Awal Peradaban Dunia | Sejarah Peminatan kd 3.11

Awal Peradaban Dunia | Sejarah Peminatan kd 3.11

Halo salam Jasmerah...jumpah lagi di postingan duniasejarah25 kali ini saya akan menyajikan Awal Peradaban Dunia | Sejarah Peminatan kd 3.11 langsung saja silakan dicermati materi yang di sajikan dibawah ini kalau ada yang kurang silahkan coment dibawah...😃😃😀

 Peradaban Mesopotamia
A.    Kehidupan sosial dan Struktur masyarakat Mesopotamia
a.    Imam raja dan bawahannya serta para bangsawan.
Merupakan golongan paling atas dalam lapisan masyarakat Mesopotamia. Imam-raja sebagai penguasa sekuler dan religious, bangsawan, dan imam bertanggung jawab terhadap pembangunan, organisasi pemerintahan, dan pemeliharaan sistem irigasi. Imam-raja dipandang sebagai wakil dari dewa pelindung kota. Ia tinggal di kuil, yang juga berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus pusat kekuasaan politik
b.    Pedagang dan pengrajin
Pedagang dan pengrajin (tukang), yaitu kelas menengah, merupakan
kelompok yang kuat dan relative mandiri dalam kegiatan perdagangan.
c.    Petani, peternak, nelayan dan pemburu
Golongan pertama di atas, mereka tinggal di pinggiran-pinggiran kota, dan diangggap kelas bawah dalam golongan masyarakat Mesopotamia.
d.    Budak
Kelas paling dasar dalam hirarki masyarakat adalah pada budak, yang merupakan bekas tawanan perang.

B.    Peranan para imam dalam sistem kepercayaan Mesopotamia
Sejak awal hingga runtuhnya kerajaan-kerajaan yang membentuk peradaban Mesopotamia, agama memainkan peranaan yang sangat penting. Agama di Mesopotamia sebagaimana juga termasuk agama-agama kuno lainnya dicirikan sebagai berikut:
•    Totemisme : hewan dan tumbuhan memiliki kekuatan magis
•    Antropomorfisme : menghubungkan karakteristik-karakteristik khas manusia ke makhluk-makhluk non manusia.
•    Politheisme : menyembah banyak dewa
•    Adanya Negara agama
•    Adanya reinkarnasi
•    Penyembahan terhadap pemimpin Negara atau imam-imam karena dianggap perwujudan dewa.

C.    Hasil budaya dan peradaban Mesopotamia
a.    Tulisan kuneiform
Kuneiform adalah sistem penulisan diatas lempengan tanah liat. Yang isinya tentang madah atau himne, doa, mantra magis, surat-surat dan transaksi bisnis pribadi, hokum, teks-teks ilmiah seperti matematika, astronomi, astrologi dan obat-obatan, serta sastra dan puisi seperti epos Gilgamesh.
b.    Seni dan arsitektur
Agama mempengaruhi seni dan arsitektur di Mesopotamia. Terlihat dari seni sumeria yang bermotif  keagamaan seperti lukisan dewa dewi dan makhluk mitologis. Pada masa nebukadnezar Mesopotamia kaya akan bangunan-bangunan megah, tiga bangunan yang terkenal adalah ziggurat etemenanki, gerbang Ishtar, dan taman gantung babilonia.
c.    Ilmu pengetahuan dan teknologi
Selain terkenal sebagai pusat peradaban Mesopotamia juga terkenal akan pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang matematika orang Mesopotamia menggunakan sitem bilangan seksagesimal basis (60)  dan keempat operasi matematika (tambah, kurang, kali, bagi). penggunaan kalender oleh orang babilonia dikenal dengan kamariah. Sudah adanya ilmu pengetahuantentangt obat-obatan yang ditulis di dalam undang-undang Hammurabi. Penemuan roda yang pertama kali oleh bangsa sumeria dan khaldea pada tahun 3500 SM.
d.    Hukum
Bangsa Mesopotamia menciptakan landasan hukum yang disebut dengan codex Hammurabi diberi nama sesuai dengan penciptanya yaitu Hammurabi, memuat 282 aturan hukum yang dipahat pada sebuah lempengan.

Peradaban Mesir Kuno ( 3100 – 27 SM)

1. Kondisi Geografis dan Lingkungan Alam
Mesir Kuno adalah suatu peradaban yang berkembang dibagian timur laut Afrika. Peradaban ini terpusat sepanjang hilir sungai Nil yang panjangnya 6.400 KM. Peradabaan ini dimulai dengan penyatuaan Mesir hilir dan hulu sekitar 3150 SM, dan selanjutnya berkembang selama kurang lebih tiga abad. Menurut legenda Mesir kuno air sungai Nil tersebut merupakan air mata Dewa Isis yang selalu menangis menyusuri sungai mencari  jenasah putranya yang gugur dalam pertempuran. Namun, secara ilmiah air tersebut berasal dari gletser yang mencair dari Pegunungan Kalimanjaro di Afrika Timur dan bermuara di Laut Tengah.
Peradaban Mesir Kuno didasari atas pengendalian keseimbangan yang baik antara sumber daya alam dan manusia, ditandai terutama oleh:
1.    irigasi teratur terhadap Lembah Nil;
2.    pendayagunaan mineral dari lembah dan wilayah gurun di sekitarnya;
3.    perkembangan sistem tulisan dan sastra;
4.    perdagangan dengan wilayah Afrika Timur dan Tengah serta Mediterania Timur; serta
5.    kegiatan militer yang menunjukkan kekuasaan terhadap kebudayaan negara/suku bangsa tetangga pada beberapa periode berbeda. Pengelolaan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh penguasa sosial, politik, dan ekonomi, yang berada di bawah pengawasan sosok Firaun.

2. Kondisi Sosial – Politik
Pada akhir masa Paleolitik, iklim Afrika Utara menjadi semakin panas dan kering. Akibatnya, penduduk di wilayah tersebut terpaksa berpusat di sepanjang sungai Nil. Sejarah politik Mesir berawal dari terbentuknya komunitas desa – desa sebagai kerajaan – kerajaan kecil dengan pemerintahan desa yang disebut dengan Nomen, desa – desa tersebut berkembang menjadi kota dan akhirnya berkembang menjadi dua kerajaan besar yakni mesir hulu dan Mesir Hilir sekitar tahun 4000 SM. Pemegang kekuasaan diberi gelar Firaun.
Firaun adalah raja yang berkuasa penuh atas negara—setidaknya dalam teori—dan memegang kendali atas semua tanah dan sumber dayanya. Firaun juga merupakan komandan militer tertinggi dan kepala pemerintahan, yang bergantung pada birokrasi pejabat untuk mengurusi masalah-masalahnya.
Di level regional, kerajaan dibagi menjadi 42 wilayah administratif yang disebut nome, yang masing-masing dipimpin oleh seorang nomark, yang bertanggung jawab kepada wazir. Kuil menjadi tulang punggung utama perekonomian yang berperan tidak hanya sebagai pusat pemujaan, namun juga berperan mengumpulkan dan menyimpan kekayaan negara dalam sebuah sistem lumbung dan perbendaharaan dengan meredistribusi biji-bijian dan barang-barang lainnya.

a.    Periode Pradinasti
Pada masa pra dan awal dinasti, iklim Mesir lebih subur daripada saat ini. Sebagian wilayah Mesir ditutupi oleh sabana berhutan dan dilalui oleh ungulata yang merumput. Flora dan fauna lebih produktif dan sungai Nil menopang kehidupan unggas-unggas air. Perburuan merupakan salah satu mata pencaharian utama orang Mesir. Selain itu, pada periode ini, banyak hewan yang didomestikasi.

b.    Periode Dinasti Awal

Pendeta Mesir pada abad ke-3 SM, Manetho mengelompokan garis keturunan firaun yang panjang dari Menes ke masanya menjadi 30 dinasti. Sistem ini masih digunakan hingga hari ini. Ia memilih untuk memulai sejarah resminya melalui raja yang bernama "Meni" (atau Menes dalam bahasa Yunani), yang dipercaya telah menyatukan kerajaan Mesir Hulu dan Hilir (sekitar 3200 SM). Transisi menuju negara kesatuan sejatinya berlangsung lebih bertahap, berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulis-penulis Mesir Kuno, dan tidak ada catatan kontemporer mengenai Menes. Beberapa ahli kini meyakini bahwa figur "Menes" mungkin merupakan Narmer, yang digambarkan mengenakan tanda kebesaran kerajaan pada pelat Narmer yang merupakan simbol unifikasi.
Pada Periode Dinasti Awal, sekitar 3150 SM, firaun pertama memperkuat kekuasaan mereka terhadap Mesir hilir dengan mendirikan ibukota di Memphis. Dengan ini, firaun dapat mengawasi pekerja, pertanian, dan jalur perdagangan ke Levant yang penting dan menguntungkan.. Peningkatan kekuasaan dan kekayaan firaun pada periode dinasti awal dilambangkan melalui mastaba (makam) yang rumit dan struktur-struktur kultus kamar mayat di Abydos, yang digunakan untuk merayakan didewakannya firaun setelah kematiannya. Institusi kerajaan yang kuat dikembangkan oleh firaun untuk mengesahkan kekuasaan negara atas tanah, pekerja, dan sumber daya alam, yang penting bagi pertumbuhan peradaban Mesir kuno.

c.     Kerajaan Lama

Kemajuan dalam bidang arsitektur, seni, dan teknologi dibuat pada masa Kerajaan Lama. Kemajuan ini didorong oleh meningkatnya produktivitas pertanian, yang dimungkinkan karena pemerintahan pusat dibina dengan baik. Di bawah pengarahan wazir, pejabat-pejabat negara mengumpulkan pajak, mengatur proyek irigasi untuk meningkatkan hasil panen, mengumpulkan petani untuk bekerja di proyek-proyek pembangunan, dan menetapkan sistem keadilan untuk menjaga keamanan. Dengan sumber daya surplus yang ada karena ekonomi yang produktif dan stabil, negara mampu membiayai pembangunan proyek-proyek kolosal dan menugaskan pembuatan karya-karya seni istimewa. Piramida yang dibangun oleh Djoser, Khufu, dan keturunan mereka, merupakan simbol peradaban Mesir Kuno yang paling diingat.
Seiring dengan meningkatnya kepentingan pemerintah pusat, muncul golongan juru tulis (sesh) dan pejabat berpendidikan, yang diberikan tanah oleh firaun sebagai bayaran atas jasa mereka. Firaun juga memberikan tanah kepada struktur-struktur kultus kamar mayat dan kuil-kuil lokal untuk memastikan bahwa institusi-institusi tersebut memiliki sumber daya yang cukup untuk memuja firaun setelah kematiannya. Pada akhir periode Kerajaan Lama, lima abad berlangsungnya praktik-praktik feudal pelan-pelan mengikis kekuatan ekonomi firaun. Firaun tak lagi mampu membiayai pemerintahan terpusat yang besar. Dengan berkurangnya kekuatan firaun, gubernur regional yang disebut nomark mulai menantang kekuatan firaun. Hal ini diperburuk dengan terjadinya kekeringan besar antara tahun 2200 hingga 2150 SM, sehingga Mesir Kuno memasuki periode kelaparan dan perselisihan selama 140 tahun yang dikenal sebagai Periode Menengah Pertama Mesir.


d.    Periode Menengah Pertama Mesir
Setelah pemerintahan pusat Mesir runtuh pada akhir periode Kerajaan Lama, pemerintah tidak lagi mampu mendukung atau menstabilkan ekonomi negara. Gubernur-gubernur regional tidak dapat menggantungkan diri kepada firaun pada masa krisis. Kekurangan pangan dan sengketa politik meningkat menjadi kelaparan dan perang saudara berskala kecil. Meskipun berada pada masa yang sulit, pemimpin-pemimpin lokal, yang tidak berhutang upeti kepada firaun, menggunakan kebebasan baru mereka untuk mengembangkan budaya di provinsi-provinsi. Setelah menguasai sumber daya mereka sendiri, provinsi-provinsi menjadi lebih kaya. Fakta ini dibuktikan dengan adanya pemakaman yang lebih besar dan baik di antara kelas-kelas sosial lainnya. Dengan meningkatnya kreativitas, pengrajin-pengrajin provinsial menerapkan dan mengadaptasi motif-motif budaya yang sebelumnya dibatasi oleh Kerajaan Lama. Juru-juru tulis mengembangkan gaya yang melambangkan optimisme dan keaslian periode.
Bebas dari kesetiaan kepada firaun, pemimpin-pemimpin lokal mulai berebut kekuasaan. Pada 2160 SM, penguasa-penguasa di Herakleopolis menguasai Mesir Hilir, sementara keluarga Intef di Thebes mengambil alih Mesir Hulu. Dengan berkembangnya kekuatan Intef, serta perluasan kekuasaan mereka ke utara, maka pertempuran antara kedua dinasti sudah tak terhindarkan lagi. Sekitar tahun 2055 SM, tentara Thebes di bawah pimpinan Nebhepetre Mentuhotep II berhasil mengalahkan penguasa Herakleopolis, menyatukan kembali kedua negeri, dan memulai periode renaisans budaya dan ekonomi yang dikenal sebagai Kerajaan Pertengahan.

e.    Kerajaan Pertengahan

Amenemhat III, penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan.
Firaun Kerajaan Pertengahan berhasil mengembalikan kesejahteraan dan kestabilan negara, sehingga mendorong kebangkitan seni, sastra, dan proyek pembangunan monumen.[33] Mentuhotep II dan sebelas dinasti penerusnya berkuasa dari Thebes, tetapi wazir Amenemhat I, sebelum memperoleh kekuasaan pada awal dinasti ke-12 (sekitar tahun 1985 SM), memindahkan ibukota ke Itjtawy di Oasis Faiyum. Dari Itjtawy, firaun dinasti ke-12 melakukan reklamasi tanah dan irigasi untuk meningkatkan hasil panen. Selain itu, tentara kerajaan berhasil merebut kembali wilayah yang kaya akan emas di Nubia, sementara pekerja-pekerja membangun struktur pertahanan di Delta Timur, yang disebut "tembok-tembok penguasa", sebagai perlindungan dari serangan asing.
Maka populasi, seni, dan agama negara mengalami perkembangan. Berbeda dengan pandangan elitis Kerajaan Lama terhadap dewa-dewa, Kerajaan Pertengahan mengalami peningkatan ungkapan kesalehan pribadi. Selain itu, muncul sesuatu yang dapat dikatakan sebagai demokratisasi setelah akhirat; setiap orang memiliki arwah dan dapat diterima oleh dewa-dewa di akhirat. Sastra Kerajaan Pertengahan menampilkan tema dan karakter yang canggih, yang ditulis menggunakan gaya percaya diri dan elok, sementara relief dan pahatan potret pada periode ini menampilkan ciri-ciri kepribadian yang lembut, yang mencapai tingkat baru dalam kesempurnaan teknis.
Penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan, Amenemhat III, memperbolehkan pendatang dari Asia tinggal di wilayah delta untuk memenuhi kebutuhan pekerja, terutama untuk penambangan dan pembangunan. Penambangan dan pembangunan yang ambisius, ditambah dengan meluapnya sungai Nil, membebani ekonomi dan mempercepat kemunduran selama masa dinasti ke-13 dan ke-14. Semasa kemunduran, pendatang dari Asia mulai menguasai wilayah delta, yang selanjutnya mulai berkuasa di Mesir sebagai Hyksos. 

f.    Periode Menengah Kedua dan Hyksos
Sekitar tahun 1650 SM, seiring dengan melemahnya kekuatan firaun Kerajaan Pertengahan, imigran Asia yang tinggal di kota Avaris mengambil alih kekuasaan dan memaksa pemerintah pusat mundur ke Thebes. Di sana firaun diperlakukan sebagai vasal dan diminta untuk membayar upeti. Hyksos ("penguasa asing") meniru gaya pemerintahan Mesir dan menggambarkan diri mereka sebagai firaun. Maka elemen Mesir menyatu dengan budaya Zaman Perunggu Pertengahan mereka.
Setelah mundur, raja Thebes melihat situasinya yang terperangkap antara Hyksos di utara dan sekutu Nubia Hyksos, Kerajaan Kush, di selatan. Setelah hampir 100 tahun mengalami masa stagnansi, pada tahun 1555 SM, Thebes telah mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk melawan Hyksos dalam konflik selama 30 tahun. Firaun Seqenenre Tao II dan Kamose berhasil mengalahkan orang-orang Nubia. Pengganti Kamose, Ahmose I, berhasil mengusir Hyksos dari Mesir. Selanjutnya, pada periode Kerajaan Baru, kekuatan militer menjadi prioritas utama firaun agar dapat memperluas perbatasan Mesir dan menancapkan kekuasaan atas wilayah Timur Dekat.

g.    Kerajaan Baru
Firaun-firaun Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan yang tak tertandingi sebelumnya. Perbatasan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I dan cucunya Tuthmosis III memperluas pengaruh firaun ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Firaun-firaun Kerajaan juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak. Para firaun juga membangun monumen untuk memuliakan pencapaian mereka sendiri, baik nyata maupun imajiner. Firaun perempuan Hatshepsut menggunakan propaganda semacam itu untuk mengesahkan kekuasaannya. Masa kekuasaannya yang berhasil dibuktikan oleh ekspedisi perdagangan ke Punt, kuil kamar mayat yang elegan, pasangan obelisk kolosal, dan kapel di Karnak.

Sekitar tahun 1350 SM, stabilitas Kerajaan Baru terancam ketika Amenhotep IV naik tahta dan melakukan reformasi yang radikal dan kacau. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten. Akhenaten memuja dewa matahari Aten sebagai dewa tertinggi. Ia lalu menekan pemujaan dewa-dewa lain. Akhenaten juga memindahkan ibukota ke kota baru yang bernama Akhetaten (kini Amarna). Ia tidak memperdulikan masalah luar negeri dan terlalu asyik dengan gaya religius dan artistiknya yang baru. Setelah kematiannya, kultus Aten segera ditinggalkan, dan firaun-firaun selanjutnya, yaitu Tutankhamun, Ay, dan Horemheb, menghapus semua penyebutan mengenai bidaah Akhenaten.
Ramses II naik tahta pada tahun 1279 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada firaun-firaun lain dalam sejarah. Sebagai seorang pemimpin militer yang berani, Ramses II memimpin tentaranya melawan bangsa Het dalam pertempuran Kadesh. Setelah bertempur hingga mencapai kebuntuan (stalemate), ia menyetujui traktat perdamaian pertama yang tercatat sekitar 1258 SM.
Kekayaan menjadikan Mesir sebagai target serangan, terutama oleh orang-orang Laut dan Libya. Tentara Mesir mampu mengusir serangan-serangan itu, namun Mesir akan kehilangan kekuasaan atas Suriah dan Palestina. Pengaruh dari ancaman luar diperburuk dengan masalah internal seperti korupsi, penjarahan makam, dan kerusuhan. Pendeta-pendeta agung di kuil Amun, Thebes, mengumpulkan tanah dan kekayaan yang besar, dan kekuatan mereka memecahkan negara pada masa Periode Menengah Ketiga.

h.    Periode Menengah Ketiga
Setelah kematian firaun Ramses XI tahun 1078 SM, Smendes mengambil alih kekuasaan Mesir utara. Ia berkuasa dari kota Tanis. Sementara itu, wilayah selatan dikuasai oleh pendeta-pendeta agung Amun di Thebes, yang hanya mengakui nama Smendes saja. Pada masa ini, orang-orang Libya telah menetap di delta barat, dan kepala-kepala suku penetap tersebut mulai meningkatkan otonomi mereka. Pangeran-pangeran Libya mengambil alih delta di bawah pimpinan Shoshenq I pada tahun 945 SM. Mereka lalu mendirikan dinasti Bubastite yang akan berkuasa selama 200 tahun. Shoshenq juga mengambil alih Mesir selatan dengan menempatkan keluarganya dalam posisi kependetaan yang penting. Kekuasaan Libya mulai mengikis akibat munculnya dinasti saingan di Leontopolis, dan ancaman Kush di selatan. Sekitar tahun 727 SM, raja Kush, Piye, menyerbu ke arah utara. Ia berhasil menguasai Thebes dan delta.
Martabat Mesir terus menurun pada Periode Menengah Ketiga. Sekutu asingnya telah jatuh kedalam pengaruh Asiria, dan pada 700 SM, perang antara kedua negara sudah tak terhindarkan lagi. Antara tahun 671 hingga 667 SM, bangsa Asiria mulai menyerang Mesir. Masa kekuasaan raja Kush, Taharqa, dan penerusnya, Tanutamun, dipenuhi dengan konflik melawan Asiria. Akhirnya, bangsa Asiria berhasil memukul mundur Kush kembali ke Nubia. Mereka juga menduduki Memphis dan menjarah kuil-kuil di Thebes.
i.    Periode Akhir
Dengan tiadanya rencana pendudukan permanen, bangsa Asiria menyerahkan kekuasaan Mesir kepada vassal-vassal yang dikenal sebagai raja-raja Sais dari dinasti ke-26. Pada tahun 653 SM, raja Sais Psamtik I berhasil mengusir bangsa Asiria dengan bantuan tentara bayaran Yunani yang direkrut untuk membentuk angkatan laut pertama Mesir. Selanjutnya, pengaruh Yunani meluas dengan cepat. Kota Naukratis menjadi tempat tinggal orang-orang Yunani di delta.
Di bawah raja-raja Sais, Mesir mengalami kebangkitan singkat ekonomi dan budaya. Sayangnya, pada tahun 525 SM, bangsa Persia yang dipimpin oleh Cambyses II memulai penaklukan terhadap Mesir. Mereka berhasil menangkap firaun Psamtik III dalam pertempuran di Pelusium. Cambyses II lalu mengambil alih gelar firaun. Ia berkuasa dari kota Susa, dan menyerahkan Mesir kepada seorang satrapi. Pemberontakan-pemberontakan meletus pada abad ke-5 SM, tetapi tidak ada satupun yang berhasil mengusir bangsa Persia secara permanen.
Setelah dikuasai Persia, Mesir digabungkan dengan Siprus dan Fenisia dalam satrapi ke-6 Kekaisaran Persia Akhemeniyah. Periode pertama kekuasaan Persia atas Mesir, yang juga dikenal sebagai dinasti ke-27, berakhir pada tahun 402 SM. Dari 380–343 SM, dinasti ke-30 berkuasa sebagai dinasti asli terakhir Mesir. Restorasi singkat kekuasaan Persia, kadang-kadang dikenal sebagai dinasti ke-31, dimulai dari tahun 343 SM. Akan tetapi, pada 332 SM, penguasa Persia, Mazaces, menyerahkan Mesir kepada Alexander yang Agung tanpa perlawanan.
j.    Dinasti Ptolemeus
Pada tahun 332 SM, Alexander yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibukota di Iskandariyah. Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah.Mercusuar Iskandariyah membantu navigasi kapal-kapal yang berdagang di kota tersebut, terutama setelah penguasa dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan usaha-usaha, seperti produksi papirus.
Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir. Penguasa dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai firaun. Beberapa tradisi akhirnya bergabung. Dewa-dewa Yunani dan Mesir disinkretkan sebagai dewa gabungan (contoh: Serapis). Bentuk skulptur Yunani Kuno juga memengaruhi motif-motif tradisional Mesir. Meskipun telah terus berusaha memenuhi tuntutan warga, dinasti Ptolemeus tetap menghadapi berbagai tantangan, seperti pemberontakan, persaingan antar keluarga, dan massa di Iskandariyah yang terbentuk setelah kematian Ptolemeus IV. Lebih lagi, bangsa Romawi memerlukan gandum dari Mesir, dan mereka tertarik akan situasi politik di negeri Mesir. Pemberontakan yang terus berlanjut, politikus yang ambisius, serta musuh yang kuat di Suriah membuat kondisi menjadi tidak stabil, sehingga bangsa Romawi mengirim tentaranya untuk mengamankan Mesir sebagai bagian dari kekaisarannya.
k.    Dominasi Romawi
Mesir menjadi provinsi Kekaisaran Romawi pada tahun 30 SM setelah Augustus berhasil mengalahkan Mark Antony dan Ratu Cleopatra VII dalam Pertempuran Actium. Romawi sangat memerlukan gandum dari Mesir, dan legiun Romawi, di bawah kekuasaan praefectus yang ditunjuk oleh kaisar, memadamkan pemberontakan, memungut pajak yang besar, serta mencegah serangan bandit.
Meskipun Romawi berlaku lebih kasar daripada Yunani, beberapa tradisi, seperti mumifikasi dan pemujaan dewa-dewa, tetap berlanjut. Seni potret mumi berkembang, dan beberapa kaisar Romawi menggambarkan diri mereka sebagai firaun (meskipun tidak sejauh penguasa-penguasa dinasti Ptolemeus). Pemerintahan lokal diurus dengan gaya Romawi dan tertutup dari gaya Mesir asli.
Pada pertengahan abad pertama, Kekristenan mulai mengakar di Iskandariyah. Agama tersebut dipandang sebagai kultus lain yang akan diterima. Akan tetapi, Kekristenan pada akhirnya dianggap sebagai agama yang ingin menggantikan paganisme dan mengancam tradisi agama lokal, sehingga muncul penyerangan terhadap orang-orang Kristen. Penyerangan terhadap orang Kristen memuncak pada masa pembersihan Diokletianus yang dimulai tahun 303. Akan tetapi, Kristen berhasil menang. Pada tahun 391, kaisar Kristen Theodosius memperkenalkan undang-undang yang melarang ritus-ritus pagan dan menutup kuil-kuil. Iskandariyah menjadi latar kerusuhan anti-pagan yang besar. Akibatnya, budaya pagan Mesir terus mengalami kejatuhan. Meskipun penduduk asli masih mampu menuturkan bahasa mereka, kemampuan untuk membaca hieroglif terus berkurang karena melemahnya peran pendeta kuil Mesir. Sementara itu, kuil-kuil dialihfungsikan menjadi gereja, atau ditinggalkan begitu saja.

Peradaban Romawi (800-an SM-1453 M)
  
1.    Kondisi geografis dan lingkungan alam
Romawi kuno adalah peradaban yang tumbuh dari komunitas pertanian kecil yang terbentuk di Semenanjung Italia pada abad ke 9 SM. Peradaban ini dikembangkan oleh suku Latia yang menetap di sisi kiri lembah Sungai Tiber, Italia Tengah, dikelilingi banyak bukit seperti Palatine, Capitoline, dan Avantine dengan lembah atau dataran rendah yang luas dan subur terentang sampai tepi pantai Laut Tirenia. Selain karena dikelilingi bukit-bukit, tanahnya yang subur tidak terlepas dari unsur-unsur hara hasil luapan Sungai Tiber.
Wilayahnya yang subur, membuat sejak awal orang-orang latin ini menjadi petani dan pedagang yang sukses. Oleh karena itu, di masa-masa awal terbentuknya peradaban ini, kehidupan para penduduknya sudah dikenal makmur.
Daerah yang subur dan penduduknya makmur ini kelak memicu kecemburuan dari bangsa-bangsa latin disekitarnya. Seperti bangsa Etruska yang terletak di Utara Latium dan bangsa Samnium di Selatan-Tengah, yang kemudian berbuntut perang. Perang Romawi-Etruska terjadi sejak abad ke-8 dan perang Romawi-Samnium terjadi pada abad ke-4 (343-341 SM)
Sejak awal bangsa Romawi memusatkan perhatian pada penguatan angkatan perang. Angkatan perang yang dilatih dengan baik ini selama berabad-abad mampu melindungi kota Roma dari serangan musuh-musuhnya bahkan melakukan ekspansi wilayah yang sangat luas. Samnium ditakhlukkan romawi pada tahun 290 SM, dan sejak sekitar tahun 290 SM, bangsa Romawi menguasai sepenuhnya semenanjung Italia.

2.    Kondisi Sosial Politik
Roma pada awalnya merupakan negara kota (polis) yang kecil. Kota Roma diapit oleh tujuh bukit, yaitu Platine (tempat dibangunnya bangunan-bangunan megah), Capitalone (pusat keramaian), Quirinalle, Aventine, Vinninal, Esqualine, dan Caeline. Kota Roma dibelah oleh Sungai Tiber.


Periodisasi sejarah Roma dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Periode kerajaan (756-510 SM)
Polis Roma menurut legenda didirikan oleh Romus dan Romulus yang berasal dari ibu Raisilpa. Namun, diperkirakan polis Roma dibangun oleh orang-orang Yunani. Pada masa kerajaan, Roma dipimpin seorang raja yang didampingi oleh senante (wakil-wakil dari para suku di sekitar Roma). Pada masa itu struktur masyarakat Roma terdiri dari dua, yaitu Patricia (warga Roma asli) dan Plebeyer (para pendatang yang kebanyakan hidup miskin). Raja Roma haruslah berasal dari warga Roma asli. Seorang raja Roma bernama Tarvininus diturunkan oleh senat karena merupakan orang Etruskia.
2. Periode republik (519-31 SM)  
Pada masa republik, Roma dipegang oleh 2 orang konsul, yang dipilih oleh senat, tiap konsul itu memiliki tugas masing-masing. Konsul pertama bertugas dalam masalah hukum dan ekonomi, sedangkan konsul yang kedua memegang urusan pertahanan. Pada masa darurat, jumlah konsul hanya satu orang yaitu seorang diktaktum.
Pada masa republik inilah Roma mulai melakukan ekspansi ke Ephirus dan Etruskia. Peperangan yang paling dahsyat ialah perang antara Roma dengan Khartago (Tunisia sekarang). Khartago adalah polis yang dimiliki oleh orang Funisia. Roma dan Khartago berperang untuk memperebutkan hegemoni di Laut Tengah. Perang itu dimulai ketika Pulau Sisilia yang merupakan pulau yang menjadi sumber bahan makanan orang Roma dikuasai oleh Funisia. Perang Funisia terjadi sebanyak 3 kali, yaitu:
a. Perang Funisia I (246 SM-241 SM);
b. Perang Funisia II (218 SM-201 SM);
c. Perang Funisia III (149-146 SM).
Perang ini berakhir dengan dikuasainya pulau Sisilia, Pulau Sardinia, dan Corsica oleh orang Roma. Namun Semenajung Iberia berhasil dikuasai oleh orang Chartago, dan di sana mereka membangun kota Cartagena. Pada Perang Funisia II, Panglima Khartago, atau dikenal sebagai Hanibal hendak menyerang Roma lewat utara dan berhasil menguasai Saguntum yang merupakan pusat pertahanan Roma di utara. Dikuasainya Saguntum itu bersamaan dengan masih terjadinya perdebatan di kalangan Senat dalam menyikapi bagaimana cara menghadapi Hanibal. Pada waktu itu muncul istilah delibrate senate perit saguntum (senat terus berdebat sementara Saguntum berhasil dikuasai).
Masyarakat Roma pada masa republik terdiri atas beberapa kelas Pertama, kaum optimar (kaum yang sangat kaya karena mempunyai wewenang untuk menarik pajak dengan batas yang mereka tentukan). Kaum yangkedua adalah kaum proletar yang merupakan kaum miskin. Meskipun demikian, dua golongan itu memiliki wakil di senat yaitu Sula (Optimar) dan Marius (Proletar).
Kekacauan pertama terjadi di Roma ketika Marius dibunuh oleh Sula. Kekacauan itu berhasil diatasi dengan munculnya triumvirat yang pertamayaitu Crassus (menguasai Eropa Timur), Pompeyus (Roma dan Yunani),dan Julius Caesar (Eropa Barat). Crassus terbunuh pada waktu perangdengan Persia. Di Roma timbul persaingan antara Pompeyus dengan JuliusCaesar, yang pada akhirnya Caesar tampil sebagai penguasa tunggal.Kekacauan kedua timbul ketika Caesar dibunuh oleh anak angkatnyasendiri, yaitu Brutus dan Lavius. Kekacauan itu dapat diatasi denganmunculnya triumvirat yang kedua yaitu Crassus (Eropa Timur), Antonius (timur tengah dan Mesir), dan Octavianus (Italia). Crassus terbunuh, dan
wilayahnya menjadi milik Octavianus. Terjadi peperangan antara Octavianus melawan Antonius dikarenakan Antonius membela Mesir untuk memerdekakan diri dari Romawi. Dalam pertempuran yang tidak seimbang, yang terjadi di Actium tahun 31 SM, Antonius gugur. Dengan demikian, seluruh wilayah Mesir dan Timur Tengah menjadi milik Octavianus, sehingga Roma berubah menjadi sistem kekaisaran (31 SM sampai 395 M).

PERADABAN YUNANI KUNO (800-146 SM)

1.    Kondisi Geografis dan Lingkungan Alam
Peradaban Yunani berkembang dari peradaban Kreta (Minoa) dan peradaban Mikenai. Peradaban Kreta atau Minoa berkembang di Pulau Kreta antara tahun 3000-1450 SM seiring dengan perkembangan di  wilayah Mediterania Timur. Kata “minoa” sendiri berasal dari nama raja Kreta, yaitu Minos. Di pulau terbesar di wilayah Yunani bagian selatan ini berkembang banyak kota dan pelabuhan dagang karena kemajuan aktivitas perdagangan, yang berimbas pada dibangunnya istana-istana megah dan indah seperti di Knossos, Mallia, Phaistos, dan Zakro. Sedangkan kota-kota penting lainnya adalah Tyllisos dan Hanos. Posisinya yang strategis di perairan Laut Tengah memang memudahkan Kreta menjadi jembatan yang dapat menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa.
Sejarah Kreta pertama-tama diketahui dari epos Illiad dan Odisseia, yang erat hubungannya dengan kisah Perang Troya, karangan penyair besar Yunani, Homerus. Dalam epos terkenal itu, diceritakan tentang sebuah negara yang memiliki 90 kota yang indah, yang mengacu pada Kreta. Temuan arkeolog Inggris pada tahun 1878, Sir Arthur Evans, memperkuat keberadaan peradaban ini. Kerajaan Kreta runtuh pada tahun 1450 SM, diperkirakan akibat letusan dahsyat Gunung Thera.
Setelah Kreta, Peradaban Mikenai menjadi peradaban baru tidak saja menggantikan Kreta tetapi berkembang ke Yunani daratan dan sekitarnya. Peradaban yang berkembang sekitar tahun 1600 SM-1100 SM ini bermula dan berpusat di Peloponnesia, Yunani Selatan. Semula Peloponnesia merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Kreta. Sementara itu, peradaban Yunani (800-146 SM) meliputi seluruh wilayah Yunani sekarang, sebagian dari wilayah kepulauan di Laut Aegia dan Laut Ionia, serta sebagian Asia Kecil. Sebagian wilayah Yunani bergunung-gunung dengan kondisi tanah yang tidak subur. Kondisi ini menghambat hubungan antara satu kelompok masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya. Pemukiman-pemukiman yang terpisah-pisah ini lambat laun berkembang menjadi negara-kota yang merdeka dan berdiri sendiri, atau lebih populer disebut polis.
Meski periode panjang antara peradaban Mikenai dan peradaban Yunani tidak banyak dikenal, dan karena itu sering disebut Periode Kegelapan Yunani, sulit dipungkiri bahwa peradaban Yunani sendiri tidak terlepas dari pengaruh dua peradaban yang berkembang sebelumnya yakni Kreta dan Mikenai. Bangsa Yunani disebut dengan bangsa Hellas, yang merupakan campuran dari empat suku bangsa utama: Doria, Aeolia, Akaia, dan Ionia (penyebutan Yunani adalah dari nama salah satu suku bangsa ini: Ionia).

2.    Kondisi Sosial Politik
a.    Peradaban Kreta (3000-1450 SM)

Cikal bakal peradaban Yunani Kuno adalah peradaban Kreta atau Minoa yang berkembang antara 3000 dan 2700-1450 SM. Sebutan Minoa mengacu pada Raja Minos, yang dikaitkan dengan bangunan labirin atau rumah siput, yaitu sebuah sistem jalur yang rumit, berliku-liku, serta memiliki banyak jalan buntu. Bangunan seperti ini masih dapat dilihat di sebuah situs Minoa di Kota Knossos, dan lazim disebut Situs Knossos. Sebutan Kreta mengacu pada pulau dekat Yunani tempat ditemukannya peradaban ini, yaitu di Pulau Kreta.
Pulau Kreta sendiri telah dihununi manusia sejak 7000 SM, dimana penduduknya datang dari berbagai wilayah. Penduduknya sudah mengenal tulisan, yang disebut dengan tulisan Minos. Mereka menghuni desa-desa terbuka; kawasan pesisir pantai dihuni nelayan yang tinggal dalam gubuk-gubuk, sementara daratan Mesara yang subur dimanfaatkan untuk pertanian. Mereka mendirikan beberapa koloni di daratan utama Yunani dan Kepulauan Aegea lainnya, misalnya Akrotiri di Thera. Hasil pangan di Minoa sangat bervariasi, dimana beberapa bahan pangan didapat dari pertanian, contohnya: gandum, anggur, zaitun, dan ara. Mereka juga beternak domba, kambing, dan babi, serta menggunakan keledai dan lembu sebagai alat bajak. Lebah juga diternakkan sebagai penghasil madu.
Beberapa tempat di Kreta menunjukkan bahwa bangsa ini telah sangat maju, dimana banyak ditemukan sanggar kerajinan dan kawasan entrepot (gudang barang) untuk perdagangan impor dan ekspor. Komoditas utama mereka adalah timah dan tembaga, dan wilayah perdagangannya mencapai Mesopotamia dan Mesir. Pengaruh peradaban Minoa di luar Kreta juga tampak jelas dari berbagai temuan benda seni kerajinan di daratan Yunani yang saat itu dikuasai Mikenai, keramik Minoa di kota-kota Mesir Kuno, lukisan-lukisan di Mesir, artefak dan fresko bergaya Minoa di Kanaan. Minoa juga mencontoh gagasan arsitektur dan artistik kesenian Mesir Kuno. Aksara piktograf Minoa konon mengacu pada huruf hieroglif Mesir Kuno.
Mengenai kepercayaan, dari catatan yang ditulis bangsa Mikenai diyakini bahwa agama yang dianut Minoa sejak zaman Neolithikum yakni politeisme. Mereka memuja banyak dewa-dewi, dengan dewi utama Potnia. Banteng adalah binatang yang dianggap keramat bagi bangsa Minoa. Ada satu ritual yang unik, yaitu lompat banteng. Simbol-simbol keagamaan lainnya adalah ular, labris (kapak bermata dua), matahari, dan pohon. Bangsa Minoa juga terkenal atas kemampuan seni mereka, yang banyak terlihat dalam lukisan dinding, patung dan tembikar. Bangsa Minoa juga merupakan perintis awal dalam hal arsitektur. Kota-kota mereka dilengkapi dengan jalan-jalan yang telah diaspal, selokan, serta saluran air. Mereka juga sudah mampu membuat istana sebagai pusat pemerintahan.
Sekitar tahun 1450 SM, peradaban Minoa mengalami titik balik akibat bencana alam, kemungkinan besar letusan dahsyat Gunung Thera yang disertai gempa vulkanik. Dugaan lain mengatakan, hal tersebut disebabkan tsunami atau juga serangan dari Asia Kecil. Akibat bencana ini, beberapa istana penting di Mallia, Tylissos, Phaistos, Hagia Triaden serta pemukiman di Knossos musnah. Perlahan-lahan pengaruh bangsa ini melemah sampai akhirnya mudah dikuasai bangsa Mikenai pada sekitar abad ke-16 SM.
Peradaban Mikenai (±1600-1100 SM)
Peradaban Mikenai adalah peradaban yang bekembang di Peloponnesia, Yunani selatan pada ±1600 SM-1100 SM. Athena, Pylos, Thiva, dan Tiryns merupakan situs Mikenai yang penting. Orang-orang Mikenia disebut juga sebagai bangsa Akia (Historia). Tidak seperti bangsa Minoa yang berkembang dari perdagangan, bangsa Mikenai berkembang melalui penaklukan. Penaklukan atas kota Troya di Asia Kecil dianggap sebagai penaklukan yang sangat legendaris. Belajar dari pengalamannya melakukan penaklukan terhadap bangsa-bangsa lainnya, orang-orang Mikenai menekankan pentingnya membangun benteng pertahanan yang kuat. Dinding benteng mereka biasanya setinggi 12 sampai 15 meter, dan disusun dari batu-batu besar dengan berat berton-ton, yang disatukan tanpa perekat. Benteng di Tirins dan Mikenai merupakan contoh benteng terbaik. Perang Troya yang legendaris tersebut sering dianggap tidak pernah benar-benar terjadi, namun berbagai studi dan penelitian membuktikan bahwa kota tersebut benar-benar ada. Tujuan perang yang sebenarnya adalah perebutan rute dagang di Laut Hitam yang dikuasi orang Troya.
Seni Mikenai, seperti juga berbagai aspek peradaban mereka, dipengaruhi oleh seni bangsa Minoa. Seni Mikenai umumnya berupa tembikar, patung, dan lukisan. Bangsa Mikenai juga memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal membuat barang-barang dari perunggu, misalnya pedang, perisai, dan baju pelindung. Peradaban Peloponessia ini runtuh sekitar tahun 1100 SM akibat invasi bangsa Doria, salah satu suku bangsa besar yang membentuk peradaban Yunani Kuno selain Aeolia, Akaia, dan Ionia. Sumber lain mengatakan, kehancuran itu disebabkan salah satu dari ketiga hal berikut: (i) bencana alam dalam bentuk dahsyat gunung berapi, (ii) bencana kekeringan, atau (iii) serbuan Orang Laut yang bermukim dan menguasai Laut Aegea. Namun bukti-bukti arkeologis memperkuat teori invasi Doria.
Tampaknya invasi ini tidak saja menghancurkan peradaban Mikenai, tetapi juga memaksa sejumlah besar penduduk Mikenai keluar dari wilayah Yunani menuju bekas-bekas koloninya seperti di Asia Kecil yang merupakan wilayah bangsa Ionia, serta daerah-daerah sekitarnya.
Zaman Kegelapan Yunani (1100-800an SM)
Zaman Kegelapan Yunani merupakan periode dalam sejarah Yunani yang diawali sejak invasi Doria sampai munculnya negara-negara kota (polis) Yunani pada abad ke-9 SM. Invasi atau penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Doria berakibat buruk terhadap peradaban Mikenai. Sisa-sisa orang-orang Mikenai yang tetap tinggal di Yunani setelah invasi itu sulit mengorganisasikan diri. Mereka tinggal dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah satu sama lain tidak pernah bersatu. Tidak ada sekelas raja serta organisasi politik yang kuat dan mapan. Hasil temuan arkeologis misalnya, menunjukkan produksi tembikar sangat terokalisasi. Setiap desa atau kampung menghasilkan tembikar dengan gayanya sendiri-sendiri, itupun untuk dipakai sendiri, jarang tersebar melampai tempat tinggal mereka karena tidak ada aktivitas perdagangan. Motif tembikar pun nyaris tidak berubah dari waktu ke waktu. Perkembangan peradaban Mikenai pun terhenti, sementara itu tidak ada bangunan-bangunan besar dari batu seperti istana, kuil raksasa, monumen, yang muncul pada zaman ini. Hal ini merupakan akibat logis dari tidak adanya struktur kekuasaan politik dan keagamaan yang dapat diandalkan untuk menggerakkan proyek-proyek besar itu. Itulah alasan utama mengapa disebut dengan “zaman kegelapan”.

Zaman kegelapan dalam arti khusus menunjuk pada tidak adanya sumber-sumber tertulis yang dapat mengungkap kehidupan masyarakat pada masa ini. Selama masa ini berlangsung, kegiatan penulisan tidak menjadi perhatian penting. Oleh karena itu, tidak ada peninggalan tertulis yang dihasilkan selama periode ini. Hal ini menjadi sesuatu yang menyulitkan para sejarawan untuk mengetahui dan mempelajari situasi sosial-politik-ekonomi pada masa ini.
Peradaban Yunani (800-146 SM)\
2)    Periode Arkais (800an-500 SM)
Peradaban yang dikembangkan di Yunani sejak Periode Arkais itulah yang disebut Peradaban Yunani Kuno. Cakupan wilayahnya meliputi seluruh wilayah Yunani daratan, Cyprus, Kepulauan Aegia, serta sebagian wilayah Asia Kecil. Setelah lama meninggalkan tradisi tulisan, bangsa Yunani memakai serta memodifikasi alfabet Funisia sehingga lahirlah alfabet Yunani. Pengenalan baca-tulis menjadi fondasi yang kuat bagi pesatnya perkembangan peradaban Yunani. Filsafat, ilmu pasti, seni, ekonomi, politik, dan militer berkembang dengan cepat pada masa ini.
Tidak ada penguasa dominan sebagaimana terjadi pada periode kemudian. Tiap suku bangsa, komunitas, atau wilayah membentuk kelompok-kelompok kecil independen. Sesuai kondisi geografis wilayah Yunani yang bergunung-gunung, berbukit-bukit, serta berpulau-pulau, kelompok kecil itu hidup terpisah-pisah serta mengembangkan peradaban mereka sendiri, yang kelak berkembang dan disebut dengan negara kota atau polis.
Negara kota atau polis berkembang sekitar abad ke-7 SM. Sebuah polis dapat dihuni oleh seribu sampai puluhan ribu warga, dimana sistem pemerintahannya jauh lebih tertata, dimana kaum aristrokat menjadi pemegang kekuasaan di tiap-tiap negara kota. Beberapa negara kota itu adalah Athena, Sparta, Korinthos, dan Thebe. Tiap-tiap negara kota mempunyai ciri khasnya sendiri. Sparta berfokus pada pembangunan kekuatan militer, sementara Athena dan Korinthos berfokus pada pertanian, maritim, dan perdagangan.
Sparta melakukan berbagai ekspedisi militer ke negara-negara kota lain dan menjadikan warganya sebagai budak atau lazim disebut kaum helot. Semua lekaki termasuk laki-laki aristokrat Sparta wajib menjadi prajurit. Hal ini kemudian yang menjadikan Sparta negara yang kuat secara militer. Sementara itu, Athena tumbuh menjadi negara kota yang makmur dan kuat secara ekonomi dengan pertanian dan perdagangan yang menjadi aktivitas utama. Alhasil, Athena menguasai sebagian besar pesisir pantai Mediterania.
Athena mengalami krisis tanah dan pertanian pada akhir abad ke-7 SM yang memicu perang saudara. Berbagai perubahan mendasar dilakukan terhadap kode hukum Athena, namun gagal meredakan konflik. Pada akhirnya reformasi terjadi berkat Solon (594 SM), yang memperbanyak tanah untuk orang miskin namun tetap menempatkan kaum aristrokat sebagai pemegang kekuasaan. Reformasi ini cukup membuat Athena menjadi negara yang stabil.
Seiring dengan berjalannya waktu, kaum saudagar muncul sebagai penguasa baru mengalahkan kaum aristokrat. Walaupun mendapat sokongan rakyat atau populis, mereka tetap dianggap tidak sah. Dari sini muncul istilah tiran, kata bahasa Yunani tyrannos yang berarti penguasa tidak sah. Muncul beberapa kali saling serang antara Sparta dan Athena akibat dari penguasa tiran tersebut. Namun kemudian muncul tokoh nonaristokrat Kleisthenes yang tidak ingin Athena menjadi negara boneka Sparta. Untuk menggulingkan penguasa tiran pada masa itu, ia menggalang dukungan rakyat dengan komitmen bahwa setelah menjadi tiran ia akan menetapkan hak dan kewajiban politik yang sama bagi seluruh warga Athena. Alhasil, Isagoras terguling setelah dengan susah payah menangkis serangan dari Sparta, dan Athena pun menjadi negara kota pertama di dunia yang mengenal salah satu prinsip penting yakni demokrasi.
Kestabilan negara begitu penting bagi Athena sehingga para Arkhon berupaya agar tidak seorang pun warga negara berkonspirasi merongrong kekuasaan atau berkhianat terhadap negara. Untuk itu, Athena menerapkan sistem ostrasisme, dimana rakyat diminta untuk menulis sebuah nama di atas ostrakon atau pecahan tembikar dari orang-orang yang dianggap berbahaya bagi negara. Jika jumlah nama yang tercantum pada ostrakon lebih dari seperlima jumlah penduduk, maka si pemilik nama akan diberi hukuman dengan cara dibuang dari Athena selama sepuluh tahun.
Perbedaan kemajuan ekonomi serta cara menjalankan negara seperti diuraikan di atas kelak melahirkan perang antara dua negara kota terkemuka ini. Namun, sebelum perang itu terjadi sekitar tahun 449 SM, Athena dan Sparta sempat menikmati hubungan yang harmonis saat bersama-sama menghadapi invasi Persia di bawah Darius I sekitar tahun 490 SM, pada periode Yunani Klasik.

1)    Periode Yunani Klasik (500an-300 SM)
a)    Perang Yunani-Persia (492-449 SM)
Perang ini awalnya dipicu invasi Persia ke negara-negara kota di wilayah Ionia, wilayah Turki sekarang, sekitar tahun 547 SM di bawah rajanya Cyrus Agung atau Koresh Agung. Ionia berhasil ditundukkan lalu Persia mengangkat semacam penguasa boneka di Ionia yang bernama Aristagoras. Namun dengan dukungan dari negara kota Athena dan Eritrea yang merasa terancam dengan kehadiran Persia di wilayah Yunani, Aristagoras balik menyerang Persia dan mengobarkan Pertempuran Ionia, yang berlangsung tahun 499-493 SM. Persia menang, dan di bawah pimpinan Darius Agung, Persia menyerang Athena dan Eritrea dengan maksud menghukum kedua negara kota ini atas dukungan mereka atas Ionia sebelumnya. Persia kalah, namun putra Darius berusaha membalas kekalahan dengan mengirim pasukan yang lebih besar. Sadar akan kekuatan Persia, dua negara kota yang semula bersaing, Athena dan Sparta, membangun persekutuan. Gabungan kekuatan Athena-Sparta, dengan Athena mengerahkan kekuatan maritimnya dan Sparta kekuatan infantrinya, membuat Persia takluk dalam Pertempuran Platania pada tahun 479 SM.
Kendati menang, Athena bertekad membersihkan semua sisa pasukan dan pengaruh Persia di Yunani. Untuk itu, Athena membentuk persekutuan bersama di antara 150-173 negara kota Yunani lainnya, di bawah pimpinan Athena yang kemudian disebut dengan Liga Delos pada tahun 477 SM. Sekitar tahun 461-429 SM, Athena diperintahkan oleh seorang negarawan ulung yang bernama Pericles, yang memerintahkan untuk membangun kuil untuk Dewi Athena, yang disebut dengan Kuil Parthenon di atas puncak bukit berbatu di Acropolis.
b)    Perang Peloponessia (431-404 SM)
Perang Peloponnesia adalah perang antara Athena yang didukung Liga Delos dan Sparta yang didukung Liga Peloponnesia. Perang yang dimenangkan oleh Sparta ini diceritakan secara lengkap oleh jenderal dan sejarawan Athena, Thucydides, dalam mahakaryanya Sejarah Perang Peloponnesia. Latar belakang utama perang ini adalah ketakutan Sparta akan kekuasaan Athena yang tumbuh kuat dan baik secara ekonomi maupun militer (kekuatan maritim). Kekuasaan Athena bertambah kuat lagi setelah berhasil membentuk dan memimpin Liga Delos serta mengusir sisa sisa kekuatan dan pengaruh Persia di Yunani.
Perang ini dibagi dalam 3 fase utama, yakni: Perang Archidamia, Perdamaian Nicias, dan Perang Ionia. Perang Archidamia adalah invasi atas Attica, wilayah daratan Yunani yang dikuasai Athena, yang dibalas Athena dengan menyerang pesisir Peloponnesia. Perdamaian Nicias adalah genjatan senjata yang kemudian dilanggar oleh kedua negara. Sedangkan Perang Ionia adalah perang yang terjadi pada saat armada laut Athena berhasil dihancurkan di Laut Aegospotami, wilayah Ionia, pada tahun 405 SM oleh Sparta yang bersekutu dengan Persia. Pada tahun berikutnya Athena menyerah dan perang pun secara resmi berakhir.
Akhir dari Peloponnesia membawa perubahan mendasar terhadap pemerintahan di Yunani Kuno. Sebelum tahun 431 SM, Athena merupakan negara kota terkuat di Yunani, tetapi setelah perang zaman keemasan Athena ini berakhir dan Sparta muncul sebagai kekuatan utama. Dampak negatif perang secara ekonomi begitu terasa di seluruh wilayah Yunani, dan Athena tidak mampu memulihkannya kembali.
c)    Hegemoni Sparta (404an-323 SM) dan bangkitnya negara kota Macedonia
Pada abad ke-3, Yunani berada di bawah hegemoni Sparta. Namun, Sparta memiliki banyak kelemahan yang membuat kekuasaannya atas Yunani tidak dapat bertahan dalam kurun waktu satu abad. Pertama, wilayah kekuasaannya begitu luas, sementara kemampuan mengelolanya sangat terbatas. Sparta kemungkinan besar hanya unggul dalam bidang militer, namun lemah dalam hal tata kelola pemerintahan. Kedua, negara-negara kota taklukan Sparta termasuk Athena dan anggota-anggota Liga Delos tidak rela terus berada di bawah kekuasaanya sehingga mereka melakuka berbagai perlawanan. Sparta mengalami kekalahan ketika melawan negara kota Thebe, dan pada saat bersamaan negara kota Macedonia tumbuh dan berkembang dengan pesat di bawah Philippos. Philippos menyerang Kekaisaran Achaemenid di Persia, namun terbunuh. Putra Philippos bernama Alexander Agung melanjutkan perang dan berhasil mengalahkan Darius III dari Persia, menghancurkan Kekaisaran Achaemenid sepenuhnya, serta memasukkannya ke dalam Kekaisaran Macedonia. Ketika Alexander wafat pada tahun 323 SM, kekuasaan dan pengaruh Yunani berada pada puncaknya. Terjadi perubahan politik, sosial dan budaya yang mendasar. Yunani semakin menjauh dari polis (negara-kota) dan lebih berkembang menjadi kebudayaan Hellenistik. Pada masa Alexander Agung, hidup seorang filsuf terkenal bernama Aristoteles, dan Alexander Agung pernah menjadi muridnya selama beberapa tahun.
2)    Periode Yunani Hellenistik (323-146 SM)
Periode Hellenistik bermula dari tahun 323 SM, yang dimulai sejak berkuasanya Alexander Agung di Yunani dan berakhir dengan penaklukan Yunani oleh Republik Romawi pada 146 SM. Sebelum Periode Hellenistik, peran peradaban Yunani memang terlampau berkembang karena Alexander Agung melakukan percampuran atau perpaduan budaya, terutama antara budaya Yunani (Hellas), Mesir, dan Persia. Hasil percampuran ini menghasilkan apa yang disebut Kebudayaan Hellenistik. Tujuan dari perpaduan itu adalah untuk menjaga kesetiaan serta memperkuat persatuan anatara Yunani dan wilayah-wilayah yang didudukinya.
Kebudayaan Hellenistik berkembang meliputi wilayah yang sangat luas, terutama daerah-daerah yang dikuasai oleh Alexander Agung dan berkembang kira-kira enam abad lamanya. Pusat kebudayaan ini adalah Kota Alexandria (ibu kota Kerajaan Ptolemeus) dan Antiokia (ibu kota Kekaisaran Seleukia). Pada masa kekuasaan Romawi, bangsa Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani. Kebijakan ini tetap tidak berubah hingga munculnya agama Kristen, yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.

Peradaban Cina Kuno
Peradaban Cina Kuno berada di wilayah aliran sungai kuning (Hwang Ho). Penyebutan sungai kuning karena sungai ini membawa lumpur kuning dari pegunungan Kwen-Lun di Tibet. Kondisi sosila politik di Cina diwarnai dengan 2 bentuk pemerintahan yakni :
1.    Sistem Feodal yakni pada masa Dinasti Zhou dan Dinasti Shang
Pada sistem ini Kaisar tidak menangani langsung urusan kenegaraan karena kedudukan kaisar bersifat sakral. Kaisar merupak titisan dari dewa.
2.    Sistem Unitaris pada masa Dinasti Qin dan Dinasti Han
Pada sistem ini kaisar terlibat penuh dalam politik praktis dan berkuasa mutlak dalam pemerintahan.

A.    Dinasti Shang (1600-1045 SM)
    Sejarah tertulis Cina dimulai sejak dinasti Shang dibuktikan dengan ditemukannya cangkang kura-kura dengan tulisan pada bagian atasnya. wilayah dinasti ini berpusat di Lembah Sunga Huang - Ho, dekat kota Anyang. Hasil kebudayaannya berupa
1.    Artefak perunggu berupa guci, bagian dari kereta perang, dan senjata.
2.    Membuat kain sutera
3.    Sistem tulisan yang rumit
4.    Tulang ramalan yang ditemukan di situs Anyang
5.    Tulang ramalan ini berasal dari tulang belikat sapi jantan dna tempurung kura-kura atau penyu yang berisi tulisan-tulisan kemudian dibakar dan pola-pola retakan dipercaya sebagai pesan dari dunia roh. Hanya para pemuka agama yang dapat membacanya. Karakteristik pemerintahan pada dinasti ini bersita feudal bahwasannya urusan pemerintahan dilaksanakan oleh sekretariat negara dan departemen bagian hukum. Untuk urusan pada daerah akan dilakukan oleh para bangsawan yang tentu saja tetap diawasi oleh secretariat negara. Namun untuk kekuasaan militer dan pengadaan peralatan perang tetap ditangani langsung keluarga kerajaan. Pada masyarakt Cina juga mempercayai banyak dewa diantaranya dewa tertinggi adalah Shang Ti.Mereka juga percaya bahwa nenek moyang mereka, termasuk orang tua dan kakek-nenek mereka setelah meninggal akan menjadi seperti dewa pula dan layak disembah.
B.    Dinasti Qin (221-205 SM)
    Dinasti ini dimulai sejak seseorang yang bernama Yin Zhang berhasil menaklukan semua kerajaan atau suku bangsa yang ada di wilayah Cina. Zhao Zheng mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar dengan gelar “Shi Huang Ti “ atau “ Qin Shi Huang” yang berarti Kaisar pertama. Penyebutan nama Cina juga berasal dari Qin dengan memiliki karakteristik unitaris, pemerintah dijalankan secara terpusat dibawah kendali kaisar.
Pemerintahan pusat dijalankan oleh
1.    3 menteri utama (perdana menteri dan 2 wakil perdana menteri)
Perdana menteri menjalankan pemerintahan, sedangkan 2 wakil perdana menteri masing-masing bertugas sebagi pelaksana militer dan pemeriksa (kontrol pemerintahan)
2.    9 Menteri biasa
    Pemerintahan Shi Huang Ti selalu menghadapi ancaman dari luar. Dalam rangka mempertahankan wilayahnya dari serbuan bangsa-bangsa yang datang dari wilayah utara, Kaisar Shi Huang Ti memerintahkan membangun tembok besar sebagai benteng pertahanan. Tembok ini memiliki panjang 6.400 Km dengan lebar 8 m, tinggi 16 meter yang dikerjakan selama 18 abad dan baru selesai pada masa pemerintahan Dinasti Ming yaitu abad ke 4.
    Shi Huang Ti wafat pada 205 SM, ia dimakamkan di Xi’an, 933 km arat barat kota Beijing, makamnya “ dijaga” oleh ribuan tentara terakota. Shi Huang Ti menyakini ribuan tentara tersebut akan menjaga dan mengawal dia di alam baka. Dinasti hanya bertahan selama 37 tahun, sepeninggak Shi Huang Ti, dinasti dipimpin anaknya yang bernama Qin Er Shi. Namun pada pemerintahan ini banyak sekali terjadi pemberontakan. Tiap pemimpin wilayah (semacam negara bagian) mengklain dirinya sebagai kaisar dan tidak mau  tunduk kepada Qin Er Shi.
    Pada tahun 207 SM, pasukan dinasti Qin, dibawah pimpinan Zhang Han harus berhadapan dengan pasukan dari wilayah Chu yang dipimpin oleh Liang Bang dan Xiang Yu. akhirnya dimenangkan oleh pasukan Chu.
C.    Dinasti Han (206 SM - 220 M)
    Liu Bang ( Kaisar Gao ) akhirnya membunuh Xiang Yu pada perang Chu-Han. Ia mendirikan dinasti Han dengan membagi negara ke dalam beberapa negara bagian feodal dengan maksud memuaskan para pemimpin negeri yang bergabung dengannya saat perang Chu-Han, namun kemudian ia berhasil memusatkan kekuasaan sepenuhnya di tangan nya sendiri.
    Kebijakan yang dibuat oleh Kaisar Shi Huang Ti dilanjutkan pada masa Dinasti Han berkuasa. Wilayah Cina semakin bertambah luas, kekuasaannya meluas sampai ke daerah-daerah yang sekarang disebut dengan Korea, Vietnam, dan Asia Tengah. Hubungan perdagangan dengan negara-negara Barat, seperti bangsa Romawi mulai dibuka. Saudagar-saudagar Cina ini membawa barang dagangan, seperti kain sutra, sehingga jalur darat yang mereka lewati dikenal dengan jalur suter (the Silk Road). Pada masa  pemerintahan Han Wu Di, CIna berkembang dengan pesat dan mengalami zaman keemasan. Selain itu, pada asa dinasti Han ajaran Konfusius dan Taoisme berkembang pesat.
Ajaran para filsuf sebagai ilmu pengetahuan mulai berkembang pada masa dinasti Han, diantaranya adalah ajaran Lao  Tse, Kong Hu Cu (Konfucius), dan Meng Tse (Mencius) yang dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
1.    Lao Tse
Mengajarkan bahwa di dalam kehidupan terdapat semangat keadilan dan kesejahteraan yang bersifat abadi yang disebut dengan Tao. Ajaran Lao Tse lebih dikenal dengan ajaran  Taoisme. Inti ajarannya adalah agar manusia menyerah pada nasib. Tao dipercaya memiliki kekuatan untuk mengatur segalanya dan karenanya tujuan manusia hendaknya diselaraskan dengan Tao.
2.    Kong Hu Cu
Ajaran ini berkembang pada masa dinasti Han. Kong Hu Cu banyak mengatur tentang etika dalam keluarga dan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Manusia pada hakikatnya dapat diajari untuk menjadi warga masyarakat yang teratur, yang peduli sesama dan tidak sibuk untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Masyarakat merupakan kumpulan keluarga dengan ayah sebagi pemimpin sehingga anak-anak harus patuh dan menghormati ayahnya. Sementara itu, ayah berkewajiban untuk mnegurus anak-anaknya dengan baik.
Hubungan negara dengan rakyat oleh Kong Hu CU diibaratkan sebagai hubungan ayah dan anak di dalam keluarga. Raja adalah bapak dari rakyatnya sehingga seorang raja berkewajiban menyejahterakan dan melindunginya. Sebaliknya, rakyat harus hormat dan patuh kepada rajanya, sebagaimana sikap mereka terhadap ayahnya. ia juga mengajarkan agar orang tua dan kaum lanjut usia diperlakukan dengan penuh hormat dan pengertian.
3.    Meng Tse
Mencius adalah murid dari Kong Hu Cu, ada beberapa hal dari ajaran gurunya yang tidak disepakatinya. Meng Tse berpendapat bahwa ajaran sang guru lebih banyak memihak kaum bangsawan. Menurutnya, rakyat adalah unsure yang paling penting bagi sebuah negara sehingga raja sudah seharusnya untuk tidak bersikap sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Jika itu terjadi, raja harus diperingatkan, dan dapat dihukum dengan diturunkan dari takhtanya.
Hasil Budaya Cina yang banyak membawa pengaruh besar bagi bangsa-bangsa di dunia antara lain :
a)    Penggunaan kertas, tinta, dan mesin cetak
b)    Penggunaan pupuk dalam pertanian dan pengolahan industry tanaman kedelai (kecap, tahu, taoge), tebu menjadi gula dan cara penggilingannya banyak ditiru oleh bangsa-bangsa lain.
c)    Meramu obat-obatan untuk berbagai jenis penyakit dari bahan yang berasal dari tanaman (herbal), pengobatan alternatif dengan tusukan jarum seperti akupuntur dan pijatan juga masih dipraktikkan hingga kini.
d)    Wilayah Cina kaya akan barang tambang seperti besi, emas, dan tembaga sehingga mereka memiliki kemampuan dalam mengolah hasil tambang dengan menerapkan teknologi pengolahan logam. Hasil olahan ini kemudia dipasarkan oleh para pedagang Cina jauh dari tempat asalnya.
e)    Dalam seni bangunan, bangsa Cina juga sangat maju. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan Tembok Besar Cina dan kuil-kuil. Salah satu kuil yang terkenal adalah kuil dewa Beijing yang bagian dalamnya terbuat dari batu pualam.
f)    Pengetahuan astronomi
Cina mengenali empat masa pergantian musim sehingga pengetahuan tentang masa-masa pergantian musim melalui penanggalan menjadi pentin, terutama dalam kegiatan pertanian dan pelayaran. Astronomi kemudian berkembang menjadi astrologi yang banyak digunakan untuk ramalan-ramalan yang terkait dengan kehidupan manusia.
g)    Bangsa Cina juga mengembangkan gastronomi yaitu ilmu memasak makanan. Komposisi bumbunya yang sederhana dna rasanya yang enak membuat masakan Cina sangat terkenal di mana-mana hingga sekarang.
h)    Peradaban Cina memperkenalkan kita pada ilmu bela diri seperti kung fu. Bela diri berkembang saat dimulainya kegiatan perdagangan melalui jalur sutra. Selain penting bagi para pedagang untuk melindungi diri dan barang dagangan mereka dari perampokan atau serangan dari bangsa lain, seni bela diri juga dimaksudkan untuk melindungi pemerintah yang sedang berkuasa.
i)    Komoditas yang terkenal adalah kain sutera yang mulai dikenal pada masa kekuasaan Shi  Huang Ti dari Dinasti Qin.
j)    Seni lukis dan keramik Cina banyak digemari sampai sekarang, seni lukisnya lebih banyak bersifat dekoratif dan memiliki corak yang khusus dan menggunakna warna-warna yang tajam

Peradaban india kuno (peradaban lembah sungai indus 2800-185 sm)

a.    Kondisi geografis dan lingkungan alam
Peradaban lembah sungai indus, 2800 sm- 185 sm, merupakan peradaban kuno yang hidup sepanjang sungai indus dan sungai ghaggar-hakra yang sekarang merupakan wilayah pakistan dan india barat. Peradaban ini sering juga disebut sebagai peradaban harappa lembah indus, karena kota penggalian pertamanya disebut harappa, atau juga peradaban indus sarasvati karena sungai sarasvati yang mungkin kering pada akhir 1900 sm. Pemusatan terbesar dari lembah indus berada di timur indus, dekat wilayah di mana sungai sarasvati kuno pernah mengalir
Penemuan peradaban india kuno atau peradaban lembah sungai indus atau peradaban harappa berawal dari adanya pembangunan jalan kereta api dari karachi menuju punjab, yang dilakukan oleh bangsa inggris pada sekitar abad ke-19. Temuan sejumlah artefak kuno, seperti material dari tanah liat yang memuat tulisan pendek dengan huruf piktograf, periuk belangga dari perunggu, dan berbagai piala yang terbuat dari emas, perak, timah hitam, tembaga dan perunggu menarik perhatian jenderal cunningham yanng memimpin pembangunan tersebut. Penemuan artefak ini selanjutnya dieksplorasi oleh bangsa inggris dan melibatkan arkeolog sir hubert marshall, yang kemudian menemukan reruntuhan baru bata bekas sebuah bangunan dari sebuah kota kuno. Ditemukan dua bekas kota kuno harappa dari harappa dan mohenjodaro yang masing-masing terletak di punjabi dan provinsi sindu di pakistan. Diperkirakan bangunan kota kuno ini dibangun oleh penduduk asli india, yaitu bangsa dravida yang termasuk ras austroloid.
b.    Kondisi sosial-politik
Peradaban lembah sungai indus terbentuk sejak sekitar tahun 2800 sm. Mata pencaharian masyarakatnya adalah pertanian, dengan tanaman utama padi, gandum, dan sejenisnya. Hal itu dimungkinkan karena wilayah tempat mereka dekat dengan sungai yang besar, sungai Indus. Mereka juga berternak sapi, kerbau, dan babi.
Sekitar tahun 2600 sm komunitas awal lembah sungai indus telah berkembang menjadi pusat-pusat kota yang besar. Kota-kota itu di antaranya harappa, generiwala, mohenjo-daro (pakistan sekarang), dan dholavira, kalibangan, rakhigarkhi, rupar, dan lothal (india sekarang).
Kota mohenjo-daro, misalnya, diperkirakan didiami oleh sekitar 35.000 penduduk. Sementara itu, harappa berada sekitar 565 km ke arah utara lembah sungai indus. Hasil ekskavasi terhadap bekas-bekas kota tersebut memperlihatkan adanya tata kota yang rapi yang melibatkan proses perencanaan yang baik serta pemerintahan yang efesien yang mengutamakan kualitas kesehatan warga serta kemudahan warga untuk mengikuti ritual-ritual keagamaan. Adanya perencanaan tampak pada arsitektur yang maju sebagaimana terlihat pada pusat galangan kapal, lumbung, atau balai, gudang panggung atau podium dari batu-bata, waduk, serta dinding-dinding kota (baca historia). Secara khusus  di kota harappa, mohenjo-daro, dan rakhigarkhi, perencanaan kota itu termasuk adanya sistem sanitasi kota-kemungkinan besar merupakan sistem sanitasi pertama di dunia- dan pengguanaan teknik hidrolis untuk mendapatkan air dari sumur. Bagian dari sistem sanitasi itu adalah adanya penggunaan toilet siram (flush toilet) dan sisa-sisa air dari kamar mandi dan toilet dialirkan melalui pipa untuk dibuang ke selokan-selokan pembuangan yang tertutup di sepanjang jalan utama. Sebagian besar rumah memiliki sumur tersendiri. Sistem pembuangan dan drainase lembah sungai indus bahkan dikatakan jauh lebih maju dibandingkan temuan di situs-situs kuno di timur tengah.
Di dekat lumbung atau balai ada sebuah bangunan publik yang pernah berfungsi sebagai permandian umum besar (great bath), dengan tangga yang turun ke arah kolam berlapis bata di dalam lapangan berderetkan tiang. Wilayah permandian berhias ini dibangun dengan baik, dengan lapisan tar alami di samping kolam di tengah-tengah untuk mencegah kebocoran. Kolam berukuran 12mx7m, dengan kedalaman 2,4 m ini dibangun kemungkinan untuk kepentingan upacara keagaman.
Tentang pemerintahan di kedua kota utama itu, mohenjo daro dan harappa, tidak ada penjelasan yang pasti. Dilihat dari bekas-bekas reruntuhan kota serta kesamaan artefak yang tersebar di kedua wilayah kota itu seperti tembikar, stempel, timbangan, dan batu-bata, sebagian arkeolog memperkirakan mohenjo-daro daan harappa berada di satu otoritas atau pemerintahan. Tata letak kota memperlihatkan ada dua wilayah pemukiman, yaitu wilayah administratif dan wilayah kota. Wilayah administratif adalah wilayah pemukiman orang biasa; wilayah kota adalah wilayah pusat pemerintahan, yang dihuni raja dan para bangsawan. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kedua pemukiman ini diberi batas tembok yang tinggi, yang dilengkapi menara dan sistem saluran air yang tertutup. Namun, sebagian arkeolog juga tidak menampik adanya kemungkinan lain, yaitu tidak ada penguasa sama seklai, dan setiap orang menikmati status sosial yang sama.
Selanjutnya, seperti halnya perkembangan peradaban-peradaban lain di dunia, india kuno juga mengalami perkembangan dalam beberapa periodesasi penting. Setelah kedua kota kuno ini mengalami kehancuran, muncul kembali kota-kota baru di wilayah yang lebih kecil, yaitu lembah sungai gangga, antara lain anga, kosala, magada, dan chedi.
Kota ini diperikirakan hancur pada sekitar 1750 sm. Ada dua hipotesis utama hancurnya peradaban ini; akibat adanya pergeseran aliran sungai yang merusak lahan pertanian dan kemudian ditinggalkan para penghuninya; kedua, adanya pendudukan oleh bangsa arya yang masuk ke wilayah tersebut dari asia engah; pendudukan itu tidak menghancurkan penduduk asli. Hipotesis kedua umumnya lebih populer dibandingkan hipotesis pertama. Konon akibat pendudukan tersebut, sebagian penduduk indus menyingkir ke dataran tinggi dekkan, sebagian lagi membaur dengan bangsa arya.
Penduduk asli mohenjo-daro dan harappa kemudian membaur dengan bangsa-bangsa yang datang dari asia tengah, yaitu bangsa arya. Bangsa arya termasuk bangsa indo-jerman yang masuk ke india melalui celah khaiber pada sekitar tahun 2000-1500 sm. Pada masa ini, india disebut masuk zaman weda (1800-600 sm). Mereka termasuk bangsa peternak yang hidup nomaden, dan membawa empat buku suci yang disebut weda. Percampuran budaya yang terjadi antara bangsa dravida sebagai bangsa yang ditaklukan dan bangsa arya ini membentuk tradisi baru yang kemudian menjadi dasar-dasar dari agama hindu (baca historia).
Dilandasi keinginan bangsa arya untuk menjaga kemurnian keturunan mereka, diciptakanlah sistem kasta atau pembagian kelas di dalam masyarakat campuran ini. Kasta ini bersifat eksklusif (tertutup). Ada empat kasta, yaitu:
1.    Brahmana, diperuntukan bagi para pendeta dan pemuka agama
2.    Ksatria, kasta bagi para raja dan bangsawan lainnya
3.    Waisa, bagi para pedagang dan pegawai, dan
4.    Sudra diperuntukan bagi rakyat biasa

Pada akhir zaman weda (sekitar 1000 sm), kota-kota ini telah menjadi daerah yang kaya.
Pada zaman brahmana (1000-750 sm), lahir kitab brahmana yang ditulis oleh kaum brahmana, menggunakan huruf pallawa dengan bahasa sansekerta. Sebagaimana nama periodenya, pada masa ini kekuasaan kaum brahmana sangat besar dalam kehidupan keagamaan. Kitab brahmana umumnya mengatur tata cara kehidupan keagamaan.
Pada zaman upanisad (750-500 sm), yang dipentingkan tidak hanya upacara dan sesaji, tetapi lebih dari itu, pengetahuan batin yang lebih tinggi. Zaman ini adalah zaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu zaman orang berfilsafat atas dasar weda.
Pada tahun 500 sm lahir agama buddha, atau disebut zaman buddha (500-300 sm). Zaman ini dimulai ketika putra raja sudhodana bernama sidharta menafsirkan weda dari sudut logika serta mengembangkan sistem yoga dan semadhi sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada tuhan.
Pada zaman buddha inilah lahir dan berkembangnya kekaisaran maurya (322-185 sm) yang bercorak buddha. Kekaisaran ini berawal dari adanya pemberontakan di punjab, yang berada di wilayah india barat laut dan pakistan pada tahun 322 sm terhadap kekuasaan dari gubernur yang bernama selusius, yang ditunjuk oleh alexander agung dari makedonia untuk menjadi penguasa di wilayah tersebut. Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang bangsawan bernama candragupta maurya, yang menginginkan persatuan sekaligus bertekad membangun bangsa india. Candragupta berhasil menyatukan wilayah india bagian utara dan membangun kekaisaran maurya. Ia menjadi kaisarnya yang pertama. Pemerintahannya dikenal sangat baik. Ia membangun kota pataliputra dan menjadikannya ibukota kerajaan.
Putranya kemudian berhasil memperluas kekaisaran ke wilayah india selatan, dan disusul oleh cucunya bernama ashoka, yang berhasil mengalahkan kalingga (256 sm). Ketika ashoka menjadi kaisar, kekuasaan dinasti maurya semakin luas, meliputi sebagian besar pakistan dan afganistan sekarang. Ashoka adalah pemeluk agama buddha. Ia menyebarkan agama buddha hingga ke srilangka dan memerintah dengan sangat adil. Dinasti maurya kemudian digantikan oleh dinasti gupta yang lahir pada sekitar abad ke-4 m. Pada masa dinasti ini, terutama pada masa chandra gupta II (376-415 m), india mengalami masa keemasan, bahkan dianggap sebagai negara teruat di asia itu hingga masa akhir kejayaannya pada tahun 600 m.
Dalam perkembangannya kemudian agama buddha terbagi dalam dua aliran, yaitu buddha mahayana atau kendaraan besar yang lebih kompleks, dan buddhha hinayana atau kendaraan kecil yang lebih sederhana. Kitab suci agama buddhha, yang meliputi: winayapitaka yang berisi tentang aturan dan cara-cara hidup pengikutnya, suttapitaka, berisi kumpulan wejangan buddha, abidharmapitaka, berisi penjelasan-penjelasan tentang soal-soal keagamaan.
c.    Sistem kepercayaan dan religi
Beberapa cap atau stempel peradaban indus memperlihatkan adanya swastika, yang lazim terdapat pula pada agama-agama lain yang berkembang kemudian seperti hindu, buddha, dan jaina (agama dharma). Banyak stempel bergambar binatang. Sebuah mtif menunjukan arca bertanduk duduk dalam posisi lotus-duduk dengan posisi bersila dengan kedua kaki saling menyilang- dan dikelilingi binatang-binatang, yang oleh para penggali situs kuno ini diberi nama pashupati (dewa pengendali dan pemelihara semua binatang piaraan), suatu julukan untuk kedua dewa hindu kemudian: shiva dan rudra. Dengan demikian, bukti paling awal unsur-unsur hinduisme telah ada sesudah dan selam periode awal peradaban ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, ketika agama hindu semakin berkembang dan mapan (established) kepercayaan kepada para dewa-dewi semakin terlembagakan. Perkembangan pesat agama hindu terjadi terutama sejak zaman weda. Sejak masa ini orang-orang india menyembah dewa-dewi seperti agni, varuna, vayu, siwa, dan sebagainya. Dewa tertinggi yang diyakini sebagai penguasa alam semesta disebut trimurti, yang terdiri dari brahma (pencipta alam), wisnu (pemelihara alam), dan siwa (dewa perusak dan dewa kematian). Walaupun dewa-dewi itu banyak, semuanya merupakan manifestasi atau perwujudan dari tuhan yang yang disebut brahman. Jadi, agama hindu adalah agama monoteistis, bukan politeistis.
d.    Hasil-hasil budaya dan peradaban india kuno
1.    Teknologi
Orang-orang di lembah sungai indus telah mengenal pengukuran jarak, massa, dan waktu dengan tingkat ketepatan atau akurasi yang tinggi. Mereka termasuk bangsa pertama yang mengembangkan sistem timbangan dan ukuran yang seragam.
Mereka juga mengambangkan beberapa teknik baru dalam metalurgi serta memproduksi tembaga, perunggu, dan timah. Para insiyur mereka terkenal mampu membuat dok atau galangan kapal.
2.    Seni dan kerajinan
Beragam ukiran, stempel atau cap, tembikar, perhiasan dari emas, dan arca yang diukir dengan detail yang rapi, perunggu, serta benda-benda yang ditemukan di tempat-tempat ekskavasi.
    Beberapa arca perempuan sedang menari, yang terbuat baik dari emas ataupun, memperlihatkan tari-tarian telah dikenal pada masa kini. Selain berbentuk terakota, patung-patung bintang seperti sapi, burung, monyet, dan anjing ditemukan dalam berbagai cap atau stempel mereka. Ada juga patung sebagian zebra dan sebagian sapi dengan tanduk yang sangat megah, yang kemungkinan dipakai untuk tujuan keagamaan.
3.    Tulisan
Pada lempengan-lempengan kecil dari tanah liat, cap atau stempel, pot-pot keramik, serta belasan material lain ditemukan sekitar 400 ampai 600 simbol khas peradaban indus. Penjang inskripsi khas indus tidak lebih dari lima karakter, sebagian besar di antaranya berukuran kecil. Paling panjang pada bidang tunggal terdiri dari 17 tanda (2.54 cm)
Dalam perkembangan selanjutnya, india mengenal huruf pallawa. Huruf inilah yang dibawa orang-orang india ke nusantara sekitar abad ke-5 m sekaligus berjasa membawa nusantara memasuki masa sejarah.

Peradaban Amerika Kuno (Maya, Aztek dan Inca)
    Ketiga peradaban ini berkembang di Benua Amerika tidak dalam waktu yang bersamaan. Berbeda dengan peradaban-peradaban pendahulunya di Asia, Afrika dan Eropa, peradaban – peradaban di Amerika tidak terlalu banyak meninggalkan bukti-bukti arkeologis dan catatan tertulis. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya serangan dari bangsa lain yang sengaja menghancurkan hasil-hasil budaya mereka. Pada sekitar tahun 5000 – 1200 SM, pertanian diperkirakan telah berkembang di Meksiko. Pertanian juga muncul di Amerika Utara arah barat daya, kemudian di pemukiman yang didirikan di wilayah Arktika – Kanada dan di kepulauan Beiring. Manusia praaksara diperkirakan telah mendiami wilayah ini sejak 8000 tahun SM. Namun, kebudayaan yang dianggap maju baru ditemukan pada sekitar 2000 tahun SM. Mereka tinggal menetap sampai di wilayah Greenland di sebelah timur yang saat itu pecah menjadi beberapa sub kebudayaan termasuk diantaranya kebudayaan Inuit (orang-orang Eropa menyebutnya bangsa Eskimo).
    Sejak 6000 tahun SM, terdapat kelompok Andes di Amerika Selatan. Sementara itu pada sekitar 5300 SM, di Peru banyak penduduk menetap serta menguasai cara-cara mendirikan bangunan dan membuat perhiasan. Hal ini dibuktikan dengan bekas-bekas penambangan batu di pegunungan Andes serta hasil-hasil bangunan dan perhiasan mereka. Sekitar tahun 1800 SM, diperkirakan telah dibangun pusat ritual keagamaan berupa piramida raksasa di El Pariso, dekat Kota Lima demikian juga di Peru dan Meksiko. Pada tahun 1200 – 500 SM, muncul dua peradaban besar di Amerika Selatan, di wilayah Andes tengah yaitu peradaban Chavin. Manusia pendukung peradaban ini telah membangun pusat upacara bagi dewa-dewa di Chavin de Huantar. Peradaban lainnya adalah peradaban Omlek di Meksiko tengah. Bangsa Omlek dikenal sebagai bangsa yang memiliki cita rasa seni yang tinggi, dan bertahan selama 600 tahun. Selain itu ada juga kebudayaan Chachapoyas. Orang-orang Chachapoyas adalah orang-orang Andes yang hidup di hutan-hutan berkabut di wilayah Amazon di Peru. Meski tidak ada bukti arkeologis bahwa orang sudah mulai tinggal di wilayah ini pada 200 tahun SM atau lebih awal lagi, kebudayaan Chachapoyas diperkirakan berkembang sekitar tahun 750 – 800 SM. Pusat-pusat kota yang utama, seperti Kuelap dan Gran Pajaten membangun benteng pertahanan untuk mencegah serangan bangsa Huari. Bangsa Inca menghancurkan kebudayaan mereka (Chachapoyas) tidak lama sebelum bangsa Spanyol tiba di Peru pada abad ke-16 M.
    Pada tahun 500 SM – 1 M, tradisi pertanian baru muncul di Amerika Utara, yaitu di sepanjang lembah sungai Ohio, yang dikembangkan oleh bangsa Adena. Sementara itu di Peru berkembang kebudayaan Parakas, yang pendukung kebudayaannya dikenal sebagai penyulam-penyulam yang andal, dari kain-kain yang mereka buat yang baru ditemukan 2.000 tahun sesudahnya, diketahui ternyata mereka buat memilki corak dengan bentuk manusia, burung, kucing, rubah, wajah yang menakutkan. Bangsa ini juga sudah mengenal cara mengawetkan jenazah dengan cara diasap hingga kering.

a.    Peradaban Maya (300 SM – 1500 M)
1.    Wilayah geografis
Bangsa Maya menempati wilayah meksiko tengah. Mereka terkenal sebagai bangsa yang cerdas karena telah dapat menciptakan sistem pemerintahan yang terorganisasi dengan baik. Kekaisaran Maya pada masa kejayaannya (250-900 M) membentang dari utara, yaitu semenanjung Yukatan di Meksiko, sampai di Peten, Guatemala. Kekaisaran Maya mencakup banyak negara merdeka seperti Palenque, Copan, Tikal, Chichen, Itza dan Uxmal.
2.    Kondisi sosial-politik
Tidak banyak yang dapat diceritakan tentang sistem pemerintahan dan struktur sosial bangsa Maya selain bahwa mereka dianggap sebagai bangsa yang telah mampu menciptakan pemerintahan dengan sistem kekaisaran. Setiap kota yang berada dalam wilayah kekuasaannya selalu memiliki pemimpin sendiri. Mereka juga mendirikan tempat pemujaan bagi para dewa, persembahan kurban manusia Manusia merupakan bagian dari ritualnya. Tak jarang, manusia yang dikurbankan itu dimakamkan dalam kuil tersebut yang umumnya berbentuk mirip piramida di Mesir. Diperkirakan pada sekitar tahun 3 SM – 800 M, bangsa ini telah mampu membangun kota lengkap dengan kuil-kuil, piramida, istana, lapangan bola, tempat pertemuan.mereka juga mengandalkan pertanian untuk konsumsi sehari-hari terutama jagung yang menjadi makanan pokok mereka.
Sekian postingan Awal Peradaban Dunia, Sejarah Peminatan kd 3.11 silakan yang mau berdiskusi dan sampai jumpa di postingan berikutnya.😃😀😉😃

0 Response to "Awal Peradaban Dunia | Sejarah Peminatan kd 3.11"

Post a Comment

wajib meninggalkan komentar yang positif....thanls sudah mengunjungi blog kami

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...