semesta.
Tana Ekan adalah tempat hidup semua makhluk ciptaan manusia yang berada dekat dan bersama manusia.Simbolisasi ini mengandung makna bahwa selain berada di tempat yang tinggi dan jauh dari manusia, tapi Dia juga dekat.Dia tak terjangkau oleh indera manusia tetapi menjangkaui manusia sebab keberadaan-Nya dekat dan bersama manusia. Tana Ekan menerima berkat yang turun dari langit.Dia juga menyediakan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan manusia.
Hubungan antara Lera Wulan dan Tana Ekan (Lera Wulan-Tana Ekan).Ungkapan Lera Wulan dan Tana Ekan ini tak dapat dipisahkan atau tak dapat berdiri sendiri.Keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam pemahaman inilah maka simbol atau cara membahasakan Wujud Tertinggi tidak hanya disebut Lera Wulan atau Tana Ekan sendiri atau secara terpisah-pisah, tetapi keduanya harus disatukan agar memiliki makna yang utuh mengenai Wujud Tertinggi itu. Ungkapan Lera Wulan Tana Ekan ini tersirat juga makna imanensi dan transeden sang Ilahi. Bagi masyarakat Lamoholot Allah selain jauh (transenden) dan Mahadahsyat tetapi juga dekat dan akrab dengan manusia (imanen) terkhususnya masyarakat Desa Lewoloba. Seperti yang tersirat dalam bahasa adat yakni:
O Lera Wulan Lango go’en nalan tenak’en Mo’e n’ein kame’ be’ra sar’e Niang go’e sa’re Go’e be’lo noon witi wawe!

Jika diterjemahkan secara harafiah maka artinya yaitu:
O Lera Wulan Rumahku tidak bersalah  Sembuhkanlah kami segera Apabila saya telah sembuh Akan kusembelih kambing dan babi untukmu!.
Bentuk bahasa adat diatas merupakan suatu permohonan atau doa kepada Lera Wulan agar diberikan kesembuhan dari penyakit. Hal ini merupakan wujud kepercayaan yang bersifat religius, bahkan jauh sebelum masyarakat Desa Lewoloba  mengenal agama modern.
b)     Nilai Pendidikan
                 Pendidikan merupakan cara manusia untuk memanusiakan manusia ke arah yang lebih maju atau moderen dan membawakan perubahan segala tatanan kehidupan dalam bermasyarakat. Nuba nara dapat dimaknai nilai pendidikannya yakni suatu tindakan atau kebudayaan yang secara turun-temurun. Dimana kita mensyukuri segala rahmat dan kasih yang di- berkahi oleh para leluhur dan sang penguasa. Tentunya memiliki nilai pendidikan akan pentingnya mensyukuri segala sesuatu yang kita peroleh. Seperti yang tersirat dalam bahasa adat yakni:
De’ing kala hadan tuak Sadik kala ge’rang marak Kebang ahik leang tonu gere tobo wujo taming pae naang sadik dang bala amang tieng biri sina

Jika diterjemahkan secara harafiah maka artinya yaitu:
Ku berdiri menghidangkan tuak Dan tegap menyuguhkan nira Dalam upacara syukuran lumbung Agar padi masuk ke lumbung  Dan jagung dinaikkan ke anjungan Saudara menyandarkan tang Sedangkan bapa menyingkap pintu.

Hal diatas merupakan suatu bentuk doa yang mengajarkan betapa pentingnya rasa syukur terhadap sesuatu yang di berikan oleh sang pencipta ( Lera Wulan Tana Ekan). Hal diatas juga menjadi harapan masyarakat Lewoloba ketika bersama-sama memanen hasil bumi maka doa diatas diucapkan di nubanara sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih terhadap Lera Wulan Tana Ekan.
c)      Nilai Historys
            Dalam makna historys ini segala aktivitas yang berkaitan dengan hubungan spiritual antara orang Lewoloba, Leluhur (Kwokot), dan Lera Wulan Tana Ekan (Allah) merupakan suatu peristiwa berulang yang secara turun-temurun hubungan itu terus berlangsung sampai dimasa yang akan datang. Orang  Lewoloba pada waktu itu lebih percaya akan adanya nubanara yang dianggap suatu peristiwa penyelamat bagi masyarakat. Seperti yang tersirat dalam bahasa adat yakni:
Moe bapa pana hau gere berkat aja slamat dene horo geta kame soga ala laran nuhan gait kame ikit bapa maken blola blola amen

Jika diterjemahkan secara harafia maka artinya yaitu:
Engkau bapa datang memberi berkat atau pekerjaan kami dan juga mohon berkat untuk kebahagian demi memuji tuhan.amin
Hal diatas  merupakan sebuah peristiwa sejarah yang dilakukan dari waktu ke waktu dan diwariskan kepada generasi penerus. Dimana merupakan doa pembuka dalam berbagai upacara adat yang tepatnya dilakukan di nubanara . Dalam hal ini merupakan suatu bentuk permohonan kepada sang penguasa Lera Wulan Tana Ekan untuk hadir ditengah-tengah mereka. Maka dari waktu ke waktu Orang lewoloba selalu mengawali sebuah ritual adat dengan ucapan bahasa adat tersebut.
d)     Nilai Simbolisme
                 Karena Nuba Nara diyakini sebagai tempat istirahat Lera Wulan Tana Ekan maka tidaklah mengeherankan jika berbagai ritus adat dilaksanakan di Nuba Nara. Oleh karena itu nuba nara bukan hanya sebuah tiang batu tetapi ia melampaui benda-benda mati yakni batu tersebut seperti orang tua yang melahirkan serta memelihara dan melindungi seluruh masyarakat Desa Lewoloba.nuba nara adalah Lera Wulan Tana Ekan (Allah), nuba nara adalah Koda (Sabda), nuba nara adalah Roh yang diam dan hidup dalam dunia masyarakat suku bangsa Lamaholot. Seperti yang tersirat dalam bahasa adat yakni:
O nuba nara mo’e surat galat alateng Mo’e surat galat alatengMo’e surat galat iru mata go’en Mo’e  jadi le’I lima go’en Leron paline go’e p’eten mo’e Nekung go ket’e a tou di hala Pukeng mo’e n’eling go’e barang go’en take Mo’e di moiro
Go’e sega maring mo’e kaang  wewak among Mo’e menange noon go’e Ne’ing belara berihang go’en sare!

Jika diterjemahkan secara harafiah maka artinya yaitu:
O nubanara engKaulah pencipta Kau ciptakan hidung dan mataku (raut wajahku)
Menciptakan kaki dan tangan ku Pada hari ini saya ingat akan engkau Tetapi saya tidak membawa sesuatu apa pun Karena engkau tidak memberi harta kepada ku Saya tau bahwa saya tidak mempuyai apa-apa  Dan engkau juga tahu  Saya dating hanya dengan tutur kata Kasihanilah saya Berikanlah kesembuhan atas penyakit ku!
Hal diatas merupakan bentuk permohonan terhadap Lera Wulan Tanah Ekan yang disampaikan lewat nubanara yang dipercayai sebagai wujud atau simbol dari Lera Wulan Tana Ekan.
e)    Nilai Sosial
            Nilai sosial yang terkandung dalam nuba nara dilandasi oleh rasa persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan kekeluargaan masyarakat di Desa Lewoloba. Rasa persatuan persaudaraan dan kekelurgaan ini merupakan komitmen moral sebagai ungkapan doa dan bentuk dukungan sebagai mata rantai dari keluarga, kerabat atau hubungan kekerabatan yang perlu dibina secara teru menerus. Oleh karena itu jika roh leluhur (Kwokot) sudah duduk bersama, maka keluarga dan sahabat juga bersama. Ini adalah bentuk dukungan secara moril maupun materil dari pihak keluarga dan kerabat bagi anggota keluarga yang bersangkutan.Bentuk solidaritas sesama manusia dikatakan bermuara solidaritas karena dukungan secara spontanitas itu tidak mengharapkan imbalan. Seperti yang tersirat dalam bahasa adat yakni:
Lera Wulan lodo hau tana Ekan gere haka hone kurung waning kawak gurung pulo ake lodo lein lema ake gere werang pulo mor lema memet

Jika diterjemahkan secara harafia maka artinya yaitu:
Turunlah kemari, Lera Wulan hadirlah ke sini, Tana Ekan bangunkan sangkar untuk menghimpun semua dan buatkan hunian merngkul segenap insan korke bale yang terbangun pantas asri agar semuanya jangan terpencar dan pergi ke mana-mana (tidak mati) semuanya terhimpun dengan baik.

Hal diatas tentunya merupakan sebuah doa yang mengharapkan diberikan kesejahteraan serta mengukukkan hubungan kekeluargaan masyarakat Desa Lewoloba.
f)       Nilai gotong royong
                 Dalam budaya masyarakat suku bangsa Lamaholot gotong royong dikenal dengan nama “gemohing”. gemohing berarti bekerja secara terjawal dari satu kebun ke kebun yang lain tanpa diberikan gaji, namun makanannya disiapkan oleh tuan kebun. Nilai gotong royong dalam nuba nara lewat berbagai rangkaian adat di nuba nara dimana antusias dari masyarakat Desa Lewoloba dalam mengembangkan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.  Seperti yang tersirat dalam bahasa adat yakni:
O ina kelake Lera Wulan ama klae tana ekan ape ina kelake gere kae lera hode haka kae gang gere ile kae nenu taming woka kae duli tukan laen kae pali bawa melut kae kenehe goen au oran marik goen puka lolon kat kala gere lewo  baang kala taming tana. Gere tobo koke tukan taming pae bale bawan goang bele namang tukan hapan aja nedung lolon. Timu bera tobeng tueng warat amang golo gere! Bera-bera nawo tobo regi-regi dopeng pae.

Jika diterjemahkan secara harafiah maka artinya yaitu:
O ibu-tuan lera wulan bapa-ibu tana ekan api sudah menyala terik matahari telah membakar ke gunung dan merambat ke bukit. Kebun sudah tersiap bersih ladang telah tersiang rapi penggesekku dari bambu aurunggunanku dedaunan rimba kubawa memasuki kampung halaman kupanggul masuk ke perkampungan. Saya naik ke dalam korke-bale duduk di tempat yang laras bersorak meriah di tengah namang lantang memohon di tengah pelataran tarian. Kuberdiri meminta hujan turun tegap memanggil hadirnya musim barat angin timur berbaliklah arah angin barat berhembuslah kemari turunlah hujan lebat bersama tiupan angin barat mencurah limpah! Bersegera menghantarkan (bibit) cepat-cepat menghantar ke tempatnya.
Hal diatas memngandung nilai gotong-royog, dimana terlihat masyarakat Desa Lewoloba bersama-sama bekerja membuka ladang untuk memenuhi kebutuhan mereka kedepannya sehingga bersama-sama memohon kepada Lera Wulan Tana Ekan memberikan restu serta berkat kepada orang Lewoloba , lewat sebuah upacra dan doa permohonan orang Lewoloba.
C.    Hubungan antara Nubanara, Leluhur (kwokot) dan Lera Wulan Tana Ekan dalam kehidupan orang Lewoloba
                 Nubanara adalah roh para leluhur dan Lera Wulan Tana Ekan yang kemudian menjadi satu dan hidup ditengah-tengah masyarakat di Flores Timur, suatu wujud yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Lewat nuba nara orang biasa menghaturkan segala permohonan dan memperoleh kesejahteraan akan hidup yang lebih baik. Dalam kepercayaan masyarakat di Flores Timur ketika dilandai suatu bencana tentunya masyarakat tau ada hal yang salah dalam kehidupan mereka, maka secara tidak langsung  pasti orang-orang atau tua adat pasti akan ke nubanara untuk berdoa atau membuat suatu ritual. Masyarakat di Flores Timur pada umumnya mempercayai jika ada bencana yang melandai mereka maka itu pasti ada kesalahan yang diperbuat. Bencana datang atas kehendak Lera Wulan Tana Ekan maka untuk menyingkir suatu bencana maka dibuat ritual adat. Salah satunya ritual adat “bela buno pau gotak”  yang dilakukan di nubanara (Paul arndt 2003:154) 
                 Kehidupan orang Lewoloba tidak terlepas dari adat-istiadat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam hal ini masyarakat mempunyai suatu prinsip akan segala aktivitas kehidupan di dunia ini merupakan perpanjangan tangan dari para leluhur (kwokot) dan sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan). Dalam tatanan adat orang Lewoloba, masyarakat memegang suatu keyakinan bahwa akan ada kehidupan yang sejahtera jika sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan) dan para leluhur (kwokot) merestuhi segala usaha dan tindakan masyarakat maka semuanya pasti baik adanya. Prinsip ini yang kemudian menjadi landasan orang Lewoloba supaya terus meminta dan memohon restu serta  perlindungan akan kehidupan yang layak dan sejahtera. Terutama nubanara yang diyakini sebagai penghubung surga dan bumi sehingga lewat nubanara masyarakat dapat memohon kepada sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan) lewat para leluhur (kwokot) (Kellen 2004: 25).
                 berdasarkan wawancara dengan bapak Fransiskus Roy Hurint (37) 23 juni 2017 beliau menjelaskan bahwa, orang Lewoloba juga sering ketika memohon atau  meminta sesuatu kepada Lera Wulan misalkan meminta kesembuhan dari penyakit atau sakit yang di derita maka orang biasanya pergi secara individu atau sendiri ke nubanara. Ketika sesampainya di nubanara dia berdoa jika dalam bahasa adatnya:
O nuba nara mo’e surat galat alateng Mo’e surat galat alateng Mo’e surat galat iru mata go’en Mo’e  jadi le’I lima go’en  Leron paline go’e p’eten mo’e Nekung go ket’e a tou di hala Pukeng mo’e n’eling go’e barang go’en take Mo’e di moiro Go’e sega maring mo’e kaang  wewak among Mo’e menange noon go’ Ne’ing belara berihang go’en sare!
Jika diterjemahkan secara harafiah maka artinya yaitu:
O nubanara EngKaulah pencipta  Kau ciptakan hidung dan mataku (raut wajahku) menciptakan kaki dan tangan ku pada hari ini saya ingat akan engkau tetapi saya tidak membawa sesuatu apa pun karena Engkau tidak memberi harta kepada ku saya tau bahwa saya tidak mempuyai apa-apa dan engkau juga tahu saya datang hanya dengan tutur kata kasihanilah saya berikanlah kesembuhan atas penyakit ku!
Doa tersebut biasanya diucapkan secara pribadi ketika berada di nubanara, ketika doa tersebut terkabul atau direstui Lera Wulan maka orang yang berdoa tentunya mengkurbankan binatang sebagai lambang terimakasih terhadap Lera Wulan. Orang Lewoloba mempercayai ketika diadakan ritual atau doa secara pribadi di nubanara. Leluhur juga memiliki hubungan yang erat dengan orang Lewoloba karena leluhur di yakini dekat dengan sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan). Lewat leluhur orang Lewoloba menghaturkan doa kepada Lera Wulan Tana Ekan. Leluhur juga dipercaya sebagai penuntun hidup atau pembimbing orang lewoloba dalam menghadapi kehidupan di bumi (Tana Ekan). Leluhur merupakan roh yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Lewoloba di bumi (Tana Ekan). Ketika orang Lewoloba mengadakan ritual tentunya, mereka memanggil roh para leluhur (kwokot) untuk duduk bersama-sama dalam rumah adat (koke bale) atau di depan batu mezbah/keramat  nubanara dalam meminta atau memohon akan kehidupan yang sejahtera dan terhindar dari bencana yang datang melandai orang Lewoloba. Ketika sang penguasa memberi restunya maka lewat roh para leluhur (kwokot) tentunya akan diberi sebuah petanda, biasanya lewat hewan yang dikurbankan sehingga orang lewoloba dapat mengetahui dan meramalkan apa yang terjadi di masa yang akan datang.
                 Kehidupan orang Lewoloba juga memiliki suatu hubungan spiritual yang tak terpisahkan antara roh para leluhur (Kwokot)  dan sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan). lewat nubanara yang diyakini sebagai perantara yang membentuk suatu ikatan spiritual, masyarakat Desa Lewoloba sering menganggap bahwa segala aktivitas kehidupan mereka di kehendaki atau ada yang mengatur dan mensejahterakan. ikatan ini yang kemudian diungkapkan lewat berbagai upacara adat di nubanara (Kellen 2005:50).
                 Upacara adat bela buno salah satunya yang menjadi bukti dari hubungan yang tak terpisahkan. di adakan di puncak Ile Mandiri yang terdapat nubanara dari leluhur orang Lewoloba sehingga segala permohonan dan pujian dihaturkan lewat nubanara akan kehidupan orang Lewoloba agar mendapat restu dan bimbingan untuk kehidupan yang sejahtera serta jauh dari segala macam bahaya yang melanda di masa yang mendatang. lewat upacara ini orang Lewoloba juga menggambarkan bahwa nubanara merupakan wujud dari roh nenek moyang dang sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan)yang hidup dan bersemayam dalam batu nubanara.
BAB IV
PENUTUP
            Pada bagian penutup ini terdiri atas simpulan dan saran. Dalam simpulan berisikan kesimpulan secara umum dari rumusan yang sudah dikaji atau dibahas,  sedangkan dalam saran dijelaskan harapan dari penulis bagi masyarakat, tua adat, dan pemerintah dalam menanggapi dan menyikapi sesuai harapaan dari penulis, maka daapat diuraikan sebagai berikut:
A.    Simpulan
            Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Asal-Usul Nuba Nara yang ada di Desa Lewoloba
Dari hasil penelitian tentang nuba nara dalam budaya masyarakat Lamaholot di Desa Lewoloba. Maka dapat disimpukan bahwa kepercayaan masyarakat Desa Lewoloba akan nuba nara sebagai penghubung surga dan bumi, yang memiliki kekuatan yang amat dasyat. Dalam hal ini nuba nara sudah menjadi peninggalan nenek-moyang masyarakat Desa Lewoloba. Bapak Lia Nurat atau dalam sapaan masyarakat Desa Lewoloba Ama Nurat Ama merupakan nenek moyang asli masyarakat Desa Lewoloba nuba nara milik Lia Nurat yang diberi nama Nuba Pati Gokok Wela Beda Gorek, ke lima suku di Desa Lewoloba juga memiliki nuba nara kecil (Mer’ah) yang diyakini mempunyai kekuatan tersendiri, setiap tahunnya juga ke lima suku ini juga melakukan seremonial adat “Bela Buno pau gotak” atau pujian syukur dan permohonan warga yang disampaikan kepada  Lera Wulan Tana Ekan yang bertempat di nuba nara.
2.      Makna dan Nilai Nuba Nara Dalam Tatanan Adat orang Lewoloba
Nuba nara dalam tatanan adat mayarakat di Desa Lewoloba mengandung makna Ehan tou ( Tuhan Yang Maha Esa), One Naen Waibanu Matik Naen Selan Tapo (Tuhan Maha Kasih), Hube Naen, Galat Kae (Tuhan Yang Mahakuasa) dan Noon Tilun Noon Matan (Tuhan Mahatahu). Nuba nara dalam tatanan adat mayarakat di Desa Lewoloba juga mengandung nilai Historys, nilai Sosial, nilai Religius, nilai Simbolisme, nilai Gotong-royong dan nilai Pendidikan
3.      Hubungan antara Nuba nara, Leluhur (kwokot) dan Lera Wulan Tana Ekan dalam kehidupan masyarakat orang Lewoloba
Kehidupan masyarakat Desa Lewoloba tidak terlepas dari adat-istiadat dan tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun. Dalam hal ini masyarakat mempunyai suatu prinsip akan segala aktivitas kehidupan di dunia ini merupakan perpanjangan tangan dari para leluhur (kwokot) dan sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan). Dalam tatanan adat orang Lewoloba, memegang suatu keyakinan bahwa akan ada kehidupan yang sejahtera jika sang penguasa (Lera Wulan Tana Ekan) dan para leluhur (kwokot) merestuhi segala usaha dan tindakan masyarakat maka semuanya pasti baik adanya
4.      Saran
            Berdasarkan uraian pada pembahasan  hasil penelitian tentang nuba nara dalam budaya masyarakat di Desa Lewoloba, maka penulis memberikan beberapa saran :


1.      Bagi masyarakat
Penulis  menyarankan kepada masyarakat Desa Lewoloba untuk tetap mempertahankan dan melestarikan warisan leluhur. Terkhususnya nubanara yang mnjadi tradisi peninggalan nenek moyang. Selain itu diharapkan agar masyarakat hendaknya berpartisipasi dalam rangkaian adat maupun upacara-upacara penting lainnya, sehingga warisan kebudayaan leluhur kita pasti akan tetap terjaga sampai generasi berikutnya.
2.      Bagi tua adat
Mengingat respon dari kaum muda yang tidak peka terhadap kebudayaan sendiri saat ini, maka diharapkan kepada tua adat sebagai agen pewarisan budaya agar tidak berhenti memberikan pengertian dan pemahaman tentang nubanara dalam tradisi orang Lewoloba, terutama belajar menyangkut syair dalam bahasa adat, sehingga budaya warisan leluhur ini tetap dijaga dan dilestarikan.
3.      Bagi pemerintah
Demi menunjang pelaksanaan pelestarian budaya yang ada, maka penulis mengharapkan partisipasi dari pemerintah kabupaten maupun desa. Penulis berharap agar sama-sama kita menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan yang diwarisi leluhur, dalam hal ini tempat-tempat yang dianggap sakral yang perlu untuk dijaga ataupun diperhatikan serta diperbaiki Terutama nubanara yang ada di Lewoloba harus di perhatikan. Karena setiap peninggalan merupakan ikon dan karakteristik dari diri kita sendiri. Sehingga perlu adanya kesadaran dalam usaha pelestarian.
DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1984. Upacara Tradisional Daerah Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Proyek Inventaris dan Dokumen Kebudayaan Daerah            
Dhavamony, Mariasusai. 1995. Fenomelogi agama. Yogyakarta: Kanisius
Paul Arndt, SVD. 2003.  Agama Asli di Kepulauan Solor. Maumere: Puslit Candraditya
Fatchan. 2013. Metode penelitian kualitatif. Malang: Universitas Negeri Malang.
Harjono. 1979. Pengantar Antropologi. Jakarta: Bina Cipta
Iskandar. 2008.  Metode Penelitian Pendidikan Dan Sosial (Kualitatif Dan Kuantitatif) Jakarta: Gaung Persada.
Kellen, Petrus. 2004. Nubanara dalam adat masyarakat Lewoloba.bahan ajar tidak dipublikasi. Larantuka: Smk Lamaholot
Koentjaraningrat. 1982. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia
                           . 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit Rineka  Cipta
_____________. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
                          .1985. Pengantar ilmu Antropologi II.Jakarta:  Aksara Baru
Kopong, Elias. 1982. Pengkajian dan Pembinaan nilai-nilai Budaya Nusa Tenggara Timur NTT. Jakarta: Proyek Inventaris dan Dokumen Kebudayaan Daerah.                
Krisdalaksana, Harimurti. 2008. Kamus linguitik. Jakarta: Gramedia
Margono. 1996. Metode Penelitian. Jakarta: Rhineka Cipta.
Moleong. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosada Karya.
              .  2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Milles, M.B. and Huberman, M.A. 1984. Qualitative Data Analysis. London:  Sage Publication
Peursen, C.A. Van. 1988. Strategi Kebudayaan. Jogjakarta: Kanisius.
Setiadi, Elly M. Dan Kolip Usman. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana Preneda Media Group
Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius
Sugiyono, 2015. Metode Penelitian Pendidikan ( Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D) Bandung: Alfabeta
Syahodi. 2006. Penelitian kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group
Spradley, James. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana
Taylor E.B dan Kuswanto. 1989. Ilmu Budaya Dasar dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta
Triswanto, Sugeng D. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.












Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel