Latarbelakang lahirnya Nasionalisme di Indonesia


Latarbelakang nasionalisme Indonesia muncul bersamaan dengan tumbuhnya keinginan untuk membentuk. negara kebangsaan Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan lahirnya organisasi-organisasi pergerakan yang bersifat modern dan teratur pada awal abad ke-20. Hal ini dapat dilihat
dari berdirinya Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij, hingga Sumpah Pemuda.

1. Budi Utomo

Para pelopor Budi Utomo

Budi Utomo menupakan organisasi yang pertama hadir. Budi Utomo didirikan oleh para pelajar Sekolah Dokter Pribumi (STOVIA). Budi Utomo lahir di Jakarta pada tanggal di Utomo merupakan organisasi modern pertama yang didirikan oleh
bangsa Indonesia yang diketuai oleh dr. Sutomo.
mya Budi Utomo tidak terlepas dari gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo tentang perlunya memperluas dan meningkatkan pendidikan bagi bangsa Indonesia. Budi Utomo memfokuskan diri tidak hanya pendidikan saja, akan tetapi bidang-bidang lainnya seperti kebudayaan dan kepanduan. Selain itu, Budi Utomo juga meningkatkan perekonomian dan usaha-usaha dalam bidang sosial lainnya. Inti dari tujuan didrikannya Budi Utomo, yaitu untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia. Budi Utomo mengadakan kongres yang pertama pada bulan Oktober 1908. Dalam
kongres tersebut awalnya terjadi perdebatan antara para pemuda tentang arah dan tujuan didirikannya organisasi tersebut. Namun, dr. Wahidin berbicara tentang pendidikan bagi golongan priayi, bukan golongan rakyat biasa pada umumnya.
Perbedaan pendapat juga datang dari dr. Rajiman Wediodiningrat dan dr. Cipto Mangunkusumo. dr. Rajiman berpendapat bahwa bangsa Barat lebih cerdas daripada bangsa Indonesia dan peradaban bangsa Barat lebih maju dari bangsa Timur. Sebaliknya, menurut dr. Cipto bahwa bangsa Timur tidak boleh bodoh dari bangsa Barat.

Tokoh Budi Utomo


Dokter Cipto juga menghendaki agar Budi Utomo dijadikan partai politik dan terbuka untuk seluruh bangsa Indonesia tanpa membedakan agama, suku, dan ras. Dalam kongres tersebut terbentuk pengurus yangdiketuai oleh R.M.Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, seorang priayi moderat.Adapun keputusan yang diambil dalam kongres tersebut adalah keanggotaan
Budi Utomo terbatas pada suku bangsa yang berkebudayaan Jawa (suku bangsa Madura
Jawa, Bali dan Lombok). Ditegaskan pula bahwa Budi Utomo hanya bergerak dalam bidang
pendidikan, pengajaran dan kebudayaan, tidak akan melibatkan diri dalam partai politik.
Dalam anggaran dasar yang disetujui oleh pemerintah pada tanggal 28 Desember 1908, disebutkan bahwa organisasi Budi Utomo berusaha untuk memajukan bangsa. Sejak pertama kongres berakhir, corak dari Budi Utomo berubah. Pemimpin dan keanggotaannya banyak dari kalangan pegawai negeri dan priayi. Tujuan organisasi hanya untuk mementingkan mereka, sementara itu pendidikan rakyat terabaikan. Pengajaran bahasa Belanda diutamakan hanya untuk priayi. Oleh karena itu, Budi Utomo sudah meninggalkan prinsip dasarnya, banyak pelajar dan pemuda STOVIA yang berpikiran maju mengundurkan diri dari keanggotaan Budi
Utomo bahkan salah satunya adalah Cipto Mangunkusumo.

Keanggotaan Budi Utomo semakin lamban karena anggotanya pada umumnya pegawai pemerintah. Selain itu, Budi Utomo tetap menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah serta tidak mengambil risiko. Budi Utomo telah berjasa dalam gerakan moral dan budaya. Hal ini terlihat dari kemampuannya menjadikan bangsa Indonesia bekerja sama dalam sebuah organisasi modern yang disusun menurut pola Barat. Sementara itu,
sebagai gerakan budaya, Budi Utomo memberikan sumbangan bagi bangsa Indonesia dengan mencegah orang Jawa menjadi kebarat-baratan.
Asas kebangsaan Jawa yang tetap dipertahankan, menyebabkan keanggotaan Budi Utomo menjadi tidak diminati karena hanya orang tertentu yang dapat menjadi anggotanya. Bahkan, dr. Sutomo pun meninggalkan Budi Utomo pada tahun 1924 yang kemudian mendirikan organisasi baru bernama Indonesische Studie Club. Lambat laun tujuan organisasi ini berubah, Budi Utomo tetap dianggap sebagai organisasi pelopor pergerakan nasional Indonesia yang pertama. Penghormatanini diwujudkan setiap tanggal 20 Mei (hari berdirinya Budi Utomo) sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

2. Sarekat Islam (SI)

Lambang SI


Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Cina sangat merugikan bagi pengusaha batik di Indonesia. Para pedagang Cina dengan seenaknya menaikturunkan harga bahan baku dengan cara menjual bahan sedikit demi sedikit. Keadaan tersebut membuat H Samanhudi menghimpun kekuatan dalam sebuah organisasi dagang yang disebut Sarekat Dagang Islam (SDI).
Pada akhir tahun 1911, di Solo lahir organisasidagang yang bercorak Islam yang diketuai oleh H. Samanhudi, organisasi ini dikenal dengannama Sarekat Dagang Islam (SDI). Namun,
setahun kemudian Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. H.O.S Tjokroaminoto diangkat sebagai ketuanya, sementara Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Dengan pergantian nama tersebut lingkup organisasi bertambah luas, bukan hanya terbatas di kota Solo saja. Pelebaran sayap SI mencapai hingga daerah lain dan
kedudukannya dipindahkan ke Surabaya. Keanggotaan SI dirasakan oleh seluruh komponen
bangsa tidak mengenal suku dan ras. Dengan demikian, tidak hanya orang Indoncsia saja
yang masuk SI, tetapi bangsa Arab pundapat masuk menjadi anggotanya.Tujuan didirikannya
Sarekat Islam, yaitu memajukan perdagangan, membantu anggotanya yang mengalami
kesukaran, dan memajukan kepentingan Isl
Sejak pertama lahir SI bukan dibentuk sebagai organisasi politik, akan tetapi dalam sepak terjangnya hal itu jelas terlihat. Kegiatan politik SI sangat berhati-hati. Dalam kongres pada tahun 1914, Cokroaminoto mengatakan bahwa SI akan bekerja sama dengan pemerintah dan tidak berniat melawan pemerintah. Semakin lama, sikap SI terhadap pemerintah Belanda semakin keras dan menentang.

Anggota SI


Pada awalnya Sarekat Islam menempuh cara kooperasi. Pada waktu pemerintah mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat), Sarekat Islam mendudukkan wakil-wakilnya dalam dewan itu, antara lain Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berubah menjadi nonkooperasi setelah Volksraad dianggap sudah tidak bisa lagi untuk memperjuangkan kemerdekaan Lambat laun, Sarekat Islam menjadi organisasi massa yang besar. Hal ini jelas mengkhawatirkan pemerintahan kolonial. Untuk itu, pemerintah Belanda mengeluarkan berbagai peraturan, salah satunya adalah larangan Sarekat Islam berdiri secara nasional. Mereka hanya diperbolehkan berdiri secara lokal. Hal ini dikeluarkan oleh Gubernur
Jenderal Idenburg. Dikeluarkannya perintah tersebut membuat organisasi ini melemah, diperparah dengan banyaknya anggota yang memiliki keanggotaan ganda.Perlahan-lahan
pertentangan semakin memuncak dalam tubuh SI, sebagian besar anggota menolak ketika SI lebih mengutamakan unsur politik ketimbang agama. Dengan kondisi seperti ini, SI kemudian berubah menjadi PSII yang kooperatif dengan pemerintah
Belanda. PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) diketuai oleh Haji Agus Salim pada tahun 1930, dan pada tahun yang sama PSII terpecah menjadi beberapa kelompok.

3. Indische Partij (IP)

Tiga Serangkai
Salah satu organisasi yang secara terang-
terangan berdiri sebagai organisasi partai politik, yaitu Indische Partij. Organisasi ini didirikan oleh Douwes Dekker (kemudian mengganti nama menjadi Danudirja Setiabudi), dr.Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada tahun 1912. Douwes
Dekker merupakan seorang Indo-Belanda yang
bekerja di harian De Express yang tulisan tulisannya tajam mengkritik kebijakan-kebijakan kolonial, Cipto Mangkusumo merupakan tokoh radikal yang memisahkan diri dari Budi Utomo karena berbeda pendapat dengan kalangan priayi. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara merupakan seorang bangsawan anggota keluarga Pakualam yang semula memasuki Budi Utomo dan kemudian memisahkan diri disebabkan alasan yang sama dengan Cipto. Ketiga tokoh radikal ini yang mewarnai Indische Partij menjadi partai yang radikal.

Karya Suwardi Suryaningrat


Indische Partij secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka berjuang untuk melepaskan diri dari kolonial. Semboyan yang digunakan oleh partai ini adalah Indie Los van Holland (Hindia bebas dari Holland) dan Indie voor Inders (Hindia untuk Hindia). Istilah Inder merupakan istilah untuk orang Hindia pada masa itu sama dengan orang Indonesia pada masa sekarang. Indische Partij memperkenalkan wawasan kebangsaan yang disebut Indische Nationalisme (Nasionalisme Hindia). Dengan demikian, partai ini tidak membedakan asal keturunan, suku bangsa, agama dan kebudayaan, serta bahasa dan adat istiadat. Hal
paling mendasar bagi partai ini adalah kemauan untuk menjadi bangsa yang satu, yakni bangsa Hinder (Hindia) yang merdeka, bebas dari kekuasaan kolonial Belanda. Pada tahun 1923, partai ini dibubarkan setelah permohonannya untuk diakui sebagai badan hukum ditolak oleh pemerintah karena dianggap radikal.

sekian postingan Latarbelakang lahirnya Nasionalisme di Indonesia sampai jumpah di post berikutnya

No comments for "Latarbelakang lahirnya Nasionalisme di Indonesia"