Biografi | Pangeran Diponegoro- kisah perjuangan


Halo salam Jasmerah...jumpah lagi di postingan duniasejarah25 kali ini saya akan menyajikan kisah hidup dari salah satu pahlawan yakni Diponegoro okey....langsung saja silakan dicermati  kalau ada yang kurang silahkan coment dibawah...😃😃😀 

Asal-usul Diponegoro

Diponegoro merupakan putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. beliau Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) yang bernama R.A. Mangkarawati, adalah seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Mustahar lalu diubah namanya oleh Hamengkubuwono II tahun 1805 menjadi Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
Menyadari bahwa posisinya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi seorang raja. Dia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Mempunyai 3 orang istri, ialah: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum
Diponegoro lebih berminat pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih menyukai tinggal di Tegalrejo daerah tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya kepada keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu member perwalian yang memandu Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, walaupun pemerintahan sehari-hari diatur oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Metode perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat pengorbanan

Perang Diponegoro bermula saat pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan benar-benar mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menyanggah Belanda secara terbuka, mendapatkan simpati dan dukungan rakyat. Atas saran pamannya Pangeran Mangkubumi, akhirnya Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Ketika itu, Diponegoro menyatakan bahwa konfrontasinya ialah perang sabil, konfrontasi menghadapi kaum kafir. Motivasi \\\"perang sabil\\\" yang dikobarkan Diponegoro membawa imbas luas hingga ke kawasan Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, turut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Beragam cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Malahan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberi kepada siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro dicokok pada 1830.

Penangkapan dan pengasingan


•    16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens berjumpa di Remo Kamal, Bagelen (kini masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dahulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
• pada tanggal 28 Maret 1830 pangeran Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan diplomasi dan mendesak Diponegoro agar menghentikan peperangan. Permintaan itu kemudian ditolak Diponegoro. Melainkan Belanda sudah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro dicokok dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan segera ke Batavia menerapkan kapal Pollux pada 5 April.

• 11 April 1830 sampainya di Batavia dan ditawan di Stadhuis (kini gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
• 30 April 1830 keputusannya bahwa, Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan diasingkan ke Manado.
• pada tanggal 3 Mei 1830 pangeran Diponegoro besertarombongannya diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
• tahun 1834 beliau dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
• pada tanggal 8 Januari 1855 pangeran Diponegoro wafat dan dimakamkan di sebuah kampung  Jawa Makassar.

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Baik Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo menjalankan peperangan di kawasan Kulon Progo dan Bagelen.

Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan Belanda. Ki Sodewo kecil atau Bagus Singlon tumbuh dalam asuhan Ki Tembi, orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Bagus Singlon atau Raden Mas Singlon atau Ki Sodewo sesudah remaja menyusul ayahnya di medan pertempuran. Hingga ketika ini keturunan Ki Sodewo masih konsisten eksis dan salah satunya menjadi wakil Bupati di Kulon Progo bernama Drs. R. H. Mulyono.

Setidaknya Pangeran Diponegoro memiliki 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di segala Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Sekian postingannya silakan yang mau berdiskusi dan sampai jumpa di postingan berikutnya.😃😀😉😃 

0 Response to "Biografi | Pangeran Diponegoro- kisah perjuangan "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel