Kajian Tentang Tradisi Kumpul Kope Terhadap kehidupan Sosial Masyarakat Manggarai di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur | SKRIPSI

Tradisi Kumpul Kope Terhadap kehidupan Sosial Masyarakat Manggarai di Kecamatan Sambi Rampas

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG   
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan istimewa. Dikatakan sempurna dan istimewa karena manusia memiliki akal budi yang dimana menjadi pembeda antara manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan akal budinya manusia dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang patut ditiru dan tidak patut ditiru. Melihat kodrat manusia sebagai makluk ciptaan Tuhan maka manusia dijadikan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia selalu dihadapkan dengan berbagai kebutuhan dan kesulitan yang tidak bisa dipenuhi secara sendiri walaupun mengandalkan kekuatan ataupun kemampuannya. Dalam hal ini manusia akan selalu membutuhkan bantuan orang lain yang merupakan kerjasama dengan manusia lain yang tergabung dalam suatu kehidupan masyarakat sedangkan manusia sebagai makhluk sosial senantiasa membutuhkan orang lain, oleh karena itu manusia senantiasa membutuhkan interaksi dengan manusia yang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisai. Bersosialisasi disini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya dengan maksud  manusia bertindak sosial dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya demi kelangsungan hidup sejenisnya. Potensi dalam diri manusia hanya dapat berkembang bila ia hidup dan belajar bersama manusia lainnya (Thok, Tugiono(2015):https/www.Mediabelajar.ef).

Dalam kehidupan manusia, antara laki-laki dan perempuan secara alamiah pastinya memiliki daya tarik antara yang satu dengan yang lainnya untuk hidup bersama. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Prodjodikoro (1985:71) bahwa sudah menjadi kodrat alam bahwa dua (2) orang manusia dengan jenis kelamin berlainan antara seorang perempuan dan seorang laki-laki memiliki daya tarik menarik satu sama lain. Untuk hidup bersama ini manusia haruslah melangsungkan suatu perkawinan. Menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 merumuskan bahwa negara berdasarkan asas Ketuhanan Yang Maha Esa, bertolak dari masalah di atas m aka Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan khususnya pasal 2 ayat (1) menetapkan bahwa perkawinan yang sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.
  Perkawinan sebagai mata rantai kehidupan (life cycle) merupakan ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim dan seksual dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga). Dalam pelaksanaannya masyarakat mempunyai bentuk serta tata cara yang berbeda-beda, sebagaimana tercermin dari keanekaragaman budaya yang terdapat pada masyarakat indonesia.
      Bervariasinya bentuk maupun tata cara perkawinan di setiap daerah menunjukkan kekayaan budaya tradisional bangsa yang perlu dipertahankan dan terus dilestarikan karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur dan norma-norma yang mampu mengekang perbuatan negatif untuk menghasilkan tingkah laku positif.
Budaya perkawinan Manggarai menganut sistem kekerabatan patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah). Anak laki-laki setelah kawin tetap tinggal pada marga orangtua kandungnya, sedangkan anak perempuan setelah kawin ia harus meninggalkan kampung halaman/kelahirannya, orangtua kandung, serta sanak saudaranya dan  mengikuti marga suaminya (Nggoro, 2006:86).
Hubungan kekerabatan orang Manggarai begitu kuat, akrab, bersatu, harmonis, penuh persaudaraan, dan ada rasa kekeluargaan, baik antara anak rona (keluarga asal istri/keluarga pemberi istri), anak wina (keluarga asal suami/keluarga penerima/pengambil istri), pa’ang ngaung (keluarga tetangga), maupun hae reba (kenalan dekat). Mereka sangat akrab, bersatu dalam banyak hal, misalnya dalam  urusan perkawinan. Wujud persatuan, partisipasi aktif mereka yaitu berupa kumpul kope (perkumpulan dana perkawinan anak laki-laki) (Nggoro, 2006:86).
Perkawinan bagi masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur bukan semata-mata menjadi urusan pribadi melainkan juga merupakan urusan keluarga, kerabat dan masyarakat atau dengan kata lain perkawinan juga merupakan urusan suku dan masyarakat, karena terlibat langsung dalam proses perkawinan antara calon suami dan calon istri.  Suatu perkawinan dikatakan ideal apabila menempuh tahap-tahap perkawinan yaitu tahap perkenalan anatara orangtua laki-laki dan orangtua perempuan, tahap peminangan atau pertunangan, tahap kumpul kope, tahap pemberian atau penyerahan belis dan tahap mengantar pengantin ke rumah pengantin pria(Nggoro, 2006:86).
Dalam hal ini apabila yang kawin adalah laki-laki maka berarti anggota keluarga laki-laki, kerabat dan masyarakat merasa berkewajiban untuk membantu keuangan keluarga laki-laki untuk menyelesaikan biaya adat dan biaya permintaan pihak perempuan serta biaya perkawinan lainnya. sehinggah salah satu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan adalah kumpul kope. Tradisi kumpul kope merupakan pengumpulan dana atas dasar persatuan keluarga kerabat patrilineal (wa’u/ase kae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) dal am rangka persiapan perkawinan anak laki-laki/ calon mempelai laki-laki (tae laki)(Nggoro, 2006:86).
Makna tradisi kumpul kope dalam adat masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu bentuk solidaritas antara keluarga kerabat patrilineal, kerabat tetangga dan juga kerabat kenalan dekat dalam penyelesaian biaya belis. Dengan adanya tradisi kumpul kope secara tidak langsung dapat menyatukan dan mempererat hubungan antara keluarga dan kerabat serta meringankan beban keluarga laki-laki dalam menyelesaikan biaya belis. Dalam hal ini seorang laki-laki yang hendak menikah  mempunyai tanggungjawab atau utang laki-laki, karena ia sudah dibantu oleh orang lain dan jika orang lain meminta bantuannya dalam hal yang sama, ia harus siap dan wajib membantu. Jika tidak orang tidak akan membantunya di masa yang akan datang dan orang tersebut dianggap sombong, sekikir dan pelit. Tradisi kumpul kope sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat kecamatan Sambi Rampas kabupaten Manggarai Timur. Hal ini mempunyai nilai dan makna tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat(Nggoro, 2006:87).
Berdasarkan gambaran dari latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Kajian Tentang Tradisi Kumpul Kope Terhadap kehidupan Sosial Masyarakat Manggarai di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur“

B. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa Tradisi kumpul kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial  masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
2. Bagaimana proses pelaksanaan Tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?3. Nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam Tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
C. TUJUAN
1.  Menjelaskan alasan Tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
2. Mendeskripsikan proses pelaksanaan Tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
3. Menjelaskan nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam Tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan studi pada jenjang S1 Jurusan  PPKn, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang
2. Sebagai bahan informasi dan referensi untuk peneliti selanjutnya dalam hal kebudayaan.
3. Untuk menyumbang pikiran dalam usaha meningkatkan ilmu pengetahuan serta memperluas lagi bahan bacaan bagi penulis dan masyarakat mengenai pelaksanaan Tradisi Kumpul Kope
4. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat umum dan khususnya masyarakat di kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur, bahwa Tradisi Kumpul kope merupakan salah satu bentuk solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II
TINJAUAN EMPIRIS, KONSEP DAN KERANGKA BERPIKIR
A. TINJAUAN EMPIRIS
Suharti (2011) “ Tradisi Kaboro Co’i Pada Perkawinan Masyarakat Bima Perspektif URL “ .  permasalahannya adalah faktor yang melatarbelakangi adanya tradisi Keboro Co’i dan konsep ‘urf terhadap tradisi Keboro Co’i dalam perkawinan  masyarakat Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa factor yang melatarbelakangi tradisi Keboro Co’i ialah keinginan untuk saling membantu sesama karena masyarakat setempat masih memegang teguh sistem gotong royong dan tradisi Keboro Co’i  dipahami sebagai warisan leluhur yang apabila tidak dilakukan maka akan terasa kurang sempurna dalam proses perkawinan.
                   Perbedaan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Suharti adalah peneliti terdahulu memfokuskan penelitiannya pada tradisi Keboro Co’i pada perkawinan masyarakat Bima dan lokasi penelitian berbeda. Sedangkan peneliti sekarang lebih memfokuskan pada tradisi Kumpul Kope terhadap kehidupan sosial masyarakat.
                  Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah sama-sama meneliti tentang suatu tradisi yang dilakukan untuk meringankan beban keluaga laki-laki dalam proses pembayaran belis dalam perkawinan. Fokus penelitian sekarang adalah (1) mengapa tradisi kumpul kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (2) bagaiman proses pelaksanaan tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ? (3) nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam tradisi kumpul kope pada masyarrakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
  Lenggu (2008) “Dampak Tradisi T’uu Felis (kumpul belis) Dalam Perkawinan Adat Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Rote Kelurahan Naimata Kecamatan Maulafa Kota Kupang”. Permasalahannya adalah dampak tradisi tu’u felis dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa perkawinan dalam masyarakat rote juga terdiri dari beberapa macam perkawinan berdasarkan bentuknya yaitu kawin pinang (natane), kawin lari (nela), dan kawin gelap (ma’hatu). Pada kawin pinang ada beberapa tahapan kegiatan yang dilakukan yaitu tahap perkenalan antara orangtua laki-laki dan perempuan, tahap peminangan, tahap tu’u felis, dan tahap pembayaran belis. Tradisi tu’u felis (kumpul belis) sangat berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, baik itu dampak positif seperti mempererat hubungan antara kerabat, meringankan beban laki-laki dalam jangka waktu yang pendek dan biaya belis dapat diselesaikan. Maupun dampak negatif yaitu merupakan utang laki-laki dalam jangka waktu yang panjang, pengeluaran dari pendapatan ekonomi bertambah, terhambatnya kebutuhan pendidikan anak dan kebutuhan lainnya.
                  Perbedaan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mesker Lenggu adalah Peneliti terdahulu memfokuskan penelitiannya pada  danpak tradisi tu’u felis (kumpul belis) terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Sedangkan penelitian sekarang lebih memfokuskan pada tradisi kumpul kope terhadap kehidupan sosial masyrakat.
                 Persamaan penelitian terdahulu dan penelitian sekarang yaitu suatu tradisi yang dilakukan untuk meringankan beban dari keluarga laki-laki pada saat pembayaran belis dalam perkawinan. Focus penelitian sekarang adalah (1)  mengapa tradisi kumpul kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (2) bagaimana proses pelaksanaan tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (3) nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
Anul (2016) “Pandangan Masyarakat Manggarai Mengenai Pelaksanaan Sida Dalam Perkawinan Kabupaten Manggarai Barat”. Permasalahannya adalah pelaksanaan sida dalam perkawinan. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa  banyaknya prosesi adat dalam perkawinan, maka butuh persiapan yang matang dari pihak laki-laki, khususnya yang berkaitan material. Pada masyarakat kecamatan kuwus rasa persatuan antara anak rona dan anak wina sangat kuat, rasa persatuan itu bukan hanya sekedar adanya rasa persatuan, tetapi mereka betul-betul menghayati seperti yang telah terjadi selama ini, setiap ada perkawinan pada keluarga anak rona (marga dari istri) anak wina selalu bersedia untuk membantu meringankan beban dari keluarga tersebut atau biasa disebut tiba sida. Kehidupan sosial budaya masyarakat kecamatan Kuwus terdapat suatu tradisi setiap ada perkawinan yang selalu mereka lakukan yakni “sida laki” (sumbangan pada acara perkawinan). Secara ekonomis hal itu dipandang sangat tinggi karena cenderung mengabaikan kebutuhan keluarga dan lainnya tetapi untuk  “wale sida laki” mereka berusaha untuk segera di penuhi.
                   Perbedaan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Maria Anul adalah  Peneliti terdahulu memfokuskan penelitiannya pada pandangan masyarakat Manggarai mengenai pelaksanaan sida dalam perkawinan kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan penelitian sekarang lebih memfokuskan pada tradisi kumpul kope terhadap kehidupan sosial masyarakat.
                   Persamaan penelitian terdahulu dan penelitian sekarang yaitu suatu tradisi yang dilakukan untuk meringankan beban dari  keluarga laki-laki pada saat pembayaran belis dalam perkawinan. Focus penelitian sekarang adalah (1) mengapa tradisi kumpul kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (2) bagaimana proses pelaksanaan tradsi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (3) nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam tradisi kumpul kope pada masyarakat Manggarai Timur?
Nggoro (2014) “Filosofi Wuat Wa’i Budaya Manggarai Dari Perspektif Demokrasi Pancasila”. Permasalahannya adalah apakah keterkaitan Pancasila dengan budaya Manggarai melalui kajian filosofi budaya Wuat Wa’i serta apa factor pendukung acara Wuat Wa’i dari perspektif demokrasi Pancasila ? Hasil dalam penelitian ini mengatakan bahwa filosofi budaya Wuat Wa’i bersifat imajinasi, realistis, diimplementasikan berupa sumbangan dana dan tenaga acara Wuat Wa’i dapat meringankan biaya pendidikan. Tradisi ini memenuhi amanah Pancasila dan tujuan nasional pada pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 menegaskan mencerdaskan kehidupan bangsa.             
Perbedaan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nggoro A. Marselus  adalah peneliti terdahulu memfokuskan penelitiannya pada Filosofi Wuat Wa’i Budaya Manggarai dan Perspektif Demokrasi Pancasila.  sedangkan penelitian sekarang lebih memfokuskan pada tradsi kumpul kope terhadap kehidupan sosial masyarakat.
                   Persamaan penelitian terdahulu dan penelitian sekarang yaitu sama-sama meneliti tentang suatu tradisi yang dilakukan untuk meringankan beban keluarga. Fokus penelitan sekarang adalah (1) mengapa tradisi kumpul kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (2) bagaimana proses pelaksanaan tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur? (3) nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?

B. KONSEP
1. Pengertian Tradisi
       Tradisi berasal dari bahasa Latin yaitu “Traditio” yang artinya diteruskan atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu Negara, kebudayaan, waktu atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dalam pengertian lain tradisi adalah adat-istiadat atau kebiasaan yang turun temurun yang masih dijalankan di masyyarakat. Dalam suatu masyarakat muncul semacam penilaian bahwa cara-cara yang sudah ada meupakan cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Biasanya sebuah tradisi tetap saja dianggap sebagai cara atau model terbaik selagi belum ada alternatif lain(Sastra, Dewa (2017): Https://id.m.wikipedia).
        Jalius (2009:95), Tradisi meupakan roh dari sebuah kebudayaan. Tanpa tradisi tidak mungkin suatu kebudayaan akan hidup dan langgeng. Dengan tradisi hubungan antara individu dengan masyarakatnya bisa harmonis. Dengan tradisi sistem kebudayaan akan m enjadi kokoh. Bila tradisi dihilangkan maka ada harapan suatu kebudayaan akan berakhir disaat itu juga. Setiap sesuatu menjadi tradisi biasanya telah teruji tingkat efektifitas dan tingkat efesiensinya selalu berubah mengikuti perjalanan perkembangan unsure kebudayaan. Berbagai bentuk sikap dan tindakan dalam menyelesaikan persoalan kalau tingkat efektifitas dan efesiensinya rendah akan segera ditinggalkan pelakunya dan tidak akan pernah menjelma menjadi sebuah tradisi. Tentu saja sebuah tradisi akan cocok dan sesuai situasi dan kondisi masyarakat pewarisnya.
  Esten (1993:11) menyatakan bahwa di dalam tradisi terdapat sejumlah konvensi-konvensi. Konvensi-konvensi inilah yang menjadi pedoman ataupun anutan dari  kelompok masyarakat (tradisional) yang bersangkutan. Pelanggaran terhadap konvensi-konvensi berarti pelanggaran terhadap tradisi. Melanggar tradisi berarti melanggar ketentuan bahkan melanggar kepercayaan yang berlaku di dalam masyarakat tersebut.
Esten (1999: 22), di dalam tradisi diatur bagaimana  manusia berhubungan dengan manusia yang lain atau satu kelompok manusia dengan kelompok manusia yang lain, bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungannya dan bagaimana perilaku manusia terhadap alam yang lain. Ia berkembang menjadi suatu sistem, memiliki pola dan norma yang sekaligus juga mengaturpenggunaan sanksi dan ancaman terhadap pelanggaran dan penyimpangan.
Kebiasaan mempunyai tiga arti yaitu :
a.    Dalam arti yang menunjukkan pada suatu kenyataan yang bersifat obyektif
b.    Dalam arti bahwa kebiasaan tersebut dijadikan kaidah bagi seseorang , norma mana diciptakannya untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini maka orang yang bersangkutanlah yang menciptakan suatu perilaku bagi dirinya sendiri.
c.    Sebagai perwujudan kemauan atau keinginan seseorang untuk berbuat sesuatu (Soekanto, 2004: 179)
2. Kumpul Kope
Pengertian Kumpul Kope
Secara etimologi maka kata kumpul berarti kumpul/berkumpul. Sedangkan kata kope berarti parang. Arti kata kumpul kope adalah kumpul parang. Penekanan utama kumpul kope adalah kata kope yang berarti parang ialah kiasan jenis kelamin laki-laki/pria atau pengumpulan dana. Dengan demikian kumpul kope merupakan pengumpulan dana atas dasar persatuan keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) dalam rangka persiapan perkawinan anak laki-laki/calon mempelai laki-laki (tae laki)(Nggoro 2006:86).
     Pada saat kumpul kope tak ada topik pembicaraan yang baru lagi menyangkut kumpul kope. Peserta/anggota keluarga yang hadir hanya datang stor uang, makan bersama-sama, bercanda ria bersama, dengan penuh rileks, santai, penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Hanya mungkin yang perlu disampaikan oleh keluarga calon mempelai laki-laki atau yang mewakili keluarga saat itu khususnya kepada anggota kope reba, pa’ang ngaung adalah tentang waktu pelaksanaan perkawinan. Maksud pemberitahuan itu, supaya mereka juga hadir bersama-sama pada hari pelaksanaannya. Sedangkan untuk keluarga asekae/wa’u, pa’ang ngaung masih ada lagi rapat berikutnya sebagai pemantapan keluarga menjelang hari pelaksanaan pernikahan.
      Oleh karena itu kumpul kope harus dilandasi oleh rasa persatuan, persaudaraan, kekeluargaan dan lain-lain. Nilai-nilai seperti itu merupakan komitmen moral, sebagai ungkapan rasa tanggung jawab sebagai mata rantai keluarga kerabat/hubungan kekerabatan yang perlu terbina secara terus-menerus. Anggota yang ikut acara pengumpulan dana ini adalah kaum adam/laki-laki(ata rona) untuk sesama keluarga patrilineal asekae/wau bahwa peserta yang boleh ikut kumpul kope ialah kaum laki-laki yang sudah berkeluarga dan yang belum berkeluarga tidak diikutsertakan dalam acara kumpul kope, tetapi ia tetap dianggap telah ikut serta di dalam acara tersebut, yakni melalui partisipasi aktif dari orangtuanya, sehingga ketika suatu waktu orang muda itu hendak menikah, maka perlu diadakan acara kumpul kope. Akan tetapi apabila dalam keluarga patrilineal asekae/wa’u yang mengadakan acara pengumpulan dana itu, ada anak muda yang belum kawin/nikah dan yatim piatu, maka ia wajib ikut kumpul kope pada acara keluarga kerabat patrilineal dan dalam keluarga kerabat yang lainnya (Nggoro,2006:86-91).
3. Adat Perkawinan
a)    Adat Perkawinan 
Adat perkawinan Manggarai adalah cinta laki-laki dan perempuan yang ingin dilembaga dalam sebuah institusi yang dinamakan keluarga.                                  
Menurut hukum adat perkawinan bisa merupakan urusan kerabat, keluarga, persekutuan, martabat, bisa merupakan urusan pribadi bergantung pada tata susunan masyarakat bersangkutan (Sudiyat,2007:107).
Menurut pasal (1) Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. perkawinan adalah ikatan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari penegertian ini jelaslah bawha tujuan perkawinan bukanlah kebahagiaan tetapi kesatuan, dengan adanya ikatan lahir batin antara suami dan membentuk keluarga. Untuk itu suami istri perlu saling membentuk dan melengkapai agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya, mencapai kesejahteraan spiritual dan material. Dalam usaha memupuk kesatuan itulah suami istri mengalami kesatuan.
           Perkawinan seharusnya merupakan suatu persatuan. Persatuan itu diciptakan oleh cinta dan dukungan yang diberikan oleh seorang pria kepada istrinya. Persatuan itu hanya bisa dipertahankan dan dipelihara dengan cinta dan dukungan yang diberikan oleh istri kepada suami (Yuwana & Maramis, 2003;4),
          Terdapat tiga macam gaya interaksi dalam perkawinan yaitu : yang saling melengkapi(komplementer), yang simetris dan yang sejajar(paralel). Dalam interaksi saling melengkapi pribadi-pribadi saling menukarkan perilaku yang berlawanan. Relasi semacam ini didasarkan pada ketidaksamaan dalam kontrol. Salah satu menduduki posisi superior dan yang lain inferior. Dalam gaya interkasi simetris, tiapa individu berusaha untuk menjaga jangan sampai kehilangan kontrol terhadaprelasi tersebut. Tiap individu berjuang untuk mempertahankan haknya menjadi orang pertama yang mengambil inisiatif, mengkritik pasangannya, memberi nasehat-nasehat dan sebagainya. Sedangkan dalam interaksi sejajar, kedua pasangan menyadari bahwa tidak seorang pun diantara mereka akan mendapatkan dan memenangkan pihak lain (Yuwana & Maramis, 2003;24).
           Setiap perkawinan yang berhasil selalu mengandung sikap bersedia melakukan dan menghadapi hal-hal yang tidak kita sukai, yang dimaksud disini ialah bahwa bilamana terjadi perubahan-perubahan kebutuhan, hendaknya tiap-tiap pasangan suami istri membicarakan kembali hubungan mereka, cara-cara bagaimana mereka dapat saling memenuhi kebutuhannya, saling mengambil dan memberi dalam hidup perkawinan (Yuwana & Maramis, 2003;27).   
b)    Bentuk-bentuk perkawinan dalam masyarakat
Bentuk perkawinan yang paling umum adalah yang didahului pertunangan. Ini terjadi baik keinginan orangtua maupun karena pilihan dari calon mempelai berdua. Acara pertunangan kemudian diikuti dengan pembicaraan tentang jumlah mas kawin yang diserahkan pada waktunya sebelum perkawinan dilangsungkan. Selain model perkawinan seperti diatas ada pula bentuk lain yang tidak begitu sering terjadi, yakni 1) Perkawinan lari. Dalam perkawinan model ini pemuda dengan dibantu beberapa temannya menculik gadis idamannya denagan kekerasan, baik si gadis itu menghendakinya atau karena si gadis tidak diserahkan kepadanya sesuai keinginan si pemuda. 2)Perkawinan lari atas persetujuan bersama. Dalam perkawinan model ini si gadis diam-diam meninggalkan rumah orangtuanya bersama pemuda pilihannya. Dalam perkawinan model ini si gadis memaksa diri kepada lelaki yang dicintainya dan menyerahkan diri dengan tujuan memaksanya untuk mau mengawininya atau memaksa orangtuanya agar menyetujui perkawinan mereka. 3) Perkawinan dengan mengabdi. Dalam perkawinan model ini si pemuda tinggal di rumah mertuanya, baik karena kerabatnya terlalu miskin, untuk membayar mas kawin, atau karena si gadis anak tunggal dan orangtua tidak ingin berpisah dengannya. 4)Perkawinan levirat (ganti tikar) dan perkawinan ganti janda. Dalam perkawinan model ini seorang janda justru tidak kembali pada kerabatnya sendiri, tetapi ia justru menjalin hubungan dengan kerabat dekat suaminya yang meninggal, dengan kerabat jauh ataupun dengan orang asing. 5) Perkawinan saudara perempuan. Dalam model perkawinan ini, duda kawin dengan saudara perempuan istrinya yang meninggal. Perkawinan ini sering terjadi jika istri pertama meninggal dunia. 6) Biagami dan Poligami. Orang menempuh perkawinan model ini dengan berbagai alasan. Alasan yang paling umum adalah karena istri pertama tidak menurunkan anak(Vergouwen, 2004;198).
Bentuk perkawinan masyarakat masyarakat manggarai (Nggoro, 2006:99)
1.    Kawing Tungku
Kawing Tunggu (Kawing = kawin, nikah, perkawinan; Tungku = sambung, menyambung). Kawing tungku adalah perkawianan antara anak saudari dan anak saudara kandung maupun anak saudara dan saudari sepupu. Kawing tungku sama maknanya dengan istilah tungku alang(menyambung kembali). Kawing tungku (perkawinan sedarah) arti katanya melanjutkan hubungan kekerabatan antara anak wina dan anak rona yang sudah ada/masih ada. Menyangkut istilah kawing tungku ada tiga hal yang perlu diuraikan disini, yaitu 1)  kawing tungku cu (anak dari saudari menikah dengan anak perempuan dari saudara kandung). 2) kawing tungku neteng nara (anak laki-laki dari saudara perempuan menikah dengan anak dari saudaranya tapi bukan dari saudara kandung tetapi dari saudara sepupu). 3). Kawing tungku anak rona musi. Jika mau mengadakan kawing tungku anak rona musi, maka yang pertama dilakukan oleh anak wina adalah ba tabing (membawa cendra mata berupa uang atau kain songke kepada keluarga anak rona).
Salah satu perbedaan prinsip anatar kawing tungku cu dan kawing tungku neteng nara yakni kalau kawing tungku cu (anak dari saudari menikah dengan anak perempuan dari saudara kandung), kawing tungku  neteng nara ( anak laki-laki dari saudara perempuan menikah dengan anak dari saudaranya tapi bukan dari saudara kandung tetapi dari saudara sepupu) perlu dilakukan ba tabing (membawa cendra mata). Sedangkan kawing tungku anak rona musi ialah tak di ijinkan kebiasaan ba tabing. Bila telah dilangsungkan perkawinan anak rona musi maka kedua keluarga kerabat memiliki kewajiban yang berat. Misalnya dalam hal sida (sumbangan dari anak wina terhadap anak rona)
2.    Kawing Cako
Kawing cako (kawing = kawin, nikah, perkawinan; cako = mengambil sesama saudara dalam keluarga patrilineal). Kawing cako adalah perkawinan anak saudara sepupu dalam garis patrilineal dan antara sesama keluarga kerabat anak wina (keluarga penerima istri). Kawing cako dapat terbagi atas dua hal, yaitu : kawing cako cama wa’u dan kawing cako cama anak wina.
Alasan leluhur manggarai melakukan perkawinan cako cama wa’u ialah agar hubungan semakin kokoh, kuat, akrab, semakin mengenal silsilah keturunan dan di samping itu agar harta keluarga tidak terpencar, berpindah tempat.
3.    Kawing cangkang
Kawing cangkang adalah perkawinan di luar suku, perkawinan yang baru membina hubungan kekerabatan sebagai anak wina dan anak rona. Prosesi acara perkawinan cangkang semuanya  dari awal sampai akhir terhitung sejak peminangan awal. Artinya adat perkawinan tak ada yang dilangkahi. Meskipun bukan berarti keluarga mempelai laki-laki harus bayar lunas belis /paca, tetapi yang mau dijelaskan di sini adalah prosesi adat harus ditampilkan sebagai pertanda menghargai adat yang berlaku (Nggoro 2006:99).
4.    Masyarakat
              Masyarakat berasal dari bahasa Arab “syaraka” yang berarti ikut serta (berpartisipasi). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah society yang berasal dari bahasa latin socius yang berarti teman. Dengan keberlangsungan hidup suatu masyarakat maka warga masyarakat perlu berpegang pada kebudayaan atau tradisi (adat-istiadat) dimana ia berada. Adat merupakan aturan yang tidak tertulis namun sangat dihargai dan di taati oleh masyarakat, karena adat merupakan warisan para leluhur (nenek moyang).
Masyarakat merupakan satu kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan yang sudah teratur dan bisa dikatakan stabil. Masyarakat tidak dapat dibayangkan tanpa individu seperti dibayangkan tanpa adanya masyarakat(Ahmadi 1990:191)
                 Masyarakat dalam bahasa inggris disebut society, asal katanya socius yang berarti kawan. Adapun kata masyarakat berasal dari bahasa Arab, yaitu syrik yang artinya bergaul. Adanya saling bergaul itu, karena adanya bentuk aturan hidup, yang bukan  disebabkan oleh manusia perorangan melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain oleh lingkungan sosial yang merupakan kesatuan. adanya saling bergaul dan berinteraksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara, dan produser yang merupakan kebutuhan bersama sehingga masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu adanya terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Untuk arti lebih khusus, masyarakat disebut pula kesatuan social, mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat. Mirip jiwa manusia yang dapat diketahui, pertama melalui kelakuan dan perbuatan sebagai penjelmaan yang lahir, kedua melalui pengalaman batin dalam roh manusia perseorangan sendiri. Bahkan memperoleh “superioritas” merasakan sebagai suatu yang lebih tinggi nilainya dari pada jumlah nilai bagian-bagiannya. Suatu yang “kokoh-kuat” suatu perwujudan kepribadian bukan di dalam, melainkan di luar, bahkan diatas kita (Soelaman,2006:122).
                 Hartomo (2004:19) mengemukakan masyarakat adalah pergaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup dalam suatu tempat tertentu.                     
                   Linton (1936:91)  mengemukakan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang sudah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka dapat mengorganisasi diri berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. Kalau mengikuti definisi Linton pada masyarakat itu timbul dari setiap kumpulan  individu-individu yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama. Dalam waktu yang cukup lama itu kelompok manusia yang seperti yang dimaksud diatas yang belum terorganisasi mengalami organisasi, mengalami proses fundamental yaitu :
1.    Adaptasi dan organisasi dari tingkah laku dari anggota
2.    Timbul secara laun, perasaan kelompok atau leprit decorps
Dalam arti yang luas yang dimaksud masyarakat adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dengan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa, dan lain-lain. Atau keseluruhan dari semua hubungan dalam kehidupan masyarakat. Dalam arti sempit masyarakat dimaksud sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, contohnya : territorial, bangsa, golongan, dan sebagainya. Jadi yang menjadi unsur dari masyarakat adalah :
1.    Harus ada kelompok (pengumpulan manusia) dan harus banyak jumlahnya, bukan pengumpulan binatang.
2.    Telah berjalan dalam waktu yang lama dan bertempat tinggal dalam daerah tertentu.
3.    Adanya aturan (undang-undang) yang mengatur mereka bersama untuk maju pada satu cita-cita yang sama.
5. Pengertian Kehidupan Sosial
          Menurut Sinaga (1988: 8), secara etimologi kata social berasal dari kata Yunani yaitu “Socius” yang artinya teman atau kawan. Jadi, sosial  artinya hal-hal yang berhubungan dengan teman atau kawan. Dalam arti luas sosial juga sering diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau kemasyarakatan.
          Sehubungan dengan itu Sinaga mengatakan bahwa kehidupan manusia sebagai makhluk sosial disebut kehidupan sosial, yaitu kehidupan dengan berbagai hubungan sosial yang terwujud dalam kehidupan bersama. Sedangkan Sir (2004: 11), kehidupan social adalah suatu himpunan atau kesatuan-kesatuan individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah serta mempunyai hubungan saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam kehidupan bermasyarakat.
           Menurut Sumaatmadja (1980: 17), kehidupan itu sendiri sebenarnya adalah proses umum yang dijalani tiap orang selama hidupnya. Kehidupan sosial manusia merupakan rangkaian berbagai aspek yang dihubungkan oleh suatu proses. Kehidupan manusia merupakan suatu multi-aspek yang membentuk uni-aspek.
             Berlangsung dan kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya mengatur kebijaksanaan dalam kelompok. Disini, terlihat jelas bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik yang mampu mengatur ketentraman, kebijaksanaan, kesejahteraan, bersama dalam kelompoknya masing-masing, mulai dari keluarga, warga masyarakat setempat sampai ke tingkat bangsa dan Negara.
              Selanjutnya manusia sebagai makhluk sosial juga memiliki sikap, kemauan,emosi, dan potensi-potensi kejiwaan yang lainnya yang dapat berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Interelasi dan interaksi sosial manusia dengan sesamanya diatur serta dikembangkan oleh aturan-aturan, nilai-nilai dan pranata-pranata tertentu yang menjaga dan mempertahankan kelestarian kehidupan manusia.

C.  KERANGKA BERPIKIR
Perkawinan merupakan sebuah jalinan untuk memperoleh keturunan. Masyarakat Manggarai Timur sangat menjunjung tinggi setiap proses adat dalam perkawinan. anak rona dan anak wina muncul karena adanya perkawinan dimana pihak pria disebut anak wina dan pihak perempuan disebut anak rona. Dalam setiap acara adat khususnya acara perkawinan membutuhkan banyak biaya untuk membayar belis kepada keluarga mempelai wanita, untuk meringankan beban pihak keluarga laki-laki maka diadakan tradisi kumpul kope. Tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Manggarai Timur karena sudah menjadi kebiasaan atau kebudayaan yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai Timur yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dianggap baik dan benar sehingga masih dipertahankan. Tradisi Kumpul Kope merupakan salah satu bentuk solidaritas dan sekaligus mempererat hubungan antara keluarga kerabat Patrilineal(asekae/wa’u), keluarga kerabat tetangga(pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat(hae reba). Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope terdiri dari tiga(3)tahap yaitu : tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga). Dalam tradisi Kumpul Kope terdapat nilai-nilai yang sangat dimaknai dalam kehidpan sosial masyarakat Manggarai Timur, yaitu nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.  

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Sambi Rampas  kabupaten Manggarai Timur sesuai dengan judul yang diangkat oleh peneliti yaitu Kajian Tentang Tradisi Kumpul Kope Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat Manggarai di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Alasan peneliti memilih daerah ini sebagai lokasi penelitian adalah sebagai berikut :
1.Kecamatan Sambi Rampas merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Manggarai Timur yang masih berlaku tradisi Kumpul Kope
2.Karena tradisi Kumpul Kope merupakan suatu tradisi yang jarang ditemui di era globalisasi saat ini yang cenderumg mementingkan diri sendiri daripada orang lain.
3.Karena dengan berlakunya tradisi Kumpul Kope, masyarakat akan menghargai budaya lokal.
4.Peneliti mengenal secara sosial maupun budaya masyarakat setempat sehingga  memudahkan peneliti dalam  melakukan komunikasi dengan masyarakat setempat dalam mengumpulkan data. 

B.SUBJEK PENELITIAN
Yang menjadi subyek penelitian adalah Masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Sedangkan narasumber atau informan dalam penelitian ini adalah :
1.Tua-tua adat Adat  yaitu : Petrus Gaur, David Geong, Beatus  Jeramu
2.Tokoh Masyarakat yaitu : Nikolaus Pondo, Laurensius Ranjang, Lasarus Dalus.
3.Masyarakat Desa : Vitalis Badur, Dorotous Sole, Simon Jomas.
Pemilihan sampel bola salju (snowball sampling) sering digunakan untuk penelitian observasional atau wawancara. Prosedur pemilihan sampel data bola salju dilakukan secara bertahap. Pertama-tama, diidentifikasi orang yang dapat memberi informasi untuk di wawancara. Kemudian, orang ini dijadikan sebagai informan untuk  mengidentifikasi orang lain sebagai sampel yang dapat memberi informasi dan orang ini juga dijadikan informan untuk mengidentifikasi orang lain sebagai sampel yang dianggap dapat memberi informasi (Silalahi, 2010: 273).   
Syarat yang digunakan penulis dalam menentukan informan adalah mereka yang memiliki pengetahuan tentang belis dalam adat  perkawinan. Terlepas dari itu penulis juga mengajukan beberapa persyaratan untuk menentukan informan anatara lain:
1. Mereka yang memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang belis   dalam adat perkawinan.
2. Memiliki kondisi kesehatan jasmani dan rohani yang baik dan tidak cacat dalam berbicara, demi memperlancar jalannya proses pengambilan data pada saat penelitian dilakukan.
3. Mau diajak diskusi dan mampu meluangkan waktunya untuk bersama dengan peneliti dalam penelitian yang dilakukan.
C. SUMBER DATA
Hudijono (2012:49) menjelaskan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.  
a).Data Primer
    Data primer dalam penelitian ini adalah rekaman, gambar atau foto hasil wawancara serta data tertulis hasil wawancara peneliti dengan informan yaitu: Tua-tua Adat (Petrus Gaur, David Geong, Beatus Jeramu),Tokoh Masyarakat (Nikolaus Pondo, Laurensius Ranjang, Lasarus Dalus), Masyarakat Desa (Vitalis Badur, Dorotous Sole, Simon Jomas) mengenai:
1. Alasan tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur.
2. Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur.
3.  Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope pada masyarakat  Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur.
b). Data Sekunder
  Data tertulis yang diperoleh dari dokumen-dokumen sehubungan dengan profil Kecamatan Sambi Rampas. data sekunder ini dimaksudkan sebagai data penunjang untuk dapat melengkapi hasil penelitian ini, seperti data jumlah penduduk, jenis kelamin dan keadaan geogerafis serta jumlah dan golongan masyarakat berdasarkan agama, pendidikan dan pekerjaan.
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Observasi
    Observasi dilakukan secara langsung di lokasi penelitian untuk melihat secara cermat, bebas, terstruktur dan berperan serta terhadap objek penelitian dan semua proses yang di lakukan. Observasi atau pengamatan dalam penelitian ini seperti alasan masyarakat masih tetap melaksanakan tradisi Kumpul Kope, proses pelakasanaan tradisi Kumpul Kope yaitu : dari tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga), Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope yaitu : nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.  
2. Wawancara
    Wawancara adalah Tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung dilakukan dengan tatap muka dan wawancara mendalam secara langsung dengan Tua-tua adat, Tokoh-tokoh masyarakat, dan Masyarakat Desa tentang Tradisi Kumpul Kope  terhadap kehidupan sosial  masyarakat Manggarai di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan beberapa informan yaitu Tua-tua Adat (Petrus Gaur, David Geong, Beatus Jeramu),Tokoh Masyarakat (Nikolaus Pondo, Laurensius Ranjang, Lasarus Dalus), Masyarakat Desa (Vitalis Badur, Dorotous Sole, Simon Jomas) mengenai Alasan tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yang dimana tradisi Kumpul Kope sudah menjadi kebiasaan nenek moyang yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur,yang meliputi tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope yaitu : nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.  
3. Studi Dokumentasi
    Dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini berupa gambar atau foto-foto peneliti yang sedang melakukan wawancara secara langsung dengan informan, yaitu Tua-tua Adat (Petrus Gaur, David Geong, Beatus Jeramu),Tokoh Masyarakat (Nikolaus Pondo, Laurensius Ranjang, Lasarus Dalus), Masyarakat Desa (Vitalis Badur, Dorotous Sole, Simon Jomas) mengenai Alasan tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yang dimana tradisi Kumpul Kope sudah menjadi kebiasaan nenek moyang yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur,yang meliputi tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope yaitu : nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.    

E. TEKNIK ANALISIS DATA
    Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan maksud untuk mendapatkan data tentang tradisi kumpul kope terhadeap kehidupan sosial masyarakat kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder yang diperoleh dari lapangan yanga akan dieksplorasikan secara mendalam selanjutnya akan mendapatkan hasilnya dan kesimpulan yang menjelaskan masalah  yang diamati. Teknik ini tujuannya untuk memperoleh gambaran umum dari objek penelitian, tradisi kumpul kope  di lihat dari kebiasaan masyarakat dalam melakisanakan kumpul kope. Dalam penelitian data yang diperoleh dapat dianalisis dengan menggunakan tiga alur.
1.Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, makin lama penelitian di lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks, dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data mengenai Alasan tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yang dimana tradisi Kumpul Kope sudah menjadi kebiasaan nenek moyang yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur,yang meliputi tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope yaitu nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.  
2.Penyajian Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Melalui penyajian data tersebut maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehinggah akan semakin mudah dipahami (Sugiyono.2012:341) penyajian data berupa penyususnan hasil wawancara bersama narasumber-narasumber antara lain : Tua-tua Adat (Petrus Gaur, David Geong, Beatus Jeramu),Tokoh Masyarakat (Nikolaus Pondo, Laurensius Ranjang, Lasarus Dalus), Masyarakat Desa (Vitalis Badur, Dorotous Sole, Simon Jomas)    mengenai Alasan tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yang dimana tradisi Kumpul Kope sudah menjadi kebiasaan nenek moyang yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur,yang meliputi tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope yaitu nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.  
3. Verifikasi/Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan teman baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek (Sugiyono.2012:345). Data yang telah diperoleh akan disimpulkan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini yaitu mengenai Alasan tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yang dimana tradisi Kumpul Kope sudah menjadi kebiasaan nenek moyang yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur,yang meliputi tahap Dali di’a-di’a Kope (kesiapan lahir batin calon mempelai laki-laki), Bantang Kope (persiapan awal keluarga), dan tahap Kumpul Kope (Kumpul keluarga) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope yaitu : nilai kekeluargaan, nilai solidaritas, nilai tenggang rasa, nilai persatuan dan nilai ekonomis.  

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian
   Kabupaten Manggarai Timur memiliki luas wilayah 2.643,41 km2. Jarak ibu kota pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur yaitu Borong ke ibukota Kecamatan Sambi Rampas adalah ± 117 Km. Pola pemukiman penduduk pada Kecamatan ini adalah mengikuti jalan raya dan pola pemukiman perkumpulan, pada zaman nenek moyang masih banyak di  wilayah Kecamatan ini yaitu di mana pola pemukimannya terletak pada pola perkumpulan kampung-kampung. Kecamatan ini merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki pengembangan potensi sektor pertanian dan pariwisata di Kabupaten Manggarai Timur. (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
1. Sejarah terbentuknya  Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur
    Kabupaten Manggarai Timur merupakan Kabupaten baru, hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai yang berada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ibukotanya Borong. Sebelum Kabupaten Manggarai Timur terpisah dari Kabupaten Manggarai, Kecamatan Sambi Rampas adalah salah satu Kecamatan dari 21 Wilayah Kecamatan di Kabupaten Manggarai. Dan sebelum Kecamatan Sambi Rampas menjadi suatu Wilayah Kecamatan dengan yang wilayah adminitratifnya penuh wilayah ini masih disebut kecamatan perwakilan Elar dengan pusat pemerintahan di Pota yang menjadi IbuKota Kecamatan saat ini. Pada tahun 1995 Kecamatan Sambi Rampas menjadi Kecamatan penuh atau tepisah dari wilayah Kecamatan pewakilan Elar. Pembagian wilayah dari kecamatan Elar berdasarkan lintasan sungai, sebelah Timur sungai Wae Bakok adalah wilayah Kecamatan Elar dan sebelah Barat kali Wae Bakok menjadi wilayah Kecamatan Sambi Rampas kecuali Desa Rana Kulan.
   Batas Wilayah Kecamatan Sambi Rampas : Bagian Utara berbatasan dengan Laut Flores, Bagian Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kota Komba dan Kecamatan Borong, Bagian Timur berbatasan dengan Kecamatan Elar, Bagian Barat Berbatasan dengan wilayah Kecamatan Lamba Leda dan Kecamatan Poco Ranaka. (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
2. Keadaan Geografis
a. Letak Geografis
    Kecamatan Sambi Rampas merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Manggarai Timur dengan luas wilayah 2.643,41km2. (kantor Kecamatan Sambi Rampas).
b. Letak Astronomis
    Secara astronomi Kabupaten Manggarai Timur terletak pada 08°14’ LS-09°00 LS dan 120°20’BT-120°20’BT-120°55’BT. Secara geografis Kabupaten Manggarai Timur bagian Utara berbatasan dengan laut flores, bagian selatan berbatasan dengan laut sawu, bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Riung, Kecamatan Riung Barat, Kecamatan Bajawa utara, dan Kecamatan Aimere Kabupaten Ngada, dan bagian barat berbatasan dengan Kecamatan Satarmese, Kecamatan Wae Rii, Kecamatan Cibal, Kecamatan Reok Kabupaten Manggarai. Secara administrasi Kabupaten Manggarai Timur terbagi atas 9 Kecamatan yaitu : Kecamatan Poco Ranaka, Kecamatan Borong,  Kecamatan Kota Komba, Kecamatan Lamba Leda, Kecamatan Elar, Kecamatan Elar Selatan, Kecamatan Sambi Rampas, Kecamatan Rana Mese, Kecamatan Poco Ranaka. (Kantor Kecamatan Sambi Rampas)   
C. Batas-batas Wilayah
Secara geografis Kecamatan Sambi Rampas berbatasan dengan beberapa wilayah sebagai berikut :
1.Utara berbatasan dengan Laut Flores
2.Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kota Komba, dan Kecamatan Borong
3.Barat berbatasan dengan Kecamatan Lamba Leda dan Kecamatan Poco Ranakan Timur.
4.Timur berbatasan dengan Kecamatan Elar (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
3.Keadaan Geologis dan Topografis
1.Kondisi tanah : Pada umumnya kondisi tanah di wilayah Kecamatan Sambi Rampas memiliki kualitas kesuburan yang cukup. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa komoditi unggulan baik sektor pertanian maupun sektor perkebunan.
2.Ketinggian : Umumnya wilayah Kecamatan Sambi Rampas terdiri dari wilayah pegunungan dengan ketinggian sekitar ± 2.500 meter dari permukaan laut.
3.Kemiringan : Tingkat kemiringan tanah di wilayah Kecamatan Sambi Rampas mencapai 0 – 65° (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
4.Keadaan Iklim
Keadaan iklim Kecamatan Sambi Rampas adalah iklim tropis yang mengakibatkan terjadinya dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau terjadi pada bulan April sampai bulan September dan musim hujan yang terjadi pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Temperatur udara rata-rata adalah 28,060°C dengan suhu perbulan minimum 2,10°C dan maksimum 31,70°C, sehinggah Kecamatan Sambi Rampas secara umum bersuhu udara panas. Kecepatan angin berkisar  knot dengan kelembaban udara 80% sedangakan rata-rata curah hujan sebanyak 1.906 mm dengan hari hujan sebanayak 142 hari (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
5.  Keadaan Sosial Budaya
a.  Keadaan Penduduk
Keadaan penduduk merupakan salah satu penunjang terciptanya kesejahteraan dalam suatu wilayah pemerintahan, jumlah penduduk yang terus bertambah dan tersebar dalam wilayah desa/kelurahan harus bisa diimbangi dengan potensi pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik untuk membangun dan mengembangkan perekonomian daerah tersebut demi terciptanya penduduk yang sejahtera, maka dari itu penduduk dalam suatu wilayah tersebut harus bisa memanfaatkan dirinya sebagai potensi daerah dalam Sumber Daya Manusia dengan baik supaya dapat mengelola Sumber Daya Alam yang ada dengan benar demi terciptanya penduduk yang sejahtera. Jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Sambi Rampas adalah 29.739 jiwa yang tersebar dalam 20 Desa/Kelurahan.
         
b. Pendidikan
    Pendidikan merupakan hal terpenting bagi setiap insan manusia, karena hanya dengan pendidikan manusia dapat mengerti cara ia berpikir, berbicara dan berprilaku. Pendidikan juga merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan menjadi salah satu acuan atau tolak ukur bagi suatu daerah untuk menjadi daerah yang lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya tentang tingkat pendidikan di Kecamatan Sambi Rampas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2 Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur

Berdasarkan tabel 4.2 di atas  dapat dijelaskan bahwa penduduk yang paling banyak adalah penduduk yang tingkat pendidikan hanya sampai pada tingkat sekolah Dasar (SD) yang berjumlah 11.009 jiwa  hal ini terjadi karena: pertama, kurangnya pemahaman dan kesadaran orangtua bahwa pentingnya pendidikan, kedua, Ekonomi keluarga yang kurang mampu sehingga kebanyakan anak yang tamat SD tinggal di kampung dan beberapa tahun  kemudian  akan pergi merantau di kota-kota besar, ketiga, orangtua yang berpikir bahwa sekolah itu hanya untuk pelihara badan dan lebih baik bekerja dan mengelola kebun sendiri.
C.Kesehatan
   Kesehatan merupakan salah satu bagian yang juga penting bagi setiap insan manusia karena jika manusia tersebut tidak sehat atau sakit maka sulit baginya untuk melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah Kabupaten  Manggarai Timur melakukan banyak hal untuk melayani masyarakat dalam bidang kesehatan demi terciptanya masyarakat yang sehat karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu penyuluhan kesehatan sampai kepada masyarakat di setiap desa, pencegahan penyakit dengan cara membagikan kelambu dan abate (obat pembunuh jentik nyamuk). Berikut ini adalah tabel fasilitas pelayanan kesehatan menurut jenis fasilitas dan tenaga pelayanan kesehatan menurut status tenaga kesehatan di Kecamatan Sambi Rampas (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
    
d.Kebudayaan   
    Kebudayaan pada dasarnya adalah ekspresi seluruh diri manusia, baik akal, rasa dan karsa. Kebudayaan  dilihat sebagai hasil cipta (pikiran), rasa dan karsa (kehendak) manusia dalam memenuhi kebutuahan hidupnya. Dengan cipta, manusia mengembangkan kemampuan alam pikiran yang membentuk ilmu pengetahuan, dengan rasa manusia menghasilkan karya- karya seni atau kesenian, lalu dengan karsa manusia menghendaki kesempurnaan hidup.
     Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Budaya yang ada pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas adalah budaya Manggarai pada umumnya, ini dilihat pada saat acara kelahiran, perkawinan, kematian dan kebiasaan adat lainnya. (Kantor Kecamatan Sambi Rampas).
e.Agama
   Agama merupakan salah satu jalan menuju kebenaran dalam hidup yang dijalankan untuk menggapai ketentraman jiwa dari penganutnya masing-masing. Masyarakat Kecamatan Sambi Rampas menganut beberapa agama yang mana agama itu sudah diakui oleh Negara Indonesia yaitu agama Katolik, Islam, Protestan, Hindu dan Budha.  Perbedaan agama yang ada di Kecamatan ini tidak menjadikan suatu tolak ukur dalam perbedaan melainkan masyarakat Kecamatan Sambi Rampas hidup  berdampingan, saling melengkapi dan penuh dengan kerukunan. 
f.  Sistem Kemasyarakatan
        Masyarakat Kecamatan Sambi Rampas  memiliki sistem  kemasyarakatan yang khas. Dalam sistem tersebut tidak mengenal stratifikasi social. Masyarakat masih mempertahankan sifat kebersamaan yang tinggi terutama dalam bentuk gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan. Masyarakat menyebut dalam gotong royong dengan istilah leles (gotong royong). Walaupun tidak mengenal pelapisan sosial, masyarakat masih tetap menghargai orang yang mempunyai peran tertentu seperti tua adat, jabatan pemerintah, pimpinan gereja.   
          Hal yang patut dikagumi ketika gotong royong dalam bidang pendidikan atau masyarakat menyebutnya Wuat wa’i (arisan pendidikan). Pelaksaanaanya pada bulan panen yaitu Juni-Oktober. Begitu pula pada acara adat seperti penti, acara kumpul kope (kumpul keluarga). (Kantor kecamatan Sambi Rampas Tahun  2017).
6.  Keadaan Sosial Ekonomi
a.  Mata Pencaharian
Mata pencaharian merupakan sumber ekonomi bagi masyarakat, yang dilakukan secara terus-menerus serta dapat mempengaruhi kondisi  keuangan bagi setiap orang untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari demi terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga.
Seperti diketahui, masyarakat Manggarai pada umumnya adalah masyarakat agraris. Secara turun temurun dua jenis tanaman andalan masyarakat adalah padi dan jagung. Selain tanaman padi dan jagung, hasil-hasil perkebunan lainnya seperti kopi, cengkeh, kemiri, dan coklat, mendapat tempat sebagai komoditas yang akrab dengan orang Manggarai. Di samping mengerjakan sawah dan berkebun orang Manggarai juga terkenal handal dalam beternak kerbau, kambing, babi  dan ayam.
Selain bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, juga terdapat beberapa orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti tenaga medis dan guru. Orang-orang yang berprofesi sebagai tenaga medis dan guru, juga memiliki kegiatan sampingan seperti mengurus atau mengolah kebun dan beternak.

B.   Hasil Penelitian
1.    Alasan Tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur
Dalam urusan perkawinan adat Manggarai membutuhkan biaya yang besar, maka diadakan tradisi Kumpul Kope. Tradisi Kumpul Kope merupakan suatu tradisi/kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Manggarai dalam bentuk pengumpulan dana atas dasar persatuan keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) dalam rangka persiapan perkawinan anak laki-laki dan tempat pelaksanaan Kumpul Kope di rumah mempelai laki-laki atau rumah adat (Nggoro 2006:86).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Nikolaus Pondo (75) 21 Juni 2017,dengan pertanyaan mengapa tradisi Kumpul Kope masih dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
Karena sudah menjadi kebiasaan/kebudayaan dalam masyarakat Manggarai kalau ada anak laki-laki mau menikah dilakukan tradisi Kumpul Kope sebagai salah satu cara meringankan beban keluarga laki-laki. Dalam tradisi Kumpul Kope tertanam rasa untuk saling menolong dan membuat kita selalu bersatu antar keluarga walaupun tinggal pada kampung yang berbeda, tetapi tetap cama-cama bantang (bicara bersama-sama) dalam urusan perkawinan, makanya sampai sekarang masih dilaksankan.
           
  Berdasarkan hasil wawancara dengan Petrus Gaur (45) 21 Juni 2017 selaku aparat desa atas pertanyaan mengapa tradisi Kumpul Kope masih dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
Dinyatakan bahwa tradisi Kumpul Kope diadakan karena tradisi Kumpul Kope sebagai ikatan hubungan dan persatuan antar keluarga patrilineal (Asekae/wau), Keluarga kerabat tetangga (Pa’ang ngaung. Keluarga Kerabat Kenalan dekat (hae reba) dan tradisi Kumpul Kope sudah menjadi tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai.
         
Berdasarkan hasil wawancara dengan David Geong (55) 21 Juni 2017 Selaku tua adat  dengan pertanyaan mengapa tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
Dinyatakan bahwa tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan karena sudah menjadi suatu kebiasaan yang dianggap baik dan terus dilakukan setiap kali anak laki-laki hendak menikah, khususnya pada saat mau acara ba paca (antar belis). Tradisi Kumpul Kope sebagai mata rantai keluarga kerabat/hubungan kekerabatan dan ungkapan rasa tanggung jawab keluarga yang sudah dilandasi rasa pesatuan, kekeluargaan, sehingga perlu dibina secara terus menerus dan dipertahankan/dilestarikan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Laurensius Rajang (58) 22 Juni 2017 atas pertanyaan mengapa tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan?
Tradisi Kumpul Kope masih dilakukan karena merupakan sesuatu kebiasaan yang bersifat gotong royong oleh keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) dalam rangka meringankan beban keluaga laki-laki. Kebiasaan orang Manggarai percaya pasti mereka mendapatkan rejeki karena sudah saling membantu.
Kebiasaan (folkways) mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar dari pada cara. Kebiasaan yang diartikan sebagai perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama merupakan bukti bahwa banyak  menyukai perbuatan tersebut (Soekanto 2012:175). Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati (Soekanto 2012:99)
Tradisi Kumpul Kope dalam perkawinan adat Manggarai dilakukan sebagai salah suatu kebiasaan yang dilakukan oleh keluarga calon mempelai laki-laki secara turun-temurun, dengan adanya tradisi Kumpul Kope maka ada nilai tambah, yaitu: jalinan hubungan antar keluarga semakin erat, banyak rejeki menurut adat. Tradisi Kumpul Kope merupakan suatu kebiasaan yang sangat penting untuk dilakukan pada saat membawa  uang ataupun lain-lainnya mereka bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga kerabat patrilineal (asekae/wau), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba).
            Dalam masyarakat yang sudah kompleks, individu biasanya menjadi anggota dari kelompok  sosial tetentu sekaligus, misalnya atas dasar seks, ras dan sebagainya, akan tetapi dalam hal ini , seperti bidang pekerjaan, dan sebagainya, keanggotaan sukarela. Suatu ukuran lain bagi individu adalah bahwa dia merasa lebih baik merasa tertarik pada kelompok sosial yang dekat dengan kehidupan seperti keluarga, kelompok kerabat dan rukun tetangga, daripada misalnya dengan  perusahaan besar atau negara (Soekanto 2012:107).
Tradisi Kumpul Kope dalam perkawinan adalah salah satu kebiasaan yang dilakukan sebagai salah satu bukti kedekatan antara keluarga kerabat Patrilineal (Asekae/wau), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) .

2.    Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi  Rampas Kabupaten Manggarai Timur
Tradisi Kumpul Kope merupakan suatu budaya masyarakat Manggarai yang dilakukan keluarga mempelai laki-laki (tae laki) kepada keluarga kerabat Patrilineal (Asekae/wau), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) pada saat anak laki-laki hendak menikah.
Orang Manggarai biasanya melakukan tradisi Kumpul Kope sebulan sebelum hari puncak acara yang dilakukan, contohnya perkawinan puncaknya pada saat Ba Paca (antar belis).
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan mengenai proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yakni dengan Beatus Jeramu (55) 22 Juni 2017, dinyatakan bahwa :
  Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope ialah yang pertama, adanya persiapan lahir batin dari calon mempelai laki-laki (tae laki) untuk menikah dan membentuk keluarga baru (Dali di’a-di’a Kope). Yang kedua, persiapan awal/upaya-upaya awal pelaksanaan tradisi Kumpul Kope dari keluarga/pihak laki-laki yang hendak kawin melalui musyawarah bersama (Bantang Kope). Penginisiatif musyawarah ialah keluarga calon mempelai laki-laki bersama keluarga kerabat patrilinealnya (Asekae/Wa’u). Selanjutnya mereka mendekati keluarga kerabat tetangga (pa’ang Ngaung) dan keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) untuk menetapkan besaran dana yang disiapkan baik secara kolektif maupun secara individu. Kemudian ditentukan kapan dilaksanakan Kumpul Kope. Ketiga,tradisi Kumpul Kope dilaksankan,dimana keluarga yang datang hanya menstor uang, makan bersama dan penyampaian dari keluarga calon memepelai laki-laki mengenai pelaksanaan perkawinan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Lasarus Dalus (59) 22 Juni 2017 selaku tua adat dengan pertanyaan bagaimana proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur ?
Yang pertama, kesiapan diri dari calon mempelai laki-laki. Yang kedua, kesiapan keluarga dalam hal material. Yang ketiga dilakukannya tradisi Kumpul Kope. Tradisi Kumpul Kope dalam perkawinan sangat penting karena dengan adanya tradisi Kumpul Kope semua keluarga bisa berkumpul sehingga hubungan antara keluarga bisa dekat, akrab, bersatu yang walaupun tinggal berlainan tempat dan tetap terjalinnya komunikasi yang baik dengan keluarga. Tradisi Kumpul Kope hanya dilakukan apabila calon mempelai laki-laki (tae laki) hendak menikah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Laurensius Rajang (58) 22 Juni 2017 selaku tokoh masyarakat dengan pertanyaan bagaimana proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
Tahap yang pertama si calon mempelai laki-laki sudah siap untuk berumah tangga (Dali di’a-di,a kope). Tahap yang kedua adalah keluarga berkumpul dan mendiskusikan persiapan sepeti, uang masuk minta, uang belis, dan hewan belis. Selanjutnya  hasil diskusi akan ada kesepakatan antar keluarga untuk melakukan masuk minta dan setelah masuk minta direncanakanlah Kumpul Kope. Pada tahap yang ketiga dilakukannya tradisi Kumpul Kope.

3.    Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur
Sesuatu itu dianggap penting dan bermanfat bagi kehidupan manusia maka itu dianggap nilai. Nilai dijadikan sebagai acuan manusia dalam bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai sosial budaya berfungsi sebagai pedoman dan dorongan prilaku manusia dalam hidupnya. (Soekanto 2012:191)
Masyarakat Kecamatan Sambi Rampas adalah masyarakat yang masih kental budayanya, misalnya dalam acara perkawinan. Ada banyak hal yang dianggap paling penting dalam acara ini maka masyarakat menganggap sesuatu yang bernilai. Karena sesuatu yang bernilai itu maka masyarakat diwariskan dan diteruskan secara turun-temurun kepada generasi penerusnya agar mereka mengerti dan memahami kebudayaan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Vitalis Badur (40) 23 Juni 2017 atas pertanyaan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas?
Dinyatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung  dalam tradisi Kumpul Kope yaitu nilai solidaritas, ekonomis, kekeluargaan dan kekerabatan karena melibatkan semua orang yaitu keluarga kerabat patrilineal (Asekae/Wa’u),keluarga kerabat tetangga (pa’ang Ngaung) dan keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba), maka akan meringankan beban pihak keluarga laki-laki dalam membiayai urusan adat perkawinan.
           
Berdasarkan hasil wawancara dengan Simon Jomas (58) 23 Juni 2017 dengan pertanyaan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
Dinyatakan bahwa dalam sebuah urusan perkawinan yang walaupun dia bukan keluarga dekat dari calon mempelai laki-laki tetapi rela untuk menolong dalam suatu urusan adat perkawinan dalam keluarga calon mempelai laki-laki, baik dalam bentuk uang, hewan, bahkan sekaligus korban tenaga untuk membantu keluarga calon mempelai laki-laki.
         
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dorotous Sole (55) 23 Juni 2017 dengan pertanyaan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur?
Dinyatakan bahwa dalam tradisi Kumpul Kope terkandung nilai kekeluargaan. Tradisi Kumpul Kope menyatukan semua keluarga yang terlibat dalam tradisi Kumpul Kope.

C. PEMBAHASAN
1. Alasan Tradisi Kumpul Kope masih tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur
Dalam urusan perkawinan adat Manggarai membutuhkan biaya yang besar, maka diadakan tradisi Kumpul Kope. Tradisi Kumpul Kope merupakan suatu tradisi/kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Manggarai dalam bentuk pengumpulan dana atas dasar persatuan keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) dalam rangka persiapan perkawinan anak laki-laki dan tempat pelaksanaan Kumpul Kope di rumah mempelai laki-laki atau rumah adat (Nggoro 2006:86).
Dalam kehidupan masyarakat Kecamatan Sambi Rampas tradisi Kumpul Kope dalam perkawinan merupakan suatu tradisi yang tidak terlepas dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi Kumpul Kope terus dilaksanakan karena Kumpul Kope sebagai mata rantai keluarga kerabat/hubungan kekerabatan dan ungkapan rasa tanggung jawab keluarga yang sudah dilandasi rasa persatuan, persaudaraan, dan kekeluargaan, sehingga perlu dibina secara terus menerus dan dipertahankan/dilestarikan dan juga dengan adanya tradisi Kumpul Kope masyarakat akan memahami bahwa manusia tak bisa hidup tanpa manusia lain.
Pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas tradisi Kumpul Kope tetap dilaksanakan karena Tradisi Kumpul Kope merupakan suatu budaya yang harus dilakukan dan diwariskan secara turun menurun, sebagai salah satu upaya untuk mempererat hubungan antara keluarga kerabat patrilineal (Asekae/Wa’u), keluarga kerabat tetangga (pa’ang Ngaung) dan keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba).
Faktor yang melatarbelakangi sehingga masyarakat masih melakukan tradisi Kumpul Kope ialah dengan adanya tradisi Kumpul Kope masyarakat/orang Manggarai dapat menjunjung tinggi persatuan, persaudaraan, kekeluargaan dan melalui tradisi ini dapat diperluas jaringan kebersamaan, jaringan kekeluargaan serta kerja sama dalam bidang sosial dan menunjukkan kerukunan.
Tradisi Kumpul Kope sifatnya tidak hanya untuk keluarga dekat saja tetapi untuk semua keluarga dalam satu kampung atau kerabat kenalan dekat. Tradisi Kumpul Kope khusus hanya untuk urusan perkawinan dan hanya berlaku untuk anak laki-laki yang hendak menikah.
2. Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur
Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope sebagaimana telah dikemukakan dalam hasil penelitian dapat dijelaskan dari tahap pertama sampai tahap terakhir, yaitu :
1) Dali di’a-dia kope
Dali di’a-di’a kope jika diartikan secara arti kata, dali yaitu asah atau mengasah, di’a-di’a yaitu baik-baik dan kope yaitu parang. Jadi dali di’a-di’a kope adalah mengasah parang dengan baik. Filosifi dari parang dalam perspektif orangtua dulu merupakan alat yang selalu digunakan untuk kebutuhan apa saja, karena itu sangat diidentik dengan kaum laki-laki untuk bekerja. Tentunya parang tersebut harus tajam biar tidak kehilangan pamornya, sebaliknya jika parang tersebut tumpul yang jelas parang tersebut tidak dapat dipakai untuk bekerja. Dali di’a-di’a kope merupakan persiapan bagi seorang pemuda yang hendak melakukan upacara kumpul kope. Dali di’a-di’a sebagai bekal untuk mengawali kehidupan rumah tangga dalam artian harus mampu secara lahir dan batin, mampu untuk menafkahi seluruh kebutuhan hidupnya. Dali di’a-di’a kope adalah ungkapan atau nasehat orangtua kepada anak muda untuk lebih mempersiapkan diri sebelum menyebrangi samudra kehidupan (Nggoro 2006:86).

2. Bantang Kope
Bantang kope ialah persatuan laki-laki untuk mengumpulkan dana persiapan perkawinan anak laki-laki (tae laki). Ini masih pada tingkat persiapan awal/upaya-upaya awal keluarga pihak laki-laki yang hendak kawin(kudut kaeng kilo). Penginisiatif musyawarah tersebut adalah keluarga/orangtua kandung keluarga calon mempelai laki-laki bersama anggota keluarga kerabat patrilinealnya (wau/asekae). Selanjutnya mereka mendekati keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), dan anggota hubungan kekerabatan karena kenalan dekat (hae reba). Pokok pembicaraan pada saat bantang kope yaitu bermusyawarah bersama menyangkut  berapa besar dana yang akan disiapkan, baik secara kolektif maupun secara individu. Kemudian ditentukan juga kapan hari pelaksanaan Kumpul Kope tersebut. Adapun rencana penentuan besar dana secara kolektif dan individu yaitu : kalau Kumpul Kope antara anggota keluarga (Asekae/wau) maka ketentuan dana ditentukan secara umum sebagaimana kesepakatan anggota keluarga sebelumnya. Sedangkan untuk keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung) dan keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) besar dana ditentukan secara individu/masing-masing. Artinya ketentuan besar  dana berdasarkan kesepakatan keluarga calon mempelai laki-laki dengan anggota pa’ang ngaung dan hae reba masing-masing (Nggoro 2006:88).
3. Kumpul Kope
Kumpul kope adalah pengumpulan dana atas dasar persatuan keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) dalam rangka persiapan perkawinan anak laki-laki/calon mempelai laki-laki (tae laki). Tempat pelaksanaan acara kumpul kope di rumah keluarga calon mempelai laki-laki atau di rumah adat. 
Pada saat acara kumpul kope tak ada topik pembicaraan yang baru lagi menyangkut Kumpul Kope. keluarga kerabat yang hadir hanya datang stor uang, makan-makan bersama, bercanda ria bersama dengan penuh  rileks, santai, penuh persaudaraan dan kekeluargaan setelah itu pemberitahuan lebih lanjut tentang waktu pelaksanaan perkawinan. Maksud pemberitahuan itu, supaya mereka juga hadir bersama-sama pada hari pelaksanaannya. Sedangkan untuk keluarga asekae/wau, pa’ang ngaung, dan hae reba masih ada lagi rapat berikutnya sebagai rapat pemantapan keluarga menjelang hari pelaksanaan nikah.  Tradisi Kumpul Kope dilakukan di rumah calon mempelai laki-laki ataupun di rumah adat. Hewan yang dipotong sebagai lauk utama pada saat Kumpul Kope ialah babi (ela) untuk kelurga nasrani, sedangkan lauk utama keluarga muslim ialah kambing (mbe) (Nggoro 2006:86-91)
3. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur
Nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Kumpul Kope
Sesuatu itu dianggap penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia maka itu dianggap nilai. Nilai dijadikan sebagai acuan manusia dalam bertingkah laku dalam kehidupan  bermasyarakat. Nilai –nilai sosial budaya  berfungsi sebagai pedoman dan dorongan prilaku manusia dalam hidupnya (Soekanto 2012:191).
    Dalam tradisi kumpul kope pada masyarakat Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur mengandung nilai-nilai yaitu nilai kekerabatan, nilai tenggang rasa, nilai solidaritas, nilai persatuan, yang merupakan komitmen moral sebagai ungkapan rasa tanggung jawab sebagai mata rantai keluarga kerabat/hubungan kekerabatan yang perlu terbina secara terus menerus.
Ada pun nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Kumpul Kope ialah :
1) Nilai kekeluargaan
    Tradisi Kumpul Kope menunjukkan bahwa tidak satu pun kegiatan yang lepas dari keterlibatan keluarga. kenyataan ini menunjukkan tingginya nilai kekeluargaan yang masih kental dan telah mengakar kuat dalam setiap aktivitas upacara tradisional. Dalam pelaksanaannya turut dihadiri oleh segenap kerabat dekat maupun keluarga jauh yang datang membantu dan memberikan jasanya dalam pelaksanaan tradisi Kumpul Kope. Setidaknya dapat kita katakan bahwa setiap orang yang terlibat dalam tradisi tersebut tidak memandang sebagai pribadi tetapi merupakan bagian dari satu keluarga yang luas.
2) Nilai tenggang rasa
Tradisi Kumpul Kope membutuhkan dukungan dari kerabat dan tetangga terdekat sehingga di dalam pelaksanaannya berjalan dengan lancar. Mulai dari tahap persiapan sampai rangkaian terakhir, kerabat maupun tetangga turut membantu. Tolong-menolong sudah merupakan budaya yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur sejak dulu sampai sekarang.
3) Nilai Solidaritas
Solidaritas diartikan perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Tradisi Kumpul Kope dapat terlaksana melalui kerjasama masyarakat sehingga akan mengikat rasa solidaritas mereka, bahkan karena mereka merasa dari leluhur yang sama, implikasi rasa solidaritas akan semakin tumbuh. Nilai solidaritas di sini mengandung pengertian bahwa dalam pelaksanaan Tradisi Kumpul Kope banyak pihak yang terlibat, bukan hanya keluarga dekat tetapi masyarakat juga terlibat di dalamnya.
4) Nilai Persatuan
Tradisi kumpul kope merupakan bukti dari rasa persatuan antara keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba). Kebiasaan ini yang selalu dipertahankan oleh masyarakat Kecamatan Sambi Rampas karena dianggap sanggat bermanfaat dan bernilai dalam kehidupan sehari-hari, mereka selalu mempertahankan kebiasaan yang walaupun mereka sudah tidak tinggal di Manggarai tapi rasa persatuan ini tetap ada dan dipertahankan.
5) Nilai Ekonomis
   Dalam tradisi Kumpul Kope semua keluarga yang terlibat yaitu keluarga kerabat patrilineal/asekae, keluarga kerabat tetangga/pa’ang ngaung dan keluarga kerabat kenalan dekat/hae reba bersama-sama membantu meringankan beban keluarga laki-laki dalam proses pembayaran belis dalam adat perkawinan. Tradisi Kumpul Kope merupakan perwujudan  dukungan  finansial keluarga asekae, pa’ang ngaung dan hae reba kepada keluarga memepelai laki-laki(tae laki).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dari pembahasan  penelitian dengan judul tentang Kajian tentang tradisi Kumpul Kope (Kumpul Keluarga) terhadap kehidupan sosial masyarakat Manggarai di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur disimpulkan sebagai berikut :
1. Tradisi Kumpul Kope masih dilaksanakan karena pada budaya masyarakat Manggarai setiap kali ada perkawinan atau ada yang mau menikah tradisi Kumpul Kope selalu dilakukan oleh keluarga calon mempelai laki-laki dalam rangka meringankan beban keluarga calon mempelai laki-laki dalam  proses pembayaran belis dalam adat perkawinan. Tradsi Kumpul kope merupakan salah satu cara mempererat dan mempersatukan hubungan antar keluarga yaitu : keluarga kerabat patrilineal (wa’u/asekae), keluarga kerabat tetangga (pa’ang ngaung), keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba).
2. Proses pelaksanaan tradisi Kumpul Kope terdiri dari tiga tahap yaitu, Dali di’a-di’a kope, Bantang kope, dan Kumpul Kope. Pertama, adanya persiapan lahir batin dari calon mempelai laki-laki (tae laki) untuk menikah dan membentuk keluarga baru (Dali di’a-di’a Kope). Yang kedua, persiapan awal/upaya-upaya awal pelaksanaan tradisi Kumpul Kope dari keluarga/pihak laki-laki yang hendak kawin melalui musyawarah bersama (Bantang Kope). Penginisiatif musyawarah ialah keluarga calon mempelai laki-laki bersama keluarga kerabat patrilinealnya (Asekae/Wa’u). Selanjutnya mereka mendekati keluarga kerabat tetangga (pa’ang Ngaung) dan keluarga kerabat kenalan dekat (hae reba) untuk menetapkan besaran dana yang disiapkan baik secara kolektif maupun secara individu. Kemudian ditentukan kapan dilaksanakan Kumpul Kope. Ketiga, tradisi Kumpul Kope dilaksankan dimana keluarga yang datang hanya menstor uang, makan bersama dan penyampaian dari keluarga calon mempelai laki-laki mengenai pelaksanaan perkawinan.
3. Dalam urusan perkawinan adat Manggarai tradisi Kumpul Kope terus dilakukan karena tradisi Kumpul Kope dalam perkawinan itu sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Manggarai dan dijadikan acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi Kumpul Kope mengandung beberapa nilai-nilai, yaitu : Nilai kekeluargaan, Nilai tenggang rasa, Nilai solidaritas, Nilai persatuan dan Nilai ekonomis.
B. Saran
Mengingat bahwa tradisi Kumpul Kope merupakan salah satu kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang yang dalamnya terkandung nilai-nilai yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat Manggarai pada khususnya masyarakat Kecamatan Sambi Rampas, maka sangat disayangkan jika kebudayaan tersebut lenyap oleh pengaruh perkembangan zaman. Untuk itu maka penulis menyampaikan beberapa saran demi tetap lestarinya kebudayaan tersebut, antara lain:
1) Bagi masyarakat Kecamatan Sambi Rampas, baik orangtua maupun kaum muda agar tetap melestarikan kebudayaan-kebudayan yang dimiliki, khususnya  tradisi Kumpul Kope dalam  perkawianan agar tradisi ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kumpul Kope dapat tetap hidup dan tertanam kuat dalam pribadi setiap orang serta dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.   
2) Bagi generasi penerus bangsa agar lebih mencintai budaya sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya orang lain
3) Bagi semua masyarakat agar tidak mempersoalkan nilai/jumlah dari mata uang dan juga hewan dalam sebuah adat perkawinan tetapi degan adanya belis dapat terbina hubungan kekerabatan antara saudara laki-laki yang sudah berkeluarga dengan saudari perempuan yang sudah menikah maka perlu diadakan hubungan kekerabatan melalui perkawinan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...