Manusia Purba di Indonesia dan Dunia | Materi Sejarah Peminatan Kd 3.9


Manusia Purba di Indonesia dan Dunia

Halo salam Jasmerah...jumpah lagi di postingan duniasejarah25 kali ini saya akan menyajikan materi Manusia Purba di Indonesia dan Dunia. langsung saja silakan dicermati materi yang di sajikan dibawah ini kalau ada yang kurang silahkan coment dibawah...😃😃😀 




Manusia Purba di Indonesia dan Dunia

A. MANUSIA PURBA DI INDONESIA 

    Sebelum membahas perkembangan manusia purba, sebaiknya perlu dipelajari mengenai keadaan alam Indonesia. Pada ribuan tahun yang lalu, kondisi alam Indonesia berbeda dibanding dengan masa sekarang. Memasuki kala pleistosen, secara umum kondisi alam sudah stabil, kecuali Indonesia bagian timur. Selama kala pleistosen berlangsung jaman es (Glasial), dimana es di kutub sering meluas. Hal ini berarti daratan di bumi mencapai wilayah yang paling luas. Jaman es terjadi empat kali yaitu Gunz, Mindel, Risz dan Wurm. Sedangkan jaman interglasial terjadi sebanyak tiga kali. Jaman interglasial merupakan jaman diantara dua jaman es, dimana es di kutub yang mencair menyebabkan sebagian besar permukaan bumi diliputi perairan.
   Jaman es timbul karena suhu bumi tidak tetap. Suhu yang turun mendadak membawa akibat permukaan es meluas, sehingga bagian barat Indonesia bersatu dengan Asia. Sedangkan bagian timur bersatu dengan Australia. Sebaliknya jika suhu naik, es akan mencair yang berakibat daratan penghubung tenggelam dan terbentuk paparan Sahul dan paparan Sunda. Perubahan geografis ini akan mempengaruhi perkembangan flora dan fauna di wilayah Indonesia. Adapun perubahan bentuk kepulauan Indonesia disebabkan oleh gerakan pengangkatan, kegiatan gunung berapi dan turunnya permukaan air laut pada masa glasial.
    Kepulauan Indonesia terletak di daerah tropis. Pada masa pleistosen, telah dikenal musim hujan dan kemarau. Musim hujan pertama berlangsung dan diikuti dengan terbentuknya hutan di daerah semenanjung Malaya, Kalimantan, Philipina dan Sulawesi Utara. Jullius Schuster menyelidiki lapisan bumi di trinil dan menemukan fosil tumbuhan. Dari fosil tersebut, ternyata ada yang masih hidup sampai sekarang di Jawa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada jaman pleistosen di Jawa memiliki temperatur 6 – 8 ° C lebih rendah dibanding masa sekarang. 
    Berdasarkan penelitian hasil temuan peninggalan sejarah yang berupa fosil (tulang manusia, hewan dan tumbuhan) maupun artefak (peralatan hidup) yang telah membatu, ternyata dapat diketahui bahwa di Jawa pernah hiduip berbagai jenis manusia sejarah awal. Fosil manusia yang ditemukan berupa tengkorak, tulang paha, tulang kaki, dan rahang. Dengan merekonstruksi fosil tersebut, maka para ahli berusaha menganalisis bentuk fisik dan tingkat budaya saat itu.
    Fosil manusia yang ditemukan pada jaman pleistosen terdapat di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia sebagian besar baru ditemukan di Jawa. Indonesia, dalam hal ini Jawa menduduki posisi penting dalam perkembangan paleoantropologi, dimana banyak ditemukan fosil dari segala jaman pleistosen. Oleh karena itu nampak sekali perkembangan biologis manusia tersebut.
    Jaman pleistosen ditandai dengan munculnya manusia dan diikuti dengan berbagai peristiwa yang memiliki pengaruh besar bagi kehidupan pada saat itu. Peristiwa tersebut adalah meluasnya es ke sebagian permukaan bumi, perubahan iklim, timbulnya daratan baru, terjadinya letusan gunung berapi, timbul dan tenggelamnya daratan karena turun naiknya permukaan air laut. Peristiwa ini mem[engaruhi cara hidup manusia, hewan maupun tumbuhan di muka bumi. Jenis manusia pada sejarah awal di Indonesia meliputi :
1. Meganthropus
    Meganthropus berasal dari kata Mega = besar dan anthropus = manusia, artinya manusia besar. Jenis ini baru ditemukan satu yaitu Meganthropus Paleojavanicus atau Manusia Raksasa dari Jawa Kuno. Meganthropus diteliti oleh GHR. Von Koenigswald dan Marks di Sangiran (Jawa Tengah) tahun 1936 dan 1941 yang berada pada lapisan pleistosen bawah (formasi Pucangan). Adapun fosil yang ditemukan berupa tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat bila dibandingkan dengan rahang Pithecanthropus. Berdasarkan fosilnya, jenis ini memiliki ciri : rahang besar, geraham besar, otot kunyah kuat, muka masif, tulang pipi tebal, tonjolan kening tajam, tonjolan belakang kepala besar, tidak memiliki dagu, tempat pelekatan otot tengkuk yang besar dan kuat, dan perawakan yang tegap. Dalam kehidupannya memakan tumbuhan tanpa diolah dan hidup 2 juta – 1 juta tahun yang lalu. 

sumber: Wikimedia

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meganthropus memiliki ciri :
a. memiliki badan yang tegap dan rahang yang besar dan kuat.
b. hidup dengan memakan tumbuhan, misal umbi-umbian dan buah-buahan.
c. belum mampu bercocok tanam, tetapi hanya mengumpulkan bahan makanan dari alam sekitar.
2. Pithecanthropus
     Pithecanthropus berasal dari kata Pithe = kera dan anthropus = manusia, artinya “manusia kera”. Jenis pithecanthropus merupakan bentuk paling dominan dan hidup sepanjang jaman pleistosen. Daerah penemuannya meliputi : Mojokerto, Kedungbrubus, Sangiran, Sambungmacan dan Ngandong (Jawa), Sumatra, Sulawesi, Philipina dan Cina. Adapun ciri pithecanthropus secara umum yaitu : tinggi badan 165 – 180 cm, badan tegap, geraham besar, rahang kuat, tonjolan kening melintang yang tajam dan tonjolan belakang kepala tajam, dagu dan hidung lebar. Volume tengkorak 750 cc – 1300 cc, hidup 2,5 juta – 1,5 juta tahun yang lalu serta memakan tumbuhan dan hewan. Dalam berburu, diperkirakan satu rombongan terdiri dari 20 – 50 orang. Wanita dimungkinkan banyak meninggal pada saat melahirkan. Banyak anak dalam masa berburu dianggap kurang menguntungkan. Jenis pithecanthropus dibedakan atas :
a. Pithecanthropus Mojokertoensis
   Jenis ini sering disebut manusia kera dari Mojokerto, yang ditemukan di Perning, lembah Bengawan Solo (Mojokerto) oleh GHR von Koenigswald (1936) dan berasal dari lapisan pleistosen bawah yaitu formasi Pucangan Kepuhklager dan Sangiran. Di Kepuhklager temuan fosil berupa tengkorak berusia 6 tahun dengan volume tengkorak ± 650 cc dan jika dewasa ± 1000 cc. Tengkorak di Sangiran memiliki isi tengkorak berkisar 900 cc. Pithecanthropus Mojokertensis memiliki ciri : pemakan segalanya, hidup 2,25 juta – 1,25 juta tahun yang lalu. Secara fisik memiliki ciri: tinggi tubuh 130 – 210 cm, berat badan 150 kg, otak lebih besar daripada Meganthropus, otot tengkuk mengalami penyusutan, dahi masih menonjol dan berdiri tegak serta berjalan lebih sempurna.
b. Pithecanthropus Erectus
    Jenis ini sering disebut manusia kera yang berjalan tegak yang ditemukan di Trinil (Ngawi) oleh Eugene Dubois tahun 1890. Ciri fisiknya : tinggi badan 165 – 170 cm, berat badan ± 100 kg, tangan mampu menggenggam, badan tegap dan alat pengunyah kuat. Volume otak sekitar 900 cc (manusia biasa sekitar 1000 cc). Makanan sudah mulai diolah, mulai menggunakan api, daging menjadi makanan sehari-hari dan hidup antara 1 juta – 0,5 juta tahun yang lalu. Cara berjalan belum tegak benar, dimana tangan masih sering membantu. Fosil yang ditemukan berupa sebagian tulang rahang, bagian atas tengkorak dan geraham. Berikutnya ditemukan geraham dan tulang paha kiri (1892).

sumber: Wikimedia
    Sejaman dengan pithecanhtropus Erectus, di Cina ditemukan Pithecanthropus Pekinensis. Di Kenya (Afrika), ditemukan jenis Austrolopithecus Afrikanus. Sedangkan di Eropa Barat dan Tengah ditemukan sisa makhluk manusia Piltdown dan Heidelberg. Jenis ini menurunkan manusia Neanderthal. Teuku Jacob menyatakan bahwa pithecanthropus sudah bisa bertutur ditambah bahasa isyarat.
c. Pithecanthropus Robustus
     Pithecanthropus Robustus dapat diartikan sebagai pithecanthropus = manusia kera dan robustus = kuat/ besar, berarti manusia kera yang besar / kuat. Jenis ini ditemukan oleh Weidenreich dan Koenigswald di daerah Mojokerto dengan ciri unsur manusia lebih dominan (1939). Jika dilihat dari ciri fisik, maka jenis ini terletak diantara Pithecanthropus Mojokertensis dengan Pithecanthropus Erectus. Bentuk tubuhnya diperkirakan lebih besar dan kuat dibanding Pithecanthropus Erectus.
3. Homo
    Homo merupakan manusia sejarah awal/ purba yang termuda bila dibandingkan dengan fosil manusia yang lain. Jenis Homo dapat dikatakan manusia purba yang memiliki sifat seperti manusia sekarang (Homo Sapiens). Jenis Homo yang dianggap tertua adalah Homo Neanderthalensis yang diperkirakan sudah hidup di bumi 250.000 tahun yang lalu. Jenis ini mendiami daerah Eropa, Asia Barat dan Afrika Utara. Kemampuan bertutur kata diperkirakan belum begitu berkembang. Volume otaknya berkisar 1.000 – 2.000 cc. tinggi badan berkisar 130 – 210 cm dengan berat badan mencapai 30 – 150 kg.
   Jenis Homo Sapiens sudah muncul di bumi sekitar 40.000 tahun yang lalu. Jenis ini menyebar hampir di seluruh muka bumi. Homo Sapiens diperkirakan sudah mampu bertutur kata, meskipun masih sederhana dengan disertai bahasa isyarat. Populasinya tersebar di Niah/ Serawak (Malaysia), Palawan (Philipina), Cina Selatan dan Australia yang hidup sekitar 30.000 tahun yang lalu.
     Adapun jenis Homo yang dijumpai di Indonesia, berdasarkan pelapisan tanah penemuannya, dapat diperkirakan hidup antara 60.000 – 20.000 tahun yang lalu. Fosil Homo ditemukan di daerah Wajak (Tulungagung) dan Solo. Ciri fisik lebih maju dibanding pithecanthropus yaitu volume tengkorak 1000 – 2000 cc, tinggi badan 130 – 210 cm, berat badan 30 – 150 kg, berdiri dan berjalan lebih sempurna. Disamping itu juga dahi masih menonjol, otot tengkuk mengalami penyusutan.
a. Homo Soloensis
    Homo Soloensis ditemukan pada lapisan pleistosen atas di daerah lembah Bengawan Solo yaitu desa Ngandong. Fosil ini ditemukan dan diteliti Von Koenigswald dan Weidenreich (1931 dan 1934). Dari tempat tersebut ditemukan fosil berupa 11 tengkorak dan dua tulang paha. Von Koenigswald menyatakan jenis Homo Soloensis memiliki tingkat yang lebih tinggi dibanding jenis Meganthropus dan Pithecanthropus. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dengan volume otak yang lebih besar yang menunjukkan fosil manusia. Jenis ini hidup 900.000 – 200.000 tahun yang lalu. Homo Soloensis digolongkan jenis Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia, Eropa dan Afrika. Manusia Solo memiliki tinggi badan 1,30 m – 2,1 m dan berat badan 30 – 150 kg.
b. Homo Wajakensis
   Homo Wajakensis ditemukan von Reistchotten (1889) dan diselidiki lebih lanjut oleh Eugene Dubois. Jenis homo ini ditemukan pada lapisan pleistosen atas di daerah Wajak, Tulungagung. Manusia Wajak termasuk rumpun sub ras Melayu Indonesia dan berevolusi menjadi ras Austromelanesoid. Adapun ciri fisiknya meliputi : tengkorak sedang, agak lonjong, muka lebih mongoloid dan pipi menonjol ke samping. Hidup sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang lalu. Di Asia Tenggara dijumpai fosil sejenis yaitu manusia Niak (Serawak) dan manusia Tabon (Palawan/ Philipina).
    Homo Wajakensis diperkirakan sudah mengenal api dan memakan makanan yang dimasak lebih dahulu secara sederhana. Disamping itu juga mampu membuat peralatan hidup dari batu dan tulang.
    Berdasarkan jenis manusia pada sejarah awal tersebut, von Koeningswald membagi lapisan pleistosen menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Pleistosen bawah (formasi Pucangan)
    Pada lapisan ini diselidiki oleh Duyfjes, von Koenigswald dan de Terra yang ditemukan jenis Pithecanthropus Mojokertensis dan Meganthropus Palaeojavanicus.
2. Pleistosen Tengah (formasi Kabuh)
   Lapisan pleistosen tengah diselidiki Van Es, Duyfjes dan de Terra dan terpusat di daerah pegunungan Kendeng (Sangiran dan Trinil), daerah Kabuh dan Sumber Ringin (Jombang). Di formasi Kabuh ini ditemukan jenis Pithecanthropus Erectus.
3. Pleistosen Atas (formasi Notopuro)
    Lapisan pleistosen atau formasi Notopuro merupakan pelapisan masa pleistosen yang paling muda. Pleistosen lapisan atas dapat dijumpai di pegunungan Kendeng, Ungaran, Ngawi, Jombang dan Sangiran. Penyelidikan dilakukan oleh Oppenoorth dan Ter Haar (1931 – 1932). Jenis yang ditemukan adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.
    Manusia jenis Homo Wajakensis yang ditemukan pada lapisan pleistosen atas, dimungkinkan termasuk Homo Sapiens. Jenis ini memiliki ciri fisik (lihat dalam tabel 3) yang membedakan dengan jenis sebelumnya dan memiliki kemiripan dengan manusia modern.
B. MANUSIA PURBA DI LUAR INDONESIA
1. Manusia purba di Cina
    Fosil manusia purba di Cina telah diteliti oleh Davidson Black, di wilayah Choukoutien (40 km dari Beijing). Dalam penelitiannya ditemukan fragmen : gigi, tulang dan tengkorak. Setelah direkonstruksi, maka disimpulkan banyak kesesuaian dengan Pithecanthropus Erectus. Fosil yang ditemukan menunjukkan ciri : tulang yang tebal, dahi rendah, dan condong ke belakang dengan tonjolan tulang kening yang mencuat di atas lekuk mata. Jenis ini dinamakan Pithecanthropus Pekinensis.
   Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Franz Weidenreich. Manusia purba di Choukoutien ini menunjukkan bahwa telah mengenal penggunaan api. Jenis Pithecanthropus Pekinensis, dikenal juga dengan Sinanthropus Pekinensis yang berkembang menjadi Homo Pekinensis. Jenis ini memiliki volume otak 900 – 1.200 cc. Manusia purba di Cina juga ditemukan di daerah Cina Selatan yang dikenal dengan Pithecanthropus Lantianensis yang sejaman dengan Pithecanthropus Mojokertensis.
2. Manusia purba di Afrika
sumber: Wikimedia
    Raymond Dart melakukan penelitian tentang manusia purba di Afrika. Dalam penelitian diperoleh fragmen tengkorak dan bagian belakang rahang bawah di daerah Taung, Botswana. Disimpulkan bahwa manusia purba tersebut adalah anak berusia 5 – 6 tahun yang dinamakan Australopithecus Africanus. Robert Broom menemukan tulang tubuh dan tulang panggul, sehingga memperkuat teori manusia purba tersebut berjalan tegak. JT. Robinson dan Robert Broom meneliti manusia jenis Australopithecus Robustus, dimana memiliki ciri badan lebih besar dan lebih muda.
     Penelitian manusia di daerah Afrika timur dilakukan Louis Leakey di Olduvia, dan diberi nama Australopithecus Boisei. Disamping itu juga fosil Homo Habilis (Tukang). Homo Rudolfensis yang diteliti Bernard Ngeneo di daerah Koobi Fora Kenya. Homo Ergaster adalah jenis hominin yang telah punah, hidup di Afrika timur dan selatan 1,9 juta – 1,4 juta tahun di era Pleistosen. Jenis ini sering dikelompokkan pada subspesies Homo Erectus.
3. Manusia purba di Eropa
     Fosil manusia purba yang ditemukan di Eropa antara lain adalah Homo Neandethalensis yang ditemukan di Lembah Neander, Jerman pada tahun 1856 dan Homo Cro magnon yang ditemukan di dekat Lez Eyzies, Prancis pada tahun 1868.
sumber: Wikimedia
a. Ciri-ciri Homo Neandethalensis :
1) Tengkorak yang memanjanag ke belakang
2) Tulang kening yang sangat menonjol
3) Dahi yang datar, muka lebar, dan telah memiliki otak yng besar
4) Volume otak sangat besar 1300-1750 cc
5) Ukuran tubuh perempuan 156 cm beratnya 80 kg, laki-laki 165 cm beratnya 80 kg
6) Tulang hidungnya besar, giginya kecil tetapi gigi serinya agak besar
7) Tubuhnya tegak dan proporsi tubuhnya modern
b. Ciri-ciri Homo Cro magnon :
1) Ciri-ciri fisik seperti manusia modern, yaitu tengoraknya tinggi dengan atap dan belakang tengkorak yang bundar
2) Memiliki volume otak sekitar 1400 cc
3) Tonjolan tulang kening telah hilang, dahinya vertical, mukanya datar tanpa penonjolan di bagian mulut
4) Ukuran rahang dan gigi-giginya sebagai alat pengunyah telah menyusut, serta dagu tampak nyata
5) Ukuran tubuhnya rata-rata 165 cm
6) Struktur dan volume tengkoraknya tampak lebih mirip tengkorak ras-ras yang hidup di Afrika dan daerah tropis saat ini
     Manusia purba Homo Neandethalensis memiliki nenek moyang yaitu Homo Heidelbergensis yang ditemukan oleh Dr. Schoetensack (1908) di Desa Maurer dekat kota Haidelberg, Jerman. Manusia Heidelberg adalah spesies pada genus Homo yang telah punah yang mungkin merupakan nenek moyang langsung Homo Neandethalensis di Eropa. Bukti yang ditemukan mengenai Homo Heidelbergensis berusia 600.000 – 400.000 tahun yang lalu.
c. Ciri-ciri fisik Homo Heidelbergensis
1) Volume otak kira-kira 1100-1400 cc
2) Tinggi badan rata-rata 163,6 cm, perempuan : 157 cm, 51 kg dan laki-laki 175 cm, 62 kg
3) Beberapa specimen tulang tengkoraknya tebal
4) Tulang tengkoraknya berwarna cerah
5) Memiliki tulang tengkorak yang lebih tinggi dari pada Homo Erectus
6) Muka besar
7) Alis yang bertemu pada satu sisinya sebagian ukurannya besar
8) Secara umum, giginya kecil. Gigi geraham depan bagian bawah mempunyai dua puncak. Lapisan email gigi tebal
9) Rahang tegak
10) Proporsi tubuhnya modern
Pola kehidupan Homo Neandethalensis
     Makan makanan yang umum beberapa memakan daging, hidup di daerah Eropa, sebagian wilayah timur (Asia Timur, Barat, dan Tengah) lingkungannya stepa yang dingin sampai daerah Tundra.
    Pola kehidupan Homo Cro magnon
    Sudah mengenal cara hidup berburu, meramu, food gathering atau mengumpulkan makanan untuk dijadikan persediaan. Manusia Cro magnon terbilang lebih maju dalam teknologi disbanding Homo Neandethalensis. Manusia ini diketahui berdasarkan lukisan-lukisan terkenal di gua Lascaux dan budaya Aurignacian yang berkembang di selatan Prancis dan Jerman.
C. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN MANUSIA PURBA
Perbedaan Manusia Prasejarah dengan Homo Sapiens
1. Manusia purba memiliki ruang rongga otak lebih kecil dibanding ruang rongga otak Homo Sapiens.
2. Volume otak manusia purba lebih kecil, sedangkan Homo Sapiens memiliki volume otak lebih besar.
3. Tulang kening manusia purba menonjol ke depan, sedangkan tulang kening pada Homo Sapiens tidak menonjol ke depan.
4. Tulang rahang manusia purba pada bagian bawah lurus ke belakang , sehingga seperti tidak memiliki dagu, sedangkan Homo Sapiens tulang rahang bawah tidak lurus ke belakang, nampak memiliki dagu.
5. Tulang rahang manusia purba besar dan kuat, begitu pula gigi-giginya, sedangkan tulang rahang Homo Sapiens kecil dan tidak kuat termasuk juga gigi-giginya.

Sekian postingannya silakan yang mau berdiskusi dan sampai jumpa di postingan berikutnya.😃😀😉😃

0 Response to " Manusia Purba di Indonesia dan Dunia | Materi Sejarah Peminatan Kd 3.9 "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Loading...