Materi Perpecahan Yugoslavia | Sejarah Peminatan Kelas XII


 1. Sejarah Singkat

Nama Yugoslavia merupakan kombinasi dari kata bahasa Slavia, yang berarti selatan dan slaveni yang berarti Slavia. Hal ini mengacu pada kenyatan bahwa etnis mayoritas negara ini adalah Slav dan terletak di bagian selatan Balkan. 
Wilayah Yugoslavia dan Balkan awalnya merupakan wilayah jajahan Ottoman selama berabad-abad, dan sebagian lagi merupakan jajahan Austro-Hungaria dan Rusia. Yugoslavia berdiri pada 1918 sebagai hasil dari Deklarasi Corfu (Yunani) pada 20Juli 1917, melibatkan Parlemen Serbia di pengasingan (yang mewakili Slovenia, Kroasia, dan Serbia) serta Dinasti Karadordevic dari Kerajaan Serbia. Pada awal pendirinya, nama yang digunakan adalah Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia. Hal itu karena negara baru ini merupakan gabungan antara Negara Slovenia, Kroasia, dan Serbia yang masih bersifat sementara (terbentuk dari wilayahwilayah bekas Kekaisaran Austro-Hungaria).

Wilayah bekas Negara Yugoslavia ditunjukkan wama putih.

Enam negara republik dan dua provinsi otonom sosialis yang membentuk Negara Yugoslavia adalah:

• Bosnia dan Herzegovina,
• Kroasia,
• Makedonia,
• Montenegro,
• Slovenia,
• Serbia, dan
• Dua provinsi otonom, yaitu Vojvodina dan Kosovo.


2. Yugoslavia Sebelum Perang Duma I

Pada abad VI dan VII, orang-orang Slavia menetap di kawasan Balkan. Wilayah tersebut mengalami proses kristenisasi pada abad IX. Slovenia berada di bawah pengawasan kaum Franks pada abad VIII, Bavaria pada abad IX, dan Austria pada abad XIV. Kerajaan Kroasia bertahan dari abad X hingga abad XI. Kroasia berada di bawah kendali pemerintahan Austro-Hungaria hingga akhir Perang Dunia I. Bosnia menjadi negara independen sejak abad XII hingga abad XV ketika di bawah pengawasan pemerintahan Ottoman-Turki. Pada 1908, Bosnia dianeksasi oleh Austria-Hungaria yang sekaligus memicu Perang Dunia I.

Makedonia dan Serbia ditaklukkan Ottoman-Turki menjelang akhir abad XIV. Sebelumnya, di bawah pemerintahan Stephen Dusan yang berkuasa antara 1331-1355, Kerajaan Serbia menjadi negara Balkan yang paling kuat di abad XIII hingga menjelang akhir abad XIV. Sementara itu, Montenegro, sebuah kerajaan independen dalam Kerajaan Serbia, ditaklukkan Ottoman pada 1499. Pada 1799, Ottoman mengakui kemerdekaan Montenegro. Selanjutnya, pada 1892, Ottoman menjamin otonomi Serbia.

Montenegro dan Serbia diakui sebagai negara independen oleh kekuatan Eropa dalam Kongres Berlin (1878). Serbia diproklamasikan sebagai sebuah kerajaan pada 1882. Negara ini terlibat dalam Perang Balkan (1912-1913) dan menjadi kekuatan utama Balkan.

Peta wilayah Balkan pada masa Kesultanan Ottoman-Turki


Gerakan Unifikasi Slavia Selatan dipimpin oleh Serbia dan penyebab utama Perang Dunia I. Seorang nasionalis Serbia membunuh pangeran Austria, Franz Ferdinand, di Bosnia. Austria kemudian menyatakan perang terhadap Serbia. Pembunuhan tersebut memicu Perang Dunia I. Saat diserang oleh Blok Sentral (Jerman, Austria-FIungaria, Ottoman, dan Bulgaria) dalam perang tersebut, pasukan Serbia dievakuasi ke markas Sekutu di Corfu, Yunani, tempat para wakil masyarakat Slavia Selatan memproklamasikan (Juli 1917) bentuk negara serikat, yang meliputi bangsa-bangsa di Slavia Selatan. Peter I diangkat menjadi raja. Pada Desember 1918, Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia diproklamasikan, yang kemudian diberi nama baru menjadi Yugoslavia.

3. Yugoslavia Desember 1918-Perang Dunia II
Konferensi Perdamaian Paris pada 1919, yang salah satunya berisi Perjanjian Versailles, mengakui sebuah negara baru yang bernama Kerajaan Serbia, Kroasia,'dan Slovenia. Di dalamnya bergabung juga Bosnia serta wilayah-wilayah lainnya. Sejak wafatnya Raja Peter I pada 1921, Alexander menjadi raja baru Yugoslavia. Dalam perjalanannya, Yugoslavia mengalami berbagai masalah dalam negeri yang pelik. Menjelang akhir 1920, Nicola Pasic yang berkebangsaan Serbia menjadi perdana menteri dan memberlakukan konstitusi yang sentralistik pada 1921. Orang-orang Kroasia, yang dipimpin oleh Stjepan Radic (1871-1928), menuntut otonomi. Radic dibunuh di parlemen pada 1928 setelah orang-orang Kroasia mendirikan parlemen terpisah di Zagreb (1928). Selanjutnya, Raja Alexander menyatakan kediktatoran, membubarkan parlemen, dan mengubah nama Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia menjadi Yugoslavia.

Periode kediktatoran berakhir secara resmi pada 1931. Meskipun demikian, konstitusi parlemen yang baru menyediakan prosedur pemilihan yang menjamin kemenangan partai pemerintah. Hal itu berbuntut pembunuhan Alexander di Marseilles, Prancis, pada 1934 oleh ekstremis Kroasia dan Makedonia.

Masalah internal ini dimanfaatkan oleh Hungaria dan Italia yang memang sejak awal tidak menghendaki persatuan kaum Slavia. Pada 1941, tentara Jerman dibantu oleh pasukan Bulgaria, Hungaria, dan Italia, menginvasi Yugoslavia. Seminggu kemudian, Yugoslavia takluk. Negara boneka Kroasia pun diproklamasikan. Italia, Flungaria, dan Jerman membagi-bagi wilayah Dalmatia, Montenegro, dan Slovenia di antara mereka. Makedonia yang dikendalikan Serbia diberikan kepada Bulgaria. Sementara itu, Serbia didirikan sebagai negara boneka di bawah kendali Jerman. Sementara Peter II mendirikan pemerintahan di pengasingan di London, banyak tentara Yugoslavia terus melakukan perlawanan terhadap pasukan pendudukan. Ada dua kelompok perlawanan utama, yaitu perlawanan Chetniks di bawah kendali Mihajlovic

Peta wilayah Republik Rakyat Federal Yugoslavia

dan perlawanan gerilya di bawah kendali Josip Broz Tito yang komunis. Pada 1943, terjadi perangsaudara antara kedua kelompok. Perang disebabkan karenaTito bersikeras tidak mau berkompromi dengan Blok Sentral. Tito didukung oleh Uni Soviet dan konon dia mendapat dukungan dari Inggris. Kuatnya kelompokTito memaksa Raja Peter II mengalihkan komando militer dari Mihajlovic kepada Tito.

Menjelang akhir Oktober 1944, Jerman diusir dari Yugoslavia. Tentara Uni Soviet memasuki Beograd. Dewan Pembebasan Nasional pimpinan Tito digabungkan dengan pemerintahan kerajaan pada November 1944. Pada Maret 1945, Tito menjadi perdana menteri. Merasa kaum komunis terlalu mendominasi pemerintahan, para anggota pemerintahan nonkomunis mengundurkan diri. Pada November 1945, pemilihan umum nasional menghasilkan kemenangan bagi pemerintah. Majelis konstituen memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Federal Yugoslavia yang terdiri dari Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Plerzegovina, Montenegro, dan Republik Makedonia, serta dua daerah otonom, yakni Kosovo dan Vojvodina. Tito diangkat menjadi pemimpin tertinggi.

4. Yugoslavia Era Josip Broz Tito

Konstitusi 1946 memberikan otonomi yang luas kepada enam republik yang baru dibuat, tetapi kekuasaan sesungguhnya berada di tanganTito dan partai komunis.Tito berasal dari etnis campuran Kroasia dan Slovenia. Ayahnya berasal ckri Kroasia dan ibunya dari Slovenia. Di bawah Tito, Yugoslavia meresmikan sosialisme. Oposisi dihancurkan atau diteror dan Mihajlovic dieksekusi. Hubungan yang dekat dengan Uni Soviet dan Cominform dipertahankan.

Namun, pada 1948, Yugoslavia dikeluarkan dari Cominform karena terjadi perselisihan antara Partai Komunis Yugoslavia dan Partai Komunis Uni Soviet. Tito kemudian mulai menjalankan hubungan yang independen dalam tata pergaulan internasional. Tito menjadi salah satu pendiri Gerakan Nonblok. Pihak Barat kemudian berusaha memengaruhi Yugoslavia dengan memberikan bantuan ekonomi dan militer.

'Di bawahTito, Yugoslavia memiliki kebebasan yang lebih besar daripada penduduk negara-negara Eropa Timur lainnya. Namun, kebebasan intelektual masih terbatas. Tokoh-tokoh berpengaruh yang dianggap mengancam pemerintahan dipenjarakan.

 Pada awal 1970-an, gerakan nasionalisme di antara bangsabangsa yang membentuk Yugoslavia bangkit kembali, khususnya Kroasia. Pengawasan atas kehidupan intelektual pun semakin ketat. Bangsa-bangsa tersebut menginginkan otonomi yang lebih besar. Seiring melemahnya kekuasaan Tito, terutama karena perekonomian yang tidak kunjung membaik, keenam republik dan dua provinsi otonom Serbia secara perlahan mendapatkan otonomi yang lebih besar sepanjang 1970-an.

Tito wafat pada 1980 dengan meninggalkan banyak masalah, seperti utang luar negeri yang menumpuk dan ancaman perpecahan. Sepeninggal Tito, Yugoslavia menganut kepemimpinan kolektif yang mewakili berbagai etnis dan bangsa. Meskipun demikian, kepemimpinan kolektif ini gagal mengatasi masalah politik dan ekonomi.

5. Perpecahan Yugoslavia

Slobodan Milosevic
Kepemimpinan kolektif pada akhirnya tidak berjalan efektif. Situasi sosial politik Yugoslavia semakin tidak menentu. Satu per satu bangsa-bangsa yang membentuk Yugoslavia mengambil ancang-ancang untuk membentuk negara sendiri. Di tengah situasi seperti itu, di Serbia muncul seorang tokoh baru yang bercita-cita menggantikan figur Tito, pemersatu Yugoslavia. Ia adalah Slobodan Milosevic. Pada 1987, ia memimpin Partai Komunis Serbia. Namun, ternyata ia adalah seorang nasionalis Serbia yang menginginkan agar Yugoslavia dikendalikan oleh orang-orang dari etnis Serbia. Milosevic dan kaum nasionalis Serbia berdalih bahwa selama berada di bawah kepemimpinan Tito, Serbia yang kaya sumber daya alam hanya dijadikan sapi perah untuk kemakmuran orang-orang Slovenia, Kroasia, dan Kosovo. Visi nasionalisme Serbia Milosevic terangkum dalam satu frase, Serbia Raya {Greater Serbia). Di dalamnya termasuk Serbia yang asli, Kroasia, Vojvodina, Kosovo, Montenegro, Bosnia dan Herzegovina, dan Makedonia.

CMilosevic terpilih sebagai presiden Serbia pada 1989. Langkah pertamanya adalah mencabut otonomi Kosovo pada awal 1989. Ia kemudian mengirim pasukan untuk menekan protes penduduk Kosovo yang beretnis Albania. Sementara itu, Slovenia dan Kroasia yang terancam oleh langkah-langkah Serbia pada awalnya hanya mendesak Serbia untuk menghargai otonomi setiap bangsa. Selanjutnya, pada 25Juni 1991, Slovenia dan Kroasia memproklamasikan kemerdekaan setelah sebelumnya pada tahun 1990 partai prokemerdekaan nonkomunis memenangi pemilihan umum.

Pertempuran langsung berkobar ketika tentara federal yang sebagian besarnya dikendalikan Serbia bergerak masuk ke Slovenia. Sebuah upaya perdamaian yang rapuh dinegosiasikan oleh delegasi komunitas Eropa, namun tidak lama kemudian pertempuran berkecamuk kembali. Pada akhir Juli 1991, semua pasukan federal telah meninggalkan Slovenia. Pada 8 September 1991, Makedonia mendeklarasikan kemerdekaan, yang diikuti pula oleh Bosnia dan Herzegovina pada Oktober 1991. Situasi berbeda terjadi di Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Di Kroasia, 13% penduduknya beretnis Serbia. Atas dukungan Serbia, warga etnis Serbia di Kroasia melancarkan perang pada 1992.

Ketegangan mereda ketika PBB menegosiasikan gencatan senjata dan mengirim pasukan penjaga perdamaian. Pada tahun yang sama, Komunitas Eropa (European Community) mengakui Kroasia dan - Slovenia sebagai negara merdeka. Selanjutnya, pada April 1992, Komunitas Eropa dan Amerika Serikat mengakui kedaulatan Bosnia dan Herzegovina.


Serbia kemudian mengalihkan kekuatan militernya ke Bosnia dan Herzegovina yang baru mendeklarasikan kemerdekaan. Di wilayah ini, penduduk etnis Serbia mencakup sekitar 30% dari populasi. Berdalih melindungi warga etnis Serbia serta mengembalikan Bosnia dan Herzegovina ke pangkuan Serbia, Serbia kemudian melancarkan perang atau yang populer disebut“ pembersihan etnis” Bosnia sejak 1992. Untuk memuluskan langkah itu, Serbia membentuk Republik Bosnia dan Herzegovina Serbia. Di sisi lain, orang-orang Kroasia yang mencakup sekitar 15% dari populasi Bosnia dan Herzegovina melakukan langkah yang sama dengan memproklamasikan Komunitas Kroasia Herceg-Bosnia. Dengan demfikian, kaum muslim yang miskin persenjataan, yang mencakup lebih dari 40% populasi, memegang sisa wilayah republik itu, termasuk ibu kota. Dalam kampanye “pembersihan etnis” yang dilakukan terutama oleh orang-orang Serbia, ribuan warga muslim Bosnia tewas, dan banyak juga yang melarikan diri dari Bosnia atauditempatkan di kamp-kamp tahanan Serbia. Salah satu tragedi yang sulit dilupakan adalah Pembantaian Srebrenica (Genosida Srebrenica), ketika sekitar 8.000 lelaki dan remaja muslim Bosnia dibantai padaJuli 1995 di daerah Srebrenica, Bosnia, oleh pasukan Serbia pimpinan Jenderal Ratko Mladic.`


Jenderal Ratko Mladic komandan pasukan serbiaPada Mei 1992, PBB memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Serbia dan Montenegro serta menyerukan gencatan senjata segera di Bosnia danHerzegovina. Makedonia diakui secara luas di tahun berikutnya. Meskipun Serbia dan Montenegro menyatakan pendirian Federasi Yugoslavia Baru, Komunitas Eropa menegaskan bahwa federasi tersebut tidak mencakup negara-negara yang baru saja diakuinya. Pendapat ini ditegaskan oleh PBB pada September 1992. PBB juga memberlakukan blokade laut di Yugoslavia dan sanksi-sanksi lainnya. Hal itu mengakibatkan Yugoslavia menderita kesulitan ekonomi yang parah, termasuk hiperinflasi untuk sementara waktu. Setelah Serbia mengurangi dukungannya bagi orang-orang Serbia di Bosnia, PBB meringankan sanksi terhadap Yugoslavia. Pada akhir 1995, Yugoslavia berpartisipasi dalam pembicaraan di Dayton, Ohio (AS), yang menghasilkan perjanjian damai antara Bosnia, Kroasia, dan Serbia (Yugoslavia). Milosevic menjadi presiden Yugoslavia pada 1997 dengan wilayah hanya mencakup Serbia dan Montenegro.

Namun, Kosovo yang mayoritas beretnis Albania terus mengalami pergolakan sepanjang 1997 dan 1998. Serbia ingin memasukkan wilayah ini sebagai bagian dari Federasi Yugoslavia Baru. Namun, terlihat bahwa warga Kosovo menentang kekuasaan Serbia dan melancarkan pembangkangan sipil. Dalam perkembangannya, warga etnis Albania melancarkan perang gerilya terhadap Serbia. Hal ini meningkatkan represi dan pembantaian massal etnis ini oleh tentara Serbia.

Hal tersebut mendorong NATO melancarkan pengeboman besar-besaran terhadap sasaran-sasaran militer Serbia. Pada Juni 1999, Milosevic sepakat untuk mundur dari Kosovo, dan pasukan penjaga perdamaian NATO memasuki wilayah itu. Berbagai demonstrasi melawan Milosevic di paruh kedua tahun 1999 gagal memaksa Milosevic mengundurkan diri. Sementara itu, Montenegro mencari otonomi yang lebih besar dalam federasi dan mulai membuat langkah-langkah konkret menuju tujuannya. Pada Juli 2000, amandemen konstitusi nasional disahkan. Amandemen ini memungkinkan presiden memegang jabatan selama dua periode dan melembagakan pemilihan presiden langsung. Ada dua tujuan utama amandemen, pertama memungkinkan Milosevic berkuasa lebih dari satu masa jabatan, dan kedua mengurangi pengaruh Montenegro dalam pemerintahan federal. Namun, ketika pemilu dilaksanakan pada September, Milosevic dikalahkan oleh Vojislav Kostunica, yang didukung oleh koalisi 18 partai oposisi (Democratic Opposition Serbia/DOS). Awalnya, komisi pemilihan menolak mengesahkan Kostunica sebagai pemenang. Namun, Milosevic menyerah setelah masyarakat melakukan mogok massal dan mengambil alih gedung parlemen federal.

Sebuah koalisi yang terdiri dari DOS dan Sosialis Montenegro membentuk pemerintahan nasional. Dalam pemilihan awal Serbia pada Desember 2000, DOS memenangi kendali atas parlemen Serbia. Kostunica mengganti beberapa perwira tinggi militer, salah satunya untuk melindungi kepentingan Montenegro. Pada awalnya, ia menolak menyerahkan Milosevic ke pengadilan kejahatan perang internasional di Den Haag! Pada awal tahun 2001, Milosevic dan beberapa rekannya ditangkap dengan berbagai tuduhan. Mantan presiden ini diserahkan kepada pengadilan kejahatan perang oleh pemerintah Serbia pada Juni 2001. Hal ini mendorong Sosialis Montenegro mengundurkan diri dari koalisi federal. Hubunganantara Kostunica dan Perdana Menteri Serbia, Zoran Djindjic,
menjadi tegang. Ketegangan muncul ketika Kostunica lebih berfokus pada usaha menjaga federasi dengan Montenegro, sementara Zoran Djindjic berfokus untuk memenangkan bantuan Barat dalam mereformasi ekonomi

Serbia dan Montenegro (2003— 2006)
Pada 2002, dorongan Montenegro akan otonomi yang lebih besar berkembang menjadi dorongan untuk merdeka. Referendum pun direncanakan. Namun, pada Maret 2002, perwakilan Serbia dan Montenegro, di bawah tekanan dari Uni Eropa dan negaranegara lain yang menentang kemerdekaan, Montenegro segera menyetujui konsep negara serikat federal *yang direstrukturisasi pada Februari 2003. Meskipun demikian, tuntutan kemerdekaan Montenegro tak terbendung. Pada Mei 2006, para pemilih Montenegro menyetujui kemerdekaan dalam referendum Montenegro mendeklarasikan kemerdekaan pada3Juni 2006. Dengan demikian,pemerintahSerbia dan Montenegro dinyatakan bubar dengan sendirinya. Pada 5 Juni 2006, Serbia menyatakan diri sebagai negara yang berdaulat. Proklamasi Serbia tersebut sekaligus menandai bubarnya Yugoslavia.

sumber: buku sejarah peminatan Sma kelas XII, Ratna Hapsari, M Adil, Erlangga

No comments for "Materi Perpecahan Yugoslavia | Sejarah Peminatan Kelas XII"