Masa Perkembangan Pergerakan Nasional


Halo salam Jasmerah...jumpah lagi di postingan duniasejarah25 kali ini saya akan menyajikan materi kelas XI yakni tentang Masa Perkembangan Pergerakan Nasional langsung saja silakan dicermati materi yang di sajikan dibawah ini kalau ada yang kurang silahkan coment dibawah...😃😃😀 
 Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa pergerakan nasional (1908 - 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut.
1. Masa penyusunan (1908 - 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
2. Masa radikal/nonkooperasi (1920 - 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
3. Masa moderat/kooperasi (1930 - 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

1. Budi Utomo (BU)
Pada tahun 1906 Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo, merintis mengadakan kampanye menghimpun dana pelajar (Studie Fund) di kalangan priyayi di Pulau Jawa. Upaya dr. Wahidin ini bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan menolong para pelajar yang kekurangan dana. Dari kampanye hal yang demikian hasilnya pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr. Sutomo. Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia. Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik. Tujuan utamanya yaitu kemajuan bagi Hindia Belanda. Mengontrol ini nampak dari tujuan yang hendak ditempuh yakni perbaikan pembelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja buah hati-si kecil mencari ilmu, membuka sekolah pertanian, memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka menempuh kehidupan rakyat yang sesuai.
Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 3 Oktober – 5 Oktober 1908. Kongres ini dihadiri beberapa cabang yaitu Bogor, Bandung, Yogya I, Yogya II, Magelang, Surabaya, dan Batavia. Dalam kongres yang pertama berhasil diputuskan sebagian hal berikut.
a. Tak jangkauan geraknya terhadap penduduk Jawa dan Madura.
b. Membentuk melibatkan diri dalam politik.
c. Bidang aktivitas ialah bidang pengajaran dan kultur.
d. Hasilnya pengurus besar organisasi yang diketuai oleh R.T. Tirtokusumo.
e. Merumuskan tujuan utama Budi Utomo merupakan kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa.
Terpilihnya R.T. Tirtokusumo yang seorang bupati sebagai ketua terbukti dialamatkan supaya lebih memberikan kekuatan pada Budi Utomo. Kedudukan bupati memberi akibat positif dalam rangka menggalang dana dan keanggotaan dari Budi Utomo. Untuk usaha memantapkan eksistensi Budi Utomo diusahakan untuk langsung menerima badan tata tertib dari pemerintah Belanda. Mengatur ini terealisasi pada tanggal 28 Desember 1909, anggaran dasar Budi Utomo dilegalkan. Dalam perkembangannya, di tubuh Budi Utomo timbul dua
aliran berikut.
a. Pihak kanan, berkehendak supaya keanggotaan dikuasai pada golongan terpelajar saja, tak bergerak dalam lapangan politik dan hanya mengatur pada pembelajaran sekolah saja.
b. Pihak kiri, yang jumlahnya lebih kecil terdiri dari kaum muda ingin ke arah gerakan kebangsaan yang demokratis, lebih memerhatikan nasib rakyat yang menderita.
Adanya dua aliran dalam tubuh Budi Utomo menyebabkan terjadinya perpecahan. Dr. Cipto Mangunkusumo yang mewakili kaum muda keluar dari keanggotaan. Mendukung gerak Budi Utomo semakin lamban. Berikut ini ada sebagian unsur yang menyebabkan semakin lambannya Budi Utomo.
a. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan untuk kalangan priyayi daripada penduduk lazimnya.
b. Lebih mementingkan pemerintah kolonial Belanda dari pada kepentingan rakyat Indonesia.
c. Menonjolnya kaum priyayi yang lebih mengutamakan jabatan menyebabkan kaum terpelajar tersisih.
Serta meletus Perang Dunia I tahun 1914, Budi Utomo mulai terjun dalam bidang politik. Berikut ini beberapa wujud peran politik Budi Utomo.
a. Melancarkan informasi pentingnya pertahanan sendiri dari serangan bangsa lain.
b. Menyusun gagasan semestinya militer pribumi.
c. Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke Belanda untuk pertahanan Hindia.
d. Sejalan duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
e. Semenjak Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota volksraad.
Budi Utomo sanggup menerbitkan majalah bulanan Goeroe Desa yang memiliki kiprah masih terbatas di kalangan penduduk pribumi. Bayang-bayang dengan kemerosotan kesibukan dan dukungan pribumi pada Budi Utomo, maka pada tahun 1935 Budi Utomo mengadakan fusi ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Menurut itu BU terus mengalami kemerosotan dan mundur dari kancah politik.
2. Sarekat Islam (SI)
Pada mulanya Sarekat Islam ialah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI merupakan kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, karenanya tidak mempunyai anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu supaya mempunyai anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam).
Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh sebagian tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang pesat sebab gigih agama Islam. Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam ialah:
a. perlawanan kepada para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina,
b. isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menampakkan dayanya, dan
c. membuat front melawan semua penghinaan kepada rakyat bumi putera.
Tujuan yang mau ditempuh pantas dengan anggaran dasarnya ialah:
a. mengoptimalkan jiwa berdagang,
b. memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,
c. memajukan pendidikan dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumi putera,
d. membantah pendapat-anggapan yang keliru seputar agama Islam,
e. tidak bergerak dalam bidang politik, dan
f. menggalang persatuan umat Islam hingga saling bantu membantu.
Kecepatan tumbuhnya SI bagaikan meteor dan meluas secara horizontal. SI adalah organisasi massa pertama di Indonesia. Antara tahun 1917 hingga dengan 1920 amat terasa pengaruhnya di dalam politik Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda perjuangannya, Sarekat Islam menerbitkan surat isu yang bernama Utusan Hindia.
Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk memperjuangkan SI berbadan tata tertib. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto tak dikasih badan tata tertib. Ironisnya yang memperoleh pengakuan pemerintah kolonial Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang SI yang ada di tempat. Ini suatu strategi pemerintah kolonial Belanda dalam memecah belah persatuan SI. Tiap perpecahan muncul dari pandangan yang berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan Semaun mengenai kapitalisme. Akhirnya Semaun yang memiliki pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan tahun 1921, dikuasai adanya disiplin partai rangkap member. Tindakan anggota SI tidak boleh merangkap sebagai member organisasi lain khususnya yang beraliran komunis. Saat SI pecah menjadi dua adalah SI Putih dan SI Merah.
a. SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan Islam. Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
b. SI Merah, yang berhaluan sosialisme kiri (komunis). Dipimpin oleh Semaun, yang berfokus di Semarang.
Dalam kongresnya di Madiun, SI Putih berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada tahun 1927 berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sementara itu, SI Sosialis/Komunis berganti nama menjadi Sarekat Rakyat (SR) yang merupakan penyokong kuat Partai Komunis Indonesia (PKI).
3. Indische Partij (IP)
IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, adalah E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Pendirian IP ini dialamatkan untuk mengganti Indische Bond yang yakni organisasi orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia. Mengatur ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) terutamanya antara keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indo). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Memegang ini disadari benar sebab jumlah orang Indo betul-betul sedikit, maka dibutuhkan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.
Di samping itu juga disadari betapa malah bagusnya usaha yang dibangun oleh orang Indo, tak akan mendapat reaksi rakyat tanpa adanya bantuan orang-orang bumi putera. Perlu diketahui bahwa E.F.E Douwes Dekker dilahirkan dari keturunan campuran, ayah Belanda, ibu seorang Indo. Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij ialah untuk membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP memakai media majalah Het Tijdschrifc dan surat berita ‘De Expres’ pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia. Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena berharap mendobrak kenyataan politik rasial yang dijalankan pemerintah kolonial. Tetapi ini nampak kongkret pada tahun 1913. Meski itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Pencetus suatu yang kurang tepat di mana suatu negara penjajah melaksanakan upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai penjajahnya. Mengendalikan yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul ‘Als ik een Nederlander was’, Andaikan aku seorang Belanda. Sejajar dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap. Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Express tanggal 26 Juli 1913 yang dikasih judul Kracht of Vrees?, berisi seputar kekhawatiran, tenaga, dan ketakutan. Dr. Tjipto malahan dicokok, yang membikin rekan dalam Tiga Serangkai, E.F.E. Douwes Dekker ikut serta serta mengkritik dalam artikelnya di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat, Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij ditangkap. Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Lewat pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia sebab sakit. Semboyan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun dalam dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pengajaran Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker dicokok lagi dan
dibuang ke Suriname, Amerika Latin.
4. Perhimpunan Indonesia dan Manifesto Politik
Pada tahun 1908 di Belanda berdiri sebuah organisasi yang bernama Indische Vereeniging. Lewat penyusunan organisasi ini ialah Sutan Kasayangan Soripada dan RM Noto Suroto. Para mahasiswa lain yang terlibat dalam organisasi ini merupakan R. Pandji Sosrokartono, Gondowinoto, Notodiningrat, Abdul Rivai, Radjiman Wediodipuro (Wediodiningrat), dan Brentel. Tujuan dibentuknya Indische Vereeniging merupakan untuk memajukan kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal dari Indonesia. Kedatangan tokoh-tokoh Indische Partij seperti Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sungguh-sungguh memberi dampak perkembangan Indische Vereeniging. Masuk konsep “Hindia Bebas” dari Belanda, dalam pembentukan negara Hindia yang disuruh oleh rakyatnya sendiri. Perasaan anti-kolonialisme kian nampak setelah ada seruan Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson seputar kebebasan dalam menentukan nasib sendiri pada negara-negara terjajah (The Right of Self Determination). Dalam upaya berkecimpung lebih jauh, organisasi ini mempunyai media komunikasi yang berupa majalah Hindia Poetra. Pada rapat biasa bulan Januari 1923, Iwa Kusumasumantri sebagai ketua baru memberi penjelasan bahwa organisasi yang sudah diberesi ini mempunyai tiga asas pokok yang disebut juga Manifesto Politik, ialah:
a. Indonesia berharap memutuskan nasib sendiri,
b. agar dapat menetapkan nasib sendiri, bangsa Indonesia mesti mengandalkan energi dan kecakapan sendiri, dan
c. dengan tujuan melawan Belanda bangsa Indonesia wajib bersatu.
Mengikuti Indische Vereeniging kian tegas dan radikal, dan sudah berkembang ke arah politik. Bayangan dengan kian meluasnya penerapan nama Indonesische, dirasa perlu untuk mengubah nama organisasi menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1924. Majalah Hindia Poetra pun ikut berubah nama menjadi Indonesia Merdeka. Mengikuti rapat pada tanggal 3 Februari 1925 kesudahannya Indonesische Vereeniging diganti menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Meski “Indonesia Merdeka” telah menjadi semboyan walaupun mengatakannya dengan Bahasa Belanda. Mencontoh media “Indonesia Merdeka” dan aktivitas internasional, dunia internasional mengetahui aktivitas pengorbanan para pemuda Indonesia. Berikut ini aktivitas-kesibukan internasional yang dicontoh oleh PI.
a. Infiltrasi Kongres ke-6 Liga Demokrasi Internasional untuk Walhasil di Paris pada tahun 1926. Delegasi Perhimpunan Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta.
b. Penyusupan Kongres I Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Berlin pada tahun 1927, mengirimkan Mohammad Hatta, Nasir Pamuncak, Batot, dan Achmad Subardjo. Dalam perjalanannya Perhimpunan Indonesia mengalami banyak tekanan dari pemerintah Belanda, lebih-lebih sesudah terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1926. Pengawasan dilaksanakan kian ketat. Memiliki demikian, pada tanggal 25 Desember 1926 Semaun bersama Mohammad Hatta menandatangani suatu kesepakatan yang diketahui dengan Konvensi Hatta-Semaun. Dalam kesepakatan itu ditekankan pada upaya Perhimpunan Indonesia tetap pada garis pengorbanan kebangsaan dan diharapkan PKI dengan ormas-ormasnya tak menghalang-halangi Perhimpunan Indonesia dalam menciptakan citacitanya. Cita-cita Perhimpunan Indonesia tertuang dalam 4 pokok ideologi dengan memerhatikan permasalahan sosial, ekonomi dengan menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan politik yang dioptimalkan semenjak tahun 1925. Keempat pokok ideologi hal yang demikian yakni kesatuan nasional, solidaritas, non-kooperasi, dan swadaya.
5. Partai Komunis Indonesia (PKI)
Partai Komunis Indonesia (PKI) secara sah berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI tak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet. Mahir bersama teman-sahabatnya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain. PKI terus berusaha menerima dampak dalam masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuhnya merupakan melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam. Imbas dapat dengan gampang dikerjakan karena ada sebagian unsur berikut.
a. Adanya kemelut dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda lebih memberi pengakuan terhadap cabang Sarekat Islam lokal.
b. Adanya disiplin partai dalam SI, di mana member SI yang merangkap member ISDV seharusnya keluar dari SI. Mensupport SI terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih.
Mempertimbangkan sukses menyusup dalam tubuh SI, jumlah anggota PKI kian besar. PKI berkembang cepat. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan PKI berkembang cepat.
a. Propagandanya yang betul-betul menarik.
b. Menetapkan pemimpin yang berjiwa kerakyatan.
c. Aktivitas merebut massa rakyat yang tergabung dalam partai lain.
d. Sikapnya yang tegas terhadap pemerintah kolonial dan kapitalis.
e. Di kalangan rakyat terdapat keinginan bahwa PKI bisa menggantikan Ratu Adil.
Organisasi PKI makin kuat saat pada bulan Februari 1923 Darsono kembali dari Moskow. Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso, karenanya peranan politik PKI semakin luas. Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemberontakan ini betul-betul sia-sia karena massa sama sekali tak siap di samping organisasinya masih kacau. PKI telah mengorbankan ribuan orang yang terpengaruh hasutan untuk ikut serta serta dalam pemberontakan. Pendidikan buruk lainnya yang menimpa para pejuang pergerakan di tanah air yakni berupa pengekangan dan penindasan yang luar biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tak punya ruang gerak. Bagus PKI dinyatakan sebagai partai terlarang melainkan secara ilegal mereka masih mengerjakan kegiatan politiknya. Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk konsisten memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia.
6. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak bermula dari studie club. Salah satunya yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club. Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh kondisi sosio politik yang rumit. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat untuk membentuk kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada permulaan berdirinya, PNI berkembang benar-benar cepat karena disupport oleh elemen-faktor berikut.
a. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
b. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
c. Propagandanya menarik dan memiliki orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).
Untuk mengobarkan motivasi perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan pengorbanan PNI. Trilogi hal yang demikian mencakup kesadaran nasional, kemauan nasional, dan perbuatan nasional. Tujuan PNI yakni mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menerapkan tiga asas adalah self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya kepada pemerintah juga antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya yaitu marhaenisme. Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928. Kongres ini menetapkan beberapa hal berikut.
1. Susunan program yang meliputi:
a. bidang politik untuk mencapai Indonesia merdeka,
b. bidang ekonomi dan sosial untuk memajukan pelajaran nasional.
2. Tetapi garis perjuangan yang dianut merupakan nonkooperasi.
3. Melainkan garis politik mengkoreksi kondisi politik, ekonomi dan sosial dengan daya sendiri, antara lain dengan mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik-poliklinik, bank nasional, perkumpulan koperasi, dan sebagainya.
Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya pernyataan semua potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI dicontoh oleh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club. Berikut ini ada dua macam perbuatan yang dijalankan untuk memperkokoh diri dan berimbas di masyarakat.
1. Ke dalam, mengadakan usaha-usaha dari dan untuk lingkungan sendiri seperti mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah, bank dan sebagainya.
2. Keluar, dengan memperkuat opini publik kepada tujuan PNI antara lain melewati rapat-rapat awam dan penerbitan surat kabar Banteng Priangan di Bandung, dan Persatuan Indonesia di Jakarta.
Mencontoh PNI ini pesat menarik massa dan hal ini betul-betul mencemaskan pemerintah kolonial Belanda. Pengawasan kepada aktivitas politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakantindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas desus bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, karenanya empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi sanksi oleh pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir. Soekarno dengan kejagoannya melaksanakan advokasi yang diberikan judul “Indonesia Menggugat”. Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan pukulan berat dan menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar umum yang diadakan di Jakarta pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran ini memunculkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo. Mereka yang tak setuju dengan pembubaran masuk dalam Sejak Nasional Indonesia (PNI Pengorbanan) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Melainkan Partindo maupun PNI Pengorbanan, masih menerapkan asas PNI yang lama yaitu self help dan nonkooperasi. Lewat di antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal strategi pengorbanan. PNI Perjuangan lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial, padahal Partindo mengutamakan aksi massa sebagai senjata yang tepat untuk mencapai kemerdekaan.
7. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
PPPKI dibentuk di Bandung pada tanggal 17 - 18 Desember 1927. Beranggotakan organisasi-organisasi seperti Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Budi Utomo (BU), PNI, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, dan Kaum Studi Indonesia. Tujuan dibentuknya PPPKI ialah:
a. menghindari seluruh perselisihan di antara anggota-anggotanya;
b. menyatukan organisasi, arah, serta metode beraksi dalam pengorbanan kemerdekaan Indonesia; dan
c. mengembangkan persatuan kebangsaan Indonesia.
Pengorbanan organisasi PPPKI sebagai inspirasi persatuan sejak permulaan mengandung benih-bibit kelemahan dan keretakan. Berikut ini ada sebagian unsur yang menyebabkan keretakan hal yang demikian.
a. Masing-masing member lebih mementingkan loyalitas pada masing-masing kelompoknya.
b. Kurangnya kontrol pusat terhadap kesibukan lokal.
c. Perbedaan gaya pengorbanan di antara organisasi-organisasi member PPKI hal yang demikian.
8. Partai Indonesia (Partindo)
Serta Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap pada tahun 1929, maka PNI pecah menjadi dua yakni Partindo dan PNI Pengorbanan. Partindo didirikan oleh Sartono pada tahun 1929. Berdasarkan awal berdirinya Partindo memiliki banyak member dan terjun dalam aksi-aksi politik menuju Indonesia Merdeka. Dasar Partindo sama dengan PNI adalah nasional. Tujuannya yakni menempuh Indonesia merdeka. Asasnya malahan juga sama ialah self help dan nonkooperasi. Partindo kian kuat setelah Ir. Soekarno bergabung ke dalamnya pada tahun 1932, sesudah dibebaskan dari penjara. Melewati, karena kesibukan-kegiatannya yang sangat radikal menyebabkan pemerintah mengerjakan pengawasan yang cukup ketat. Awam tak dapat berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.
9. Partai Indonesia Raya (Parindra)
Digagas radikal yang dilakukan oleh PKI, PI, dan PNI mulai usai saat pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan kepada sejumlah tokoh PNI. Di samping itu pemerintah kolonial di bawah Gubernur Jenderal de Jonge mengerjakan pengawasan yang ketat kepada organisasi-organisasi yang ada pada masa itu. Ingin kondisi hal yang demikian, para tokoh pergerakan mengubah garis perjuangannya. Dari yang semula radikal dan nonkooperasi menjadi moderat dan kooperasi dengan menempatkan wakilnya dalam volksraad. Salah satu organisasi yang bersifat moderat merupakan Partai Indonesia Raya (Parindra). Parindra didirikan di kota Solo oleh dr. Sutomo pada tanggal 26 Desember 1935. Parindra yaitu fusi dan Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Tujuan Parindra ialah menempuh Indonesia Raya.
Asas politik Parindra ialah insidental, artinya tak berpegang pada asas kooperasi ataupun nonkooperasi. Sikapnya kepada pemerintah tergantung pada situasi dan situasi yang dihadapi, jadi luwes. Tokoh-tokoh Parindra yang familiar dalam membela kepentingan rakyat di volksraad ialah Moh. Husni Thamrin. Parindra berjuang supaya wakil-wakil volksraad kian bertambah sehingga suara yang berkaitan dengan upaya menempuh Indonesia merdeka kian dilihat oleh pemerintah Belanda. Digagas Parindra dalam volksraad cukup berhasil, terbukti pemerintah Belanda mengganti istilah inlandeer menjadi Indonesier.
10. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937 oleh orang-orang bekas Partindo. Tokoh-tokohnya antara lain Sartono, Sanusi Pane, dan Moh. Yamin. Dasar dan tujuannya ialah nasional dan mencapai Indonesia Merdeka. Gerindo juga menganut asas insidental yang sama dengan Parindra. Tujuan Gerindo antara lain:
a. mencapai Indonesia Merdeka,
b. memperkokoh ekonomi Indonesia,
c. mengangkat kesejahteraan kaum buruh, dan
d. memberi bantuan bagi kaum pengangguran.
11. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)
Pada tanggal 15 Juli 1936, partai-partai politik dengan dicetus oleh Sutardjo Kartohadikusumo mengajukan usulan atau petisi, adalah permohonan agar diselenggarakan suatu musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan negara Belanda di mana anggotanya mempunyai hak yang sama. Tujuannya ialah untuk menyusun suatu agenda pemberian kepada Indonesia suatu pemerintah yang berdiri sendiri. Lewat usul hal yang demikian ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Adanya kekecewaan terhadap keputusan pemerintah Belanda hal yang demikian, atas prakarsa Moh. Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei 1939, dibentuklah Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Berikut ini ada beberapa alasan yang mendorong terbentuknya Gapi.
a. Kegagalan petisi Sutarjo. Petisi ini berisi permohonan agar diadakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda. Tujuannya adalah supaya bangsa Indonesia diberi pemerintahan yang berdiri sendiri.
b. Kepentingan internasional pengaruh timbulnya fasisme.
c. Sikap pemerintah yang kurang memerhatikan kepentingan bangsa Indonesia.
12. Organisasi Keagamaan
Muhammadiyah yakni organisasi Islam modern yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah berarti umat Muhammad atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini mempunyai kemauan bisa mengikuti segala jejak pengorbanan dan pengabdian Nabi Muhammad. Tujuan yang berharap ditempuh ialah:
a. memajukan pengajaran berdasarkan agama Islam, dan
b. memupuk keimanan dan ketaqwaan para anggotanya.
Dalam rangka menempuh tujuan itu, Muhammadiyah menjalankan sebagian upaya berikut.
a. Mendirikan sekolah-sekolah (bukan pondok pesantren) dengan pendidikan agama dan kurikulum yang modern.
b. Mendirikan rumah sakit dengan nama Terhadap Kesengsaraan Si (PKU).
c. Mendirikan rumah yatim piatu.
d. Mendirikan perkumpulan kepanduan Hisbul Wathan.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan dari golongan Islam konservatif. Mereka mengamati Muhammadiyah demikian itu terbuka terhadap kebudayaan Barat sehingga kuatir kemurnian Islam akan dirusakkan. Oleh sebab itu para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Gerakan NU dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Gerakan Muhammadiyah banyak mendapatkan simpati termasuk pemerintah kolonial Belanda sebab perjuangannya tidak bersifat konfrontatif (menyanggah). Dalam Kongres Muhammadiyah yang
berlangsung dari tanggal 12 - 17 Maret 1925 di Yogyakarta, diperbincangkan dilema-situasi sulit yang terkait dengan pengajaran Islam, mass media Islam, dan buku-buku tentang Islam yang berbahasa Jawa.
Di samping Muhammadiyah, gerakan keagamaan lain yang mempunyai andil bagi kemajuan bangsa antara lain, berikut ini.
a. Jong Islamienten Bond, berdiri tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta.
b. Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur.
c. Nahdlatul Wathan, berdiri tahun 1932 di Pacor, Lombok Timur.
13. Organisasi Pemuda dan Wanita
Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri yakni Tri Koro Dharmo. Organisasi ini berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta atas pedoman Budi Utomo. Setelah oleh dr. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Mereka mufakat untuk mendirikan organisasi kepemudaan yang anggotanya berasal dari siswa sekolah menengah di Jawa dan Madura. Perkumpulan ini dikasih nama Tri Koro Dharmo yang berarti tiga tujuan mulia (sakti, budhi, bakti). Dalam perkembangannya, Tri Koro Dharmo membuka cabang di Surabaya. Dalam rangka mengefektifkan perjuangan, diterbitkan sebuah majalah yang juga dikasih nama Tri Koro Dharmo. Berikut ini tujuan Tri Koro Dharmo secara nyata dalam anggaran dasarnya.
a. Petugas menghidupkan persatuan dan kesatuan, di antara pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.
b. Asisten sama dengan segala organisasi pemuda guna menyusun ke-Indonesiaan. Keanggotannya terbatas pada para pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok.
Tri Koro Dharmo memiliki asas-asas seperti berikut.
a.  pertalian antara murid-murid bumi putera pada sekolah dan kursus perguruan kejuruan.
b. Menambah pengetahuan umum bagi member-anggotanya.
c. Membangkitkan dan mempertajam bahasa dan kebiasaan Indonesia.
Organisasi kepemudaan lainnya yang bersifat kedaerahan banyak bermunculan seperti Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees Ver Bond, PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia), Pemuda Indonesia, Jong Islamienten Bond, kepanduan, dan sebagainya. Di samping gerakan para pemuda, kaum wanita juga tak berharap tertinggal. Pergerakan wanita dipelopori oleh R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah Kartini. Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920 antara lain Putri Mardika yang didirikan atas bantuan Budi Utomo. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan pengajaran terhadap si kecil-si kecil perempuan dengan metode memberi penerangan dan bantuan dana, mempertinggi sikap yang merdeka, dan melenyapkan perbuatan malu-malu yang melampaui batas.
Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun 1913 di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang, Cianjur, dan tahun 1917 di Ciamis, menyusul di Cicurug tahun 1918. Tokoh Kautamaan Istri yang familiar yaitu Raden Dewi Sartika, seorang pengajar Kautamaan Istri di tanah Pasundan. Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan wanita yang benafaskan Islam dengan nama Sopa Tresna, yang kemudian pada tahun 1914 menjadi bagian wanita dari Muhammadiyah dengan nama Aisyah. Di Yogyakarta kecuali Aisyah juga ada perkumpulan wanita yang bernama Wanito Utomo, yang mulai memasukkan perempuan ke dalam kegiatan dasar profesi ke arah emansipasi. Di samping R.A.Kartini dan Dewi Sartika, masih terdapat seorang tokoh wanita adalah Ibu Maria Walanda Maramis dari Minahasa. Beliau mendirikan perkumpulan yang bernama  Ibu   Temurunnya (PIKAT) pada tahun 1917. PIKAT dalam kegiatannya mendirikan Sekolah Kepandaian Putri.
Dalam perkembangannya, perkumpulan-perkumpulan wanita itu menjalankan kongres yang diketahui dengan ‘Kongres Perempuan Indonesia”.
14. Sumpah Pemuda
Sumpah pemuda, tak bisa lepas dari organisasi kepemudaan yang bernama PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang didirikan pada tahun 1926. PPPI mendapatkan dukungan dari sejumlah organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Minahasa, Jong Batak, dan Jong Islamienten Bond dengan penuh keyakinan berharap mencapai tujuannya merupakan persatuan Indonesia. Para pemuda ini menginginkan suatu upaya penyatuan peletakan dasar untuk kemerdekaan dengan menyanggah ketidakadilan yang dialami selama masa penjajahan. Pertemuan permulaan dilakukan tanggal 15 November 1925 dengan membentuk panitia Kongres Pemuda I, yang bertugas membentuk tujuan kongres. Diputuskan cara kerja kongres I mulai tanggal 30 April sampai dengan 2 Mei 1926.
Tujuan Kongres Pemuda I merupakan membentuk badan sentral, memajukan paham persatuan kebangsaan, dan mempererat kekerabatan di antara segala perkumpulan pemuda kebangsaan. Mengatur yang menjadi agenda diskusi merupakan tentang usul bahasa Indonesia yakni bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Mengenai usulan fusi untuk segala perkumpulan pemuda, tidak ada keputusan. Menetapkan berlangsungnya kongres pertama, para pemuda semakin tergerak untuk menindaklanjuti dengan melaksanakan kongres berikutnya. Oleh karena itu, setelah dimulai pertemuan pendahuluan terbentuklah susunan panitia seperti berikut.
Ketua          : Sugondo Joyopuspito
Wakil ketua : Djoko Marsaid
Sekretaris    : Mohammad Yamin
Bendahara   : Amir Syarifudin
Pembantu    : Djohan Tjain, Kotjo Sungkono, Senduk, J. Leimena, Rohjani.
Kongres Pemuda II berlangsung sejak tanggal 27 Oktober 1928 dan berakhir tanggal 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II diadakan sebanyak tiga kali rapat.
a. Rapat pertama, di gedung Katolik Jonglingen Bond di Waterloopein.
b. Rapat kedua, tanggal 28 Oktober pagi, di gedung Oost Java Bioscoop, di Koningsplein Noord.
c. Rapat ketiga, tanggal 28 Oktober malam, di gedung Indonesische Clubhuis di Jl. Kramat Raya 106 Jakarta.
Kongres menentukan ikrar/sumpah pemuda yang berikutnya menjadi landasan pengorbanan untuk menempuh Indonesia merdeka. Pada malam itu juga, untuk pertama kali didengarkan lagu Indonesia Raya oleh penggubahnya Wage Rudolf Supratman. Sebagai tindak lanjut dari Sumpah Pemuda 1928, pada tanggal 24 - 28 Desember 1928 di Yogyakarta para pemuda menyepakati pembentukan Komisi Besar Indonesia Muda (KBIM). Tugas komisi ini merupakan mempersiapkan terbentuknya satu wadah bagi seluruh Pemuda Indonesia. Hasil kerja komisi ini tampak dalam kongres pemuda di Surakarta pada tanggal 31 Desember 1936 yang berhasil membentuk organisasi Indonesia Muda (IM), yang merupakan fusi (peleburan) dari beraneka organisasi pemuda di Indonesia. Asas IM yakni kebangsaan Indonesia dan bertujuan untuk menciptakan Indonesia Raya. Para member IM dilarang berprofesi sama dengan pemerintah Belanda (bersifat nonkooperatif).

 Sekian postingannya silakan yang mau berdiskusi dan sampai jumpa di postingan berikutnya.😃😀😉😃