Berakhirnya Politik Apartheid di Afrika Selatan

Berakhirnya PoLitik Apartheid di Afrika Selatan


Note: Baca menyeluruh materinya baru Lihat Ringkasan singkatnya dibawah Ini


1. Apartheid
a. Pengertian Apartheid

Lukisan yang mengilustrasikan kedatangan para pelaut Belanda di Tanjung harapan 1652Apartheid adalah sistem pemisahan ras yang diberlakukan di Republik Afrika Selatan dalam kurun waktu 1948 hingga 1993. Secara etimologis, apartheid berasal dari bahasa Afrika yang artinya terpisah. Dari sisi historis, cikal-bakal apartheid sesungguhnya sudah muncul jauh sebelum 1948 dan terus membayangi Afrika Selatan sebelum akhirnya dihapus. Hal yang perlu digarisbawahi dalam sistem apartheid adalah legalisasi hukum atas diskriminasi terhadap orang-orang kulit berwarna atau kulit hitam. Dalam sistem itu, orang-orang kulit putih memiliki hak istimewa untuk memperoleh perumahan, pekerjaan, akses pendidikan, dan akses kekuasaan politik.


b. Cikal Bakal Munculnya Apartheid
wikipedia.orgPada 1652, Belanda tiba di Afrika Selatan dan mendirikan Tanjung Harapan (Cape Town). Para pemukim Belanda di Afrika Selatan ini memanfaatkan Perusahaan india Timur Belanda (VOC) untuk mengimpor budak dari Malaysia, Madagaskar, India, Indonesia, Mozambik, dan Afrika Timur. Para pemukim Belanda itu dikenal dengan nama kaum Boer. Ketika emas ditemukan di tanah-tanah kesukuan pada 1795, pasukan Inggris merebut kendali atas koloni Tanjung Harapan. Setelah itu, banyak warga Inggris berimigrasi ke Afrika Selatan dan menyingkirkan para pemukim. Para pemukim Belanda berjuang mempertahankan dan merebut kekuasaan atas wilayah yang mereka tempati. Hal ini melahirkan Perang Anglo-Boer I dari 1880-1881 dan Perang Anglo-Boer II dari 1899-1902. Dalam perjanjian damai, kaum Boer kehilangan kekuasaan. Inggris pun mempertahankan dominasi di Afrika Selatan serta menghapus perbudakan.

Orang-orang Inggris, setelah bernegosiasi dengan jenderal keluarga Boer, membentuk Komisi Urusan Pribumi Asli Afrika elatan. Dalam negosiasi itu diusulkan segregasi pemisahan)rasial di bidang lahan, tenaga kerja, pendidikan, dan politik. Pada 1910, Afrika Selatan memperoleh status dominion dalam Kerajaan Inggris. Dalam sepuluh tahun berikutnya, pemerintahan gabungan pemukim Inggris-Afrikaner (kaum Boer) mengesahkan beberapa undang-undang yang secara tegas memisahkan orang-orang Afrika Selatan yang berkulit hitam dari orang-orang Afrika Selatan berkulit putih. Undang-Undang Wilayah Orang Asli (disahkan pada 1913dan 1936) memaksa suku-suku asli Afrika (yang tidak berkulit putih) untuk tinggal di tanah (kurang dari 14% ) mereka. Padahal sebenarnya mereka adalah kaum mayoritas dengan mencakup 85% penduduk. Pada 1930-an, ketika cengkeramarf Partai Nasional
Capture
(sebuah partai yang semua anggotanya berkulit putih) semakin kuat, proses pemisahan orang-orang asli Afrika dari orang-orang kulit putih semakin gencar. Orang-orang kulit hitam (kulitberwarna) dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah di perkebunanperkebunan milik kaum kulit putih.

c. Pemberlakuan Apartheid
Pada 1948, Partai Nasional memenangi pemilihan umum. Di bawah kepemimpinan Daniel F. Malan, “segregasi (pemisahan) total” apartheid diberlakukan. Periode pertama dikenal sebagai baaskap, yang berarti Afrikaner berkuasa dan memiliki supremasi atas kulit putih. Dalam periode ini, orang-orang kulit hitam dan Asia diusir dari tempat tinggal mereka dan digiring ke tempat yang sejauh mungkin dari pusat permukiman, lahan pertanian, serta pusat bisnis kaum kulit putih. Mereka juga kehilangan semua hak politik, termasuk hak kewarganegaraan.Dalam perkembangannya, kaum kulit putih menyadari bahwa tenaga kerja murah hanya berasal dari orang-orang yang baru saja mereka singkirkan. Untuk itu, agar kegiatan bisnis berjalan lancar, para pebisnis kulit  utih “ mengizinkan” kaum kulit berwarna ini untuk kembali ke wilayah-wilayah “ putih” untuk bekerja. Guna mengawasi orang-orang kulit berwarna tersebut, empat rancangan undang-undang disahkan menjadi undang-undang, yaitu UndangUndang Larangan Nikah Campur (1949), Undang-Undang Registrasi Penduduk (1950), Undang-Undang Wilayah Kelompok (1950) (secara paksa merelokasi 3,5 juta orang pada akhir 1980-an), dan Undang-Undang Reservasi Pemisahan Fasilitas (1953).

Ketika Fiehdrick Verwoerd menjadi perdana menteri pada 1958, apartheid diterapkan dengan cara lain, yaitu dari baaskap ke“ pembangunan terpisah” [separatedevelopment). Maksud dari istilah “ pembangunan yang terpisah” dijelaskan dalam sebuah undangundang yang disahkan setahun setelahnya (1959), yaitu Bantu Self-Government Act 1959. Undang-undang ini mengesahkan apa yang disebut Black Homelands (Tanah Air Etnis) bagi sepuluh suku kulit hitam di Afrika Selatan. Akibatnya, seluruh warga kulit hitamdi Afrika Sclatan dipindahkan ke salah satu dari sepuluh wilayah suku ini. Dengan demikian, sekitar 87 persen wilayah darat Afrika Selatan dikuasai oleh kaum kulit putih. Di satu wilayah suku itu, semua warga kulit hitam dapat menikmati semua hak politik dan menjadi warga negara dari wilayah itu, bukan warga negara dari Afrika Selatan. Contohnya, mereka dapat melakukan pemilihan umum untuk memilih pemimpin mereka. Wilayah itu memang dirancang sebagai sebuah negara merdeka yang hanya terdiri dari orang-orang kulit hitam.
Di wilayah tanah air etnis itu, sebagian pajak yang dibayar kaum kulit hitam ke pemerintah digunakan untuk membangun perumahan, sekolah, rumah sakit, universitas, dan infrastruktur lain. Dukungan keuangan dan pendidikan yang bersifat umum juga diberikan dengan tujuan agar warga di tanah air etnis ini siap menyongsong kemerdekaan secara penuh, sebagaimana telah dialami oleh dua negara “ tanah air etnis” lain yang telah berhasil, yaitu Lesotho dan Swaziland.Sementara itu, mereka yang bekerja di tanah “ orang-orang putih” tidak diperbolehkan mengikutsertakan keluarganya. Hal itu bertujuan menghindari dominasi ras kulit hitam di tempat kaum kulit putih. Semua warga nonkulit putih wajib membawa buku izin atau “ buku kehidupan”. Dalam buku izin itu tercantum akta perkawinan, akta kelahiran, dan surat izin kerja. Mereka yang ditangkap tanpa membawa buku izin akan dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa (dalam kasus yang ekstrem).


Captured. Perlawanan terhadap Apartheid
Pelaksanaan sistem apartheid mendapat perlawanan dari para tokoh Afrika Selatan yang tergabung dalam Kongres Nasional Afrika atau Afrika national Gongress (ANC). ANC berjuang menghapuskanapartheid. Tokohnya yang terkenal adalah Nelson Mandela (1918-2013) yang bergabung dengan ANC menjelang pecahnya Perang Dunia II. Nelson mendorong ANC menjadi sebuah gerakan nasional. Fokus perhatian ANC adalah hak-hak sipil warga kulit hitam Afrika Selatan. Mereka mengadakan gerakan perlawanan terhadap hukum yang tidak adil {defiance campaign of unjust laws). Gerakan perlawanan itu dilakukan secara damai, tanpa kekerasan. Pada awal 1995, ANC mengirim 50.000 sukarelawan ke kotakota dan kampung-kampung untuk menyerap aspirasi dari seluruh penduduk Afrika Selatan. Masyarakat pada intinya menuntut hak-hak sipil yang penuh serta kesetaraan bagi semua warga Afrika Selatan. Contohnya, tanah harus dibagikan kepada orang yang tidak memiliki tanah, upah harus sesuai dengan standar hidup dan jam kerja dikurangi, serta pendidikan wajib bebas biaya tanpa membeda-bedakan warna kulit, ras, dan kebangsaan. Tuntutantuntutan ini disatukan dalam Piagam Kebebasan {Freedom Charter•),yang diresmikan pada Kongres Rakyat di Kliptown 26 Juni 1955. Pada Desember 1956, lebih dari seratus aktivis ditangkap. Mereka didakwa melakukan pengkhianatan tingkat tinggi. Namun, semua terdakwa dibebaskan.

Pada 6 April 1959, Pan Africanist Congress (PAC) disahkan di Soweto dan dimotori oleh pecahan dariANC. PAC mengampanyekan anti-Pass Laws.Kampanye pertama mereka berbuntut pembunuhan massal di Sharpeville pada 21 Maret 1960, ketika 69 orang tewas ditembak. Tepatnya pada 8 April 1960, ANC dan PAC dilarang oleh pemerintah. Para pemimpinnya dipenjarakan atau diasingkan tanpa proses pengadilan. Nelson Mandela, misalnya, dipenjarakan seumur hidup pada 1962 sebelum akhirnya dibebaskan pada 1990. PAC langsung merespons dengan membentuk sayap militer Azanian People’s Liberation Army. Pada 1963, ANC membentuk sayap militer Umkonto we Sizwe, yang berarti “ Tombak Bangsa.” Praktik-praktik buruk dan kejam apartheid ternyata berhasil membuka mata dunia internasional. Semakin banyak negara mulai mengecam rezim apartheid. Oleh karena kecaman yang bertubitubi, pada 1961, Perdana Menteri B. J. Verwoerd menyatakan Afrika Selatan keluar dari keanggotaan PBB, meninggalkan Persemakmuran Inggris, serta melarang Afrika Selatan mengikuti
Olimpiade.
Pada 1983, 600 organisasi Afrika Selatan bersama-sama membentuk Front Demokratis Bersatu. Mereka mendukung Piagam Kebebasan serta menuntut dihapusnya istilah“ homelands” Meningkatnya aktivitas-aktivitas antiapartheid ini membuat pemerintah menyatakan keadaan darurat pada 1986. Lima ribu tentara disebar untuk melarang, menangkap, dan menahan puluhan ribu orang Afrika Selatan. Banyak dari mereka yang disiksa dan dibunuh. Negara-negara asing mulai menarik transaksi bisnis,perdagangan, dan investasi mereka dari Afrika Selatan menjelang akhir 1980-an. Akibatnya, Afrika Selatan mengalami depresi ekonomi.

CapturePada 1989, pemimpin Partai Nasional, Frederik Willem de Klerk menjadi perdana menteri. Ia membebaskan banyak tahanan politik kulit hitam. Ia menyatakan kepada parlemen bahwa apartheid telah gagal dan semua larangan pendirian partai politik segera dicabut. Namun, ketegangan terus berlanjut hingga 1993. Lebih dari sepuluh ribu warga Afrika Selatan tewas karena kekerasan politik. Pada Februari 1990, organisasi antiapartheid tidak dilarang, tahanan politik dibebaskan, termasuk Nelson Mandela, dan pengesahan resolusi baru yang secara resmi menghapus praktik apartheid. Apartheid resmi berakhir pada 1994. Pada tahun yang sama, Nelson Mandela terpilih menjadi presiden melalui pemilihan yang bebas. Ia mewujudkan kesetaraan bagi seluruh warga Afrika Selatan.

Sumber: Buku Sejarah Kelas XII, Ratna Hapsari, M, Adil, penerbit Erlangga


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel